Minggu 20 Maret 2022, 23:29 WIB

Banjir Dan Tanah Longsor Mendominasi Bencana Alam Di Kota Sukabumi

Benny Bastiandy | Nusantara
Banjir Dan Tanah Longsor Mendominasi Bencana Alam Di Kota Sukabumi

Medcom
Ilustrasi

 

TREN bencana di Kota Sukabumi, Jawa Barat, kurun 3 bulan terakhir didominasi banjir dan tanah longsor. Intensitas curah hujan tinggi menjadi pemicunya.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Sukabumi, Zulkarnain Barhami, menuturkan selama periode Januari-Maret terjadi 54 kali bencana yang didominasi hidrometeorologi. Jenis bencananya terdiri dari banjir, puting beliung, cuaca ekstrem, kebakaran, dan tanah longsor.

"Data ini berdasarkan hasil rekap melalui Sistem Informasi Elektronik Data Bencana atau disebut Si Edan. Ada 54 bencana yang mana didominasi banjir serta tanah longsor," kata Zulkarnain, Minggu (20/3).

Data Si Edan, kata Zulkarnain, banjir terjadi 22 kali, tanah longsor 13 kali, dan cuaca ekstrem sebanyak 9 kali. Teranyar bencana hidrometeorologi terjadi pada 14 Maret 2022.

Saat itu terjadi 7 titik banjir serta 4 titik tanah longsor di beberapa kecamatan. Pun pada Rabu (16/3), di Kota Sukabumi terjadi getaran gempa yang dirasakan di 7 kecamatan. "Pada periode Januari-Maret tahun ini, wilayah yang cukup banyak terdampak bencana berada di Kecamatan Cikole," sebutnya.

Dari 54 kali kejadian bencana, sebut Zulkarnain, nilai kerugian materil ditaksir mencapai Rp6,2 miliar. Nilai kerugian terbesar terjadi saat bencana banjir dan tanah longsor pada 17 Februari 2022.

Data yang dihimpun BPBD Kota Sukabumi, bencana terjadi di 24 kelurahan di 7 kecamatan. Jumlah warga yang terdampak pada peristiwa tersebut sebanyak 838 kepala keluarga atau 2.867 jiwa. Terdapat sebanyak 499 unit rumah rusak ringan, 235 unit rumah rusak sedang, serta 105 unit rumah rusak berat.

Rinciannya, di Kecamatan Baros terdapat 324 kepala keluarga atau 1.057 jiwa. Sebanyak 118 unit rumah rusak ringan, 139 unit rusak sedang, dan 68 unit rusak berat. Di Kecamatan Cikole terdapat 118 kepala keluarga atau 415 jiwa dengan jumlah rumah sebanyak 107 unit rusak ringan, 6 rusak sedang, dan 4 rusak berat. Di Kecamatan Citamiang sebanyak 4 kepala keluarga atau 16 jiwa terdampak. Terdapat 4 unit rumah rusak berat.

Sementara di Kecamatan Cibeureum terdapat 246 kepala keluarga atau 847 jiwa dengan jumlah rumah rusak ringan sebanyak 152 unit, rusak sedang 73 unit, dan rusak berat 20 unit. Di Kecamatan Lembursitu terdapat 46 kepala keluarga atau 164 jiwa dengan jumlah rusak ringan sebanyak 40 unit, rusak sedang 3 unit, dan rusak berat 5 unit.

Di Kecamatan Gunungpuyuh terdapat 19 kepala keluarga atau 53 jiwa yang terdampak dengan jumlah rusak ringan sebanyak 14 unit dan rusak sedang 5 unit. Sedangkan di Kecamatan Warudoyong terdapat 81 kepala keluarga atau 305 jiwa dengan jumlah rumah rusak ringan sebanyak 68 unit, 9 rusak sedang, dan 4 rusak berat.

Banjir dan tanah longsor juga berdampak terhadap 51 tempat ibadah, dua sarana pendidikan, dan 2 sarana kesehatan yang mengalami kerusakan. "Kami masih siap siaga karena diprediksi curah hujan masih akan terjadi," pungkasnya. (OL-15)

 

Baca Juga

Antara

Peternak Apresiasi Langkah Pemerintah Ganti Ternak yang terkena PMK

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 20:38 WIB
"Saya menyambut baik jika ada program pemerintah mengganti hewan ternak milik petani yang mati karena...
Antara

Pemkab Garut Siapkan Kompensasi Peternak yang Terdampak PMK

👤Kristiadi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 19:59 WIB
Hingga saat ini, terdapat 3.425 ekor ternak bergejala PMK, yang tersebar di 21 kecamatan wilayah Garut. Pemkab terus melakukan pendataan...
Antara

Sleman Mulai Vaksinasi PMK untuk Sapi Perah 

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 19:46 WIB
Adapun vaksinasi PMK diprioritaskan untuk sapi perah. Pasalnya, masa hidup sapi perah lebih lama daripada sapi potong. Serta, menghasilkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya