Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
JUMLAH pasien demam berdarah dengeu (DBD) di Kabupaten Kudus alami lonjakan drastis, pasien umumnya anak-anak. Rumah Sakit Aisyiyah Kudus harus menambah ruangan bangsal pasien DBD pada anak-anak. Sementara Rumah Sakit Mardihayu Kudus mencatat terdapat empat anak meninggal karena DBD.
Direktur Rumah Sakit Aisyiyah Kudus dr. Hilal Ariyadi mengatakan, lonjakan kasus DBD di rumah sakitnya terjadi sejak memasuki musim penghujan. Dari data rumah sakit hingga pertengahan bulan Januari tahun 2022 tercatat ada 45 pasien, sementara selama bulan Januari tahun 2021 tercatat hanya 32 kasus DBD.
"Kasus DBD didominasi pada kasus anak-anak," kata dr. Hilal Ariyadi, kemarin (17/1/2022).
Dalam kurun waktu dua bulan terakhir Desember 2021 dan pertengah Januari ini tercatat mencapai ada 145 kasus DBD. Dimana 110 kasus tersebut adalah pasien anak-anak. Dari kasus tersebut, piahk rumah sakit harus menambah bangsal dewasa untuk pasien anak-anak.
Menurut orang tua pasien Nadia mengaku jika anaknya yang duduk di bangkus kelas 5 sekolah dasar masuk Rumah Sakit Aisyiyah Kudus sejak hari minggu (16/1) kemarin. Awalnya panas dan trombositnya turun, mengingat adanya gejala DBD dirinya langsung membawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.
"Kebetulan ada tetangga, temen bermain temen sekolah juga. Terus kebetulan kampong sebelah juga ada kasus DBD," katanya.
Kini kondisi anaknya berangsur membaik. Paska adanya kasus DBD yang menimpa anaknya dan temen di lingkungan sekitar, pihaknya sudah melaporkan kasus tersebut ke Pemerintah Desa agar dapat ditindaklanjuti.
Terpisah, Rumah Sakit Mardirahayu Kudus juga alami lonjakan kasus DBD sejak pertengahan tahun 2021 kemarin. Direktur RS. Mardirahayu Kudus dr. Pujianto menyebut, sejak Desember 2021 hingga pertengahan Januari 2022 terdapat 289 pasien DBD. Dimana 195 kasus DBD berada di bulan Desember, 70 persen didominasi kasus DBD pada anak.
"Bulan ini sampai pertengahan Januari ada 94 kasus. Kalau selama bulan Januari tahun 2021 data kami itu ada 64," jelasnya.
Hingga kini pihak Rumah Sakit Mardirahayu Kudus mencatat terdapat 4 kasus kematian akibat DBD. Dimana 3 kasus berada di bulan Desember 2021, sementara 1 kasus di bulan Januari 2022. Menurut pihak rumah sakit selain dari Kudus pasien DBD juga berasal dari Kabupaten Demak dan Kabupaten Grobogan. "Sebagaian besar umurnya (kematian DBD) dibawah 14 tahun," ungkap dr. Pujianto.
Pihak rumah sakit menambahkan untuk tren kenaikan kasus DBD di kabupaten kudus tahun ini mengalami kenaikan yang sangat drastis. Hal itu berkaca dari data tahun kemarin dengan periode yang sama rata rata alami kenaikan 100 hingga 200 persen. Kasus demam berdarah dikawatirkan akan terus merangkak naik bersamaan dengan tingginya musim penghujan.
Meksipun saat ini sudah ditemukan anak yang meninggal dunia karena DBD, namun pihak Pemerintah Kabupaten Kudus belum mengeluarkan Kejadian Luar Biasa (KLB). (OL-13)
Baca Juga: Siswa SD di Tasikmlaya Meninggal Usai Divaksin, Dinkes Sebut karena DBD
Pasar Dandangan berlangsung selama 10 hari jelang Ramadan menjadi sarana penting untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
BPBD Kudus mengatakan longsor terjadi di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog tersebut karena intensitas hujan yang sangat lebat.
Banjir akibat cuaca ekstrem di Kudus merendam 5.596 rumah dan 1.970 hektare sawah serta berdampak pada 43.479 jiwa.
Jumlah warga terdampak banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terus bertambah.
Kasus asusila yang terjadi di RSUD dr Loekmono Hadi Kudus menjadi pembicaraan netizen setelah video yang diambil dari rekaman CCTV di rumah sakit plat merah itu viral.
Keterbatasan akses air bersih masih menjadi persoalan mendasar di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di daerah dengan kepadatan penduduk tinggi dan kualitas sumber air yang menurun.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved