Minggu 16 Januari 2022, 12:05 WIB

Divonis Jantung Bocor, Nela Bertahan Hidup dengan Mengandalkan Obat

Gabriel Langga | Nusantara
Divonis Jantung Bocor, Nela Bertahan Hidup dengan Mengandalkan Obat

Mi/Gabriel Langga
Nela bersama orangtuanya di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.

 

NASIB malang dialami Sitinur Akifa Nela, warga Bebeng, RT 031 RW 006, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gadis cilik berusia 8 tahun ini tiap harinya harus mengonsumsi obat-obatan agar bisa bertahan hidup. Hal itu karena ia divonis menderita penyakit jantung bocor sejak lahir.

Dalam aktivitas kesehariannya, anak ketiga dari dua bersaudara itu tidak bisa bermain seperti anak lainnya, karena ia tidak boleh kelelahan.

Jika terlalu lelah, Nela, panggilannya, akan merasakan sakit yang luar biasa pada bagian dadanya dan juga seluruh badannya akan berwarna biru. 

Baca juga: Peserta Vaksin Lansia di Sikka Dapat Fasilitas Antar Jemput dan Beras

Ditambah lagi, seluruh kuku tangan dan kakinya mengalami kelainan. Sehingga, jalan satu-satunya untuk obati rasa sakitnya dengan mengonsumsi obat.

 Untuk itu, Nela hanya berada di dalam rumahnya setiap harinya.

Kondisi ekonomi keluarga Nela pun masuk dalam kategori warga kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai nelayan dan sang ibu hanya pekerja harian. 

Agar Nela bisa bertahan hidup, kedua orangtuanya pun harus bekerja ekstra agar bisa membeli obat. Harga obat yag dikonsumsi Nela pun tidak murah. Sekali beli obat, orangtua Nela harus mengeluarkan uang sebesar Rp400.000. Nela pun harus konsumsi obat setiap harinya sejak berumur tiga tahun hingga sekarang.

Kepada mediaindonesia.com, Minggu (16/1), ibunda Nela, Mentari Febrianti mengatakan ia baru mengetahui anak divonis penyakit jantung bocor saat melakukan pemeriksaan di dokter. Kala itu, nela yang berusia dua dua tahun sering mengeluh sesak napas. Kemudian, ia membawa anaknya untuk diperiksa.

"Saat diperiksa di dokter baru ketahuan. Dokter vonis anak saya menderita bocor jantung sejak lahir. Ditambah lagi, paru-paru dan pembuangan saluran anak saya infeksi," ujar dia.

Sejak divonis jantung bocor, ia pun mengaku anaknya tergantung terhadap obat yang dibeli di apotik. 

"Kita pergi ke rumah sakit, mereka kasih obat begitu-begitu saja. Kalau obat tidak ada, mau tidak mau kita harus beli obat di luar dengan harga Rp400.000. Jadi anak saya tergantung dari obat saja sekarang" papar dia.

Ia pun mengaku telah disarankan dokter agar anaknya dioperasi. Namun ada beberapa pertimbangan yakni ayah dari Nela masih trauma karena ada kejadian anak tetangga yang menderita penyakit jantung bocor meninggal dunia setelah dioperasi. 

Selain itu, kata dia, pihaknya masih kendala biaya operasi. Hal itu karena mereka tidak memiliki BPJS.

"Kita kendala biaya untuk beroperasi. Kan operasi ini butuh biaya besar. Kami tidak punya kartu BPJS. Ditambah lagi ayahnya masih trauma. Jadi sekarang anak kami hanya ketergantungan terhadap obat. Anak saya konsumsi obat dari usia tiga tahun sampai sekarang sudah usia delapan tahun," ucapnya.

Sehingga kata dia, dirinya harus bekerja keras untuk bersihkan gurita milik tetangga agar bisa dapat uang untuk belikan anaknya obat. 

"Kalau gurita tidak masuk berarti, kami tidak kerja. Mau tidak mau, saya harus ambil ikan orang untuk dijual biar bisa dapatkan uang agar bisa beli obat untuk anak saya," ungkap dia.

Mentari mengaku meski anaknya divonis penyakit jantung bocor, dirinya tetap menyekolahkan anaknya yang saat ini berada di bangku SD kelas satu. 

"Kalau perlakuan di sekolah anak saya diperhatikan istimewa. Kalau kecapaian, ibu gurunya  suruh berhenti. Kalau jam olahraga, anak saya tidak olahraga," pungkas dia (OL-1) 

Baca Juga

dok.Ist

Jawara Sumedang Dukung Sandiaga Jadi Presiden

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 23:28 WIB
PARA relawan Jaringan Wanita Nusantara (Jawara) Sandi Uno memberikan pelatihan budidaya tambak ikan di Waduk Jatigede, Desa Tarjunajaya...
Dok. PT SIS

Maksimalkan Potensi Bahari, Suzuki Marine Resmikan DIler Baru di Makassar

👤Ihfa Firdausya 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:37 WIB
“Sulawesi Selatan adalah salah satu daerah yang memiliki potensi bahari yang besar. Untuk memaksimalkan potensi tersebut, kami hadir...
Ist

Cegah PMK di Lampung, Apkasi Usulkan Stop Pasokan Sapi dari Luar Daerah

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 22:10 WIB
Ketua Umum Apkasi Sutan Riska Tuanku Kerajaan bersama para Bupati se-Provinsi Lampung sepakat bahwa penanganan virus PMK pada ternak ini...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya