Senin 27 Desember 2021, 19:40 WIB

Petani di Cianjur Diimbau Waspadai Serangan OPT

Benny Bastiandy/Budi Kansil | Nusantara
Petani di Cianjur Diimbau Waspadai Serangan OPT

ANTARA
Ilustrasi

 

TINGGINYA intensitas curah hujan kurun 2 bulan terakhir di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diwaspadai bisa meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT). Kondisi tersebut bisa menyebabkan tanaman mengalami gagal panen yang bakal berdampak terhadap fluktuasi harga komoditas di pasaran.

Plt Kepala Seksi Tanaman Sayuran dan Obat-obatan Dinas Pertanian Perkebunan Pangan dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Dede Sutisna, mengatakan pada situasi dan kondisi seperti ini diperlukan peningkatan kapasitas dari para petani, khususnya sayuran, agar tak terlalu terdampak. Pasalnya, serangan OPT saat curah hujan tinggi relatif meningkat. "Masalah budi daya, kalau di musim hujan, kendalanya berkaitan dengan serangan OPT," terang Dede, Senin (27/12).

Serangan OPT yang biasanya menyeranf saat curah hujan tinggi yakni hama blas, penggerek batang, dan kresek. OPT tersebut biasanya menyerang bagian-bagian vital tanaman sehingga kondisinya membusuk atau tak bisa dipanen.

"Tapi, kalau masalah untung dan rugi yang dialami petani itu tergantung harga di pasaran. Harga juga dipengaruhi supply and demand. Ketika permintaan tinggi tapi produksi kurang, itu otomatis harga naik. Begitu juga sebaliknya," jelas Dede.

Ia mencontohkan harga komoditas tomat yang sempat turun drastis di kisaran Rp1.500 per kilogram. Kondisi itu karena stok hasil panen yang cukup melimpah, sementara permintaan turun atau stagnan. "Tapi untuk aneka cabai, cabai rawit, cabai keriting, dan cabai merah besar, memang harganya sekarang lumayan tinggi di pasaran," katanya.

Supiah, 51, petani di Kampung Golebag Desa Sukamanah, Kecamatan Karangtengah mengaku kekhawatiran serangan hama tak hanya saat musim hujan, tapi juga ketika kemarau tiba. Upaya mengantisipasi potensi serangan hama, kata Supiah, dilakukannya dengan menyemprotkan obat atau pestisida.

"Serangan hama selalu ada saat hujan atau kemarau. Makanya, kalau menjelang panen, saya lebih banyak mengawasi di sawah. Takut ada serangan hama," tutur Supiah. (OL-15)

 

Baca Juga

DOK MI

Pemkab Bandung Barat Data Jumlah Ternak Mati Akibat PMK

👤Depi Gunawan 🕔Senin 04 Juli 2022, 18:43 WIB
PEMKAB Bandung Barat, Jawa Barat masih melakukan pendataan jumlah hewan ternak yang mati karena terjangkit penyakit mulut dan kuku...
Antara

Hewan Kurban di Sulawesi Tengah Cukup dan Bebas PMK

👤M. Taufan SP Bustan 🕔Senin 04 Juli 2022, 18:28 WIB
Pemprov Sulawesi Tengah mencatat potensi ketersediaan hewan kurban pada tahun ini, yakni sapi 6.758 ekor, kambing 1.789 ekor dan domba 108...
Metro TV/Yohanes Manasye.

Orangtua tidak Mampu Bayar, Bayi Ditahan RS Manggarai NTT

👤Yohanes Manasye 🕔Senin 04 Juli 2022, 18:28 WIB
Karolina hanya ibu rumah tangga. Sabinus, suaminya, hanya seorang petani yang kadang-kadang bekerja serabutan dengan penghasilan tak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya