Jumat 03 Desember 2021, 10:50 WIB

Minyak Goreng Sumbang Inflasi Terbesar di Priangan Timur

Adi Kristiadi | Nusantara
Minyak Goreng Sumbang Inflasi Terbesar di Priangan Timur

MI/Adi Kristiadi
Pedagang eceran mengemas minyak goreng curah di pasar tradisional Tasikmalaya, Kamis (10/11/2021)

 

MINYAK goreng dan telur penyumbang inflasi terbesar di Priangan Timur pada November 2021, sebesar 0,17 persen (mtm) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,03 persen (mtm).

Peningkatan tersebut, lantaran menunjukkan geliat ekonomi berdampak pada pelonggaran protokol kesehatan dan vaksinasi selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 1 dan level 2.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Tasikmalaya, Darjana mengatakan, telur dan minyak goreng penyumbang inflasi di wilayah Priangan Timur. Selama ini menunjukkan bergeliatnya ekonomi masyarakat sebagai dampak dari adanya pelonggaran di berbagai daerah dalam status PPKM. Namun, di Kota Tasikmalaya, Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis menjadi Level 2, Kota Banjar dan Pangandaran berada pada Level 1.

"Inflasi tersebut masih didorong komoditas volatile food khususnya berupa telur ayam ras dan minyak goreng, berdampak meningkatnya permintaan komoditas sehubungan dengan dikucurkanya berbagai bantuan sosial baik tunai maupun non tunai pada pertengahan bulan tersebut," kata Darjana, Jumat (3/12/2021).

Peningkatan harga komoditas internasional, jelas dia, ikut mendorong kenaikan harga komoditas olahan seperti minyak goreng. Selain itu, komoditas Core Inflation turut mendorong inflasi seperti semen, emas perhiasan dan kopi sebagai cerminan gaya hidup masyarakat.

"Pelonggaran protokol kesehatan (prokes) dan vaksinasi sekarang mulai kembali bergerak seperti perbaikan tempat tinggal, keleluasaan masyarakat untuk melakukan aktivitas di luar rumah seperti menikmati suasana penyedia makan minnum termasuk cafe penyedia kopi. Di sisi lain mayoritas komoditas volatile food juga mendominasi penyumbang deflasi di antaranga bawang merah, tomat, daging ayam ras, kangkung, jeruk sehubungan pasokan yang masih tercukupi," ujarnya.

Menurutnya, sekarang ini perlu menjadi perhatian khususnya komoditas pangan dan hortikultura karena cuaca ekstrim akibat dari La Nina masih akan berlanjut di bulan Februari-Maret 2022. Hal itu berpotensi menurunkan kualitas produksi dan kuantitas yang semakin berkurang.

Darjana mengusulkan, agar ada upapa mendorong masyarakat diversifikasi dalam pengolahan pangan guna mengurangi penggunaa minyak goreng. Selain untuk menekas permintaan, juga menjaga kesehatan melalui gaya hidup sehat yang dicanangkan pemerintah yaitu pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman, guna meminimalisasir dampak inflasi komoditas import. (OL-13)

Baca Juga: Inflasi di DIY Naik Namun Masih Terkendali

Baca Juga

MI/Adi Kristiadi

Harga Minyak Goreng di Tasikmalaya Masih Rp20 ribu/liter

👤Adi Kristiadi 🕔Kamis 27 Januari 2022, 10:13 WIB
HARGA minyak goreng di pasar tradisional di Kota Tasikmalaya, belum mengalami penurunan satu harga Rp14...
dok.mi

Kasus Sengketa Tanah Keuskupan Denpasar Masuk Tahap Putusan

👤Arnoldus Dhae 🕔Kamis 27 Januari 2022, 09:45 WIB
SIDANG perkara perdata Nomor 21/Pdt.G/2021/PN.Lbj antara penggugat Hendrikus Chandra melawan Keuskupan Denpasar selaku tergugat I bersama...
MI/Gabrile Langga

IKIPMU Beri Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Bagi 1.000 Guru di Sikka Gratis

👤Gabriel Langga 🕔Kamis 27 Januari 2022, 08:25 WIB
KAMPUS Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah (IKIPMU) Maumere, membuat program pelatihan penulisan karya ilmiah bagi 1.000...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya