Senin 06 September 2021, 16:24 WIB

12 Babi Hutan di Bengkulu Mati Terinfeksi Flu Babi Afrika

Mediaindonesia.com | Nusantara
12 Babi Hutan di Bengkulu Mati Terinfeksi Flu Babi Afrika

Antara
Ilustrasi

 

Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung menyebutkan sebanyak 12 ekor babi hutan di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) wilayah Kabupaten Bengkulu Utara ditemukan mati akibat terinfeksi virus African Swine Fever (ASF) atau bisa disebut flu babi Afrika.

Kepala Urusan Program dan Kerjasama BKSDA Bengkulu-Lampung, Erni Suyati mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan informasi dari tim di resort, pada 27 Agustus 2021, bahwa banyak babi hutan yang mati mendadak di dalam kawasan konservasi.

"Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di luar kawasan konservasi sudah ada babi hutan yang mati mendadak dan kami tidak melakukan investigasi penyakit karena sudah ada instansi terkait seperti dinas peternakan dan kesehatan hewan," kata Erni di Bengkulu, Senin (6/9).

Setelah mendapat laporan dari lapangan bahwa di dalam kawasan konservasi juga ditemukan babi hutan mati, pihaknya melakukan investigasi di dalam kawasan dan melakukan bedah bangkai pada 28 Agustus 2021 dengan mengambil sampel babi tersebut dan melakukan pemeriksaan verologi untuk mendeteksi penyakit ASF.

Selanjutnya pihak BKSDA Bengkulu berkoordinasi dengan Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian di Provinsi Bengkulu dan dari dari pemeriksaan diketahui bahwa 12 babi hutan yang mati mendadak tersebut positif terinfeksi virus African Swine Fever.

"Kami harus berkolaborasi dengan balai veteriner untuk penanganan bangkai untuk mencegah penularan lebih lanjut," katanya.

Virus ASF hanya menyerang babi hutan maupun babi peliharaan dan penularan virus ini termasuk sangat cepat melalui kontak langsung maupun tidak langsung bahkan kematian akibat virus ASF sangat tinggi dalam lima hari.

Pada 2019-2021, menurut Erni, kasus ASF sudah dilaporkan terjadi di provinsi tetangga dan saat ini masuk ke wilayah Provinsi Bengkulu. Padahal, Provinsi Bengkulu termasuk pemasok daging babi hutan dalam jumlah besar ke luar Provinsi Bengkulu sehingga hal tersebut dikhawatirkan mempengaruhi penyebaran virus tersebut.

Ia menambahkan bahwa saat ini belum ada vaksin untuk menghindari penyebaran virus ASF sebab virus ini masih baru di Indonesia dan tidak berpengaruh bagi manusia, namun manusia bisa membawa virus ke babi lainnya atau bisa disebut perantara.

Untuk penanganan bangkai babi hutan yang positif maka babi tersebut harus dimusnahkan atau dikubur dengan dibungkus plastik dan dikubur dengan kedalaman dua meter di dalam tanah untuk memutus tali penularannya.

Erni menjelaskan bahwa sejak Juli hingga September 2021, sebenarnya penyebaran virus ini ada dan merata di Provinsi Bengkulu dari Kabupaten Mukomuko hingga perbatasan Bengkulu dengan Provinsi Lampung sebab pihaknya telah menerima laporan babi hutan yang mati mendadak.

Akibat virus ASF ada kemungkinan babi hutan musnah karena penyebaran yang sangat cepat dan belum ditemukan vaksinnya.

"Kami khawatirkan virus ini menyerang babi gunung yang spesiesnya mulai langka sebab babi hutan di Bengkulu kemungkinan sudah terinfeksi," katanya. (Ant/OL-12)

Baca Juga

Ist

Petani Sawit Swadaya Anggota SPKS di Riau Dapat Sertifikasi RSPO 

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 02 Juli 2022, 20:10 WIB
Anggota Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) di Kabupaten Rokan Hulu, Riau, mendapatkan sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil...
ANTARA/Aloysius Jarot Nugroho

Sandiaga Salut Kegigihan UMKM Jogja

👤Ardi Teristi Hardi 🕔Sabtu 02 Juli 2022, 19:55 WIB
Sandiaga berharap 'traktiran' ini bisa memancing pengunjung mal untuk membeli produk di AKI...
ANTARA/FB Anggoro

Sumatera Bike Week 2022 Gairahkan UMKM Sumbar

👤Yose Hendra 🕔Sabtu 02 Juli 2022, 19:40 WIB
5th SBW 2022 merupakan ajang paling tepat dalam rangka meningkatkan pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sumbar,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya