Rabu 12 Mei 2021, 17:17 WIB

Operasi Keamanan Belum Berikan Rasa Aman Bagi Warga Poso

M Taufan SP Bustan | Nusantara
Operasi Keamanan Belum Berikan Rasa Aman Bagi Warga Poso

DOK MI
Ilustrasi

 

OPERASI keamanan berkepanjangan untuk menangkap kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso, Sulawesi Tengah, yang dilakukan Polri patut untuk dimintai pertanggungjawaban. Operasi keamanan tersebut dinilai belum mampu memberikan rasa aman bagi warga Poso.   

Direktur Celebes Institute yang fokus terhadap aksi kekerasan di Poso, Adriani Badra menyoroti pelaksanaan operasi keamanan yang berdurasi panjang hingga mengubah nama sandi sebelumnya operasi Camar Maleo, Tinombala, dan saat ini menjadi Madago Raya. Walau telah berlangsung lama, operasi keamanan ini tidak memberi kabar baik terhadap penanganan teror dan kekerasan yang berulang kali terjadi di Poso.

Adriani menjelaskan, dalam operasi-operasi sebelumnya hingga operasi Madago Raya melibatkan gabungan pasukan Kopassus TNI AD, Brimob Polri yang tentunya tak diragukan lagi soal strategi lapangan. Bahkan operasi Madago Raya diperpanjang sejak 1 April 2021 hingga tiga bulan mendatang.

"Artinya, operasi tersebut secara serius bisa menuntaskan pengejaran sisa DPO yang berjumlah sembilan orang. Namun faktanya sampai saat ini mereka belum tertangkap bahkan kembali membunuh empat petani di Desa Kalimago, Kecamatan Lore Timur," ungkapnya kepada Media Indonesia di Palu, Rabu (12/5).  

Karena itu, lanjut Adriani, di tengah sorotan atas pelaksanaan operasi, ada harapan bagi masyarakat Poso dan sekitarnya bahwa operasi dapat memberi jaminan bagi warga tidak merasa terancam bahkan menjadi korban dari aksi teror dan kekerasan secara terus-menerus dari kelompok Ali Kalora. "Tetapi faktanya hari ini warga sipil yang selayaknya mendapat rasa aman dari ancaman serta aksi teror dan kekerasan terjadi lagi ditengah operasi kemananan masih berlangsung," ujarnya.  

Adriani menilai, seharusnya tidak ada lagi warga sipil yag menjadi korban dari serangan aksi teror dan kekerasan pascatragedi Lembantongoa karena satgas telah memetakan wilayah-wilayah yang menjadi pergerakan kelompok Ali Kalora.

"Tentunya kelompok MIT terus bergerak dan fungsi intelejen dipertanyakan karena tak mampu mendeteksi pergerakan setelah peristiwa baku tembak antara anggota MIT dengan aparat keamanan (awal Maret 2021)," tegasnya.

Adriani menambahkan, jangan sampai satgas menempatkan masyarakat sebagai support sisytem yang akan menjadi korban secara berlapis (menjadi korban jiwa, aktivitas ekonomi dan kohesi sosial terganggu) karena pelaksanaan operasi tidak memberi jaminan rasa aman khususnya kepada warga yang bermukim di pedesaan dan beraktivitas sebagai petani.

"Jika operasi keamanan benar-benar serius dengan mengerahkan segala potensi kekuatannya mustahil DPO yang berjumlah sembilan orang tak dapat ditangkap," pungkasnya. (OL-15)

 

Baca Juga

ANTARA

Rumah Sehat di Surabaya Dimanfaatkan buat Isoman

👤Faishol Taselan 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 14:52 WIB
saat ini setidaknya ada 6 rumah sehat yang sudah mulai dimanfaatkan oleh warga. Salah satunya berada di SDN Tambaksari III dan SMPN 29...
MI/Rendy Ferdiansyah

Gubernur Babel Akui Hadapi Berbagai Kendala Saat Penerapan PPKM

👤Rendy Ferdiansyah 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 11:08 WIB
Kurangnya stok vaksin, lanjut gubernur, juga menjadi kendala Babel sehingga belum bisa mencapat target...
ANTARA/Bayu Pratama S

Hasil Evaluasi PPKM di Kalsel Dilaporkan ke Pusat

👤Denny Susanto 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 09:30 WIB
Di Kalsel, ada dua daerah yang melaksanakan PPKM level 4 yaitu Kota Banjarmasin dan Kota...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Eksistensial

 Laporan SIGAR menggarisbawahi kekhawatiran pasukan Afghanistan tidak siap untuk melakukan pertahanan yang berarti

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya