Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Dorong Kemandirian Disabilitas, Kemensos Terapkan Art Therapy

Bayu Anggoro
02/11/2020 13:35
 Dorong Kemandirian Disabilitas, Kemensos Terapkan Art Therapy
Sejumlah anak asuh dihibur seorang penyandang disabilitas di salah satu panti asuhan di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Jumat (30/10/2020)(ANTARA/BASRI MARZUKI )

KEMENTERIAN Sosial terus berupaya meningkatkan kreativitas penyandang disabilitas agar bisa hidup lebih mandiri. Salah satunya dengan manggandeng UKM  Creative Business Of Difable Community  (CIDCO) dan  Art  Therapy Center Widyatama Bandung, Yayasan Komunitas Tionghoa Peduli, dan PT Lintas Sinergi Jabarindo, di Bandung.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Harry Hikmat mengatakan, dengan kerjasama itu penyandang disabilitas akan memiliki kesempatan untuk lebih mengembangkan kreativitas khususnya dalam industri kreatif. Bahkan, mereka pun akan disertifikasi, karena pendidikan ini setaraf dengan diploma III.

Baca juga: Produk Kerajinan Kaum Disabilitas Tembus Pasar Luar Negeri

"Kerjasama ini menyelenggarakan pendidikan selevel diploma III untuk penyandang disabilitas dan gunakan pendekatan art therapy (terapi seni). Utamanya untuk membangkitkan kreativitas mereka," kata Harry dalam siaran pers yang diterima, Senin (2/11).

Harry meyakini, dengan cara seperti itu diharapkan bisa membuka kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas utamanya di dunia industri kreatif.  Sekaligus ingin tahu lebih jauh apa yang dilakukan oleh CIDCO dan Art Terapy Center, karena hal ini relatif masih jarang," ucapnya.

Dia menyontohkan, desain grafis, kriya, maupun musik bisa memberikan penghidupan yang layak bagi penyandang disabilitas. Terlebih jika produk yang dihasilkan berkualitas dan disukai pasar.

Apalagi, dia menilai konsumen sangat menyukai produk yang dihasilkan para penyandang disabilitas. "Bahkan desain salah satu gerai kopi ternama merupakan karya salah seorang penyandang disabilitas. Saya sangat antusias, karena ini bisa membangkitkan respek terhadap kondisi kaum yang memiliki kemampuan berbeda," katanya.

Oleh karena itu, dia memastikan Balai Besar/Balai Rehabilitasi Sosial akan menjadikan  art therapy sebagai kurikulum sehingga memberi prospek yang lebih maju. "Karena akan ada peningkatan level, bukan sekadar terampil tapi ahli," jelasnya.

Oleh karena itu, dia memastikan Kementerian Sosial sangat mendukung upaya  pengembangan lanjutan. Bahkan kerjasama akan lebih konstruktif terutama dalam peningkatan kapasitas dan kelembagaan Balai Besar/Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas yang berada di lingkungan Kementerian Sosial.

"Masuk di Art Therapy Center ini, nanti mereka akan mendapat sertifikat kompetensi, dan ini menaikkan kelas mereka. Sehingga, stigma negatif terhadap penyandang disabilitas akan terkikis sedikit demi sedikit, mereka pun akan mampu bersaing di dunia industri," ucapnya.

Penasehat Ar Therapy Center  Widyatama dan Ketua Dewan Penasehat CIDCO, Anne Nurfarina, menerangkan,  art therapy merupakan sebuah peluang karena memiliki fleksibilitas tinggi yang mengusung kemampuan fitrah seorang disabilitas. "Contoh di kita adalah autistik, karena mereka memiliki hambatan di komunikasi. Kami menggunakan metode membangun respons komunikasi agar terjadi interaksi, lalu kami memberikan pengetahuan untuk mengubah stigma bahwa kecerdasan itu bukan hanya jago matematika," jelas Anne.

Anne tak menyangkal, saat konsep ini dilempar ke publik, pihaknya dianggap mengeksploitasi kaum disabilitas. Padahal, dia menekankan konsep yang ditawarkan pihaknya bisa menjadikan mereka mandiri secara finansial.

Apalagi pihaknya pun mengajarkan sistem manajemen keuangan sederhana dan mudah dipahami. "Ini konsep yang harus segera diwujudkan, tapi utamanya harus diterima oleh industri. Mudah-mudahan menjadi program berkelanjutan, dan berkolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan lain," kata Anne.

Kerjasama ini merupakan keterlibatan pemerintah dalam hal ini Kementerian Sosial. Pasalnya, penanganan masalah sosial tak bisa dilakukan sendirian, baik orangtua, komunitas, hingga akademisi, namun perlu dukungan kuat dari pembuat kebijakan.

"Hadirnya Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial memertegas tidak hanya kehadiran fisik, tapi keberlanjutan untuk sekarang dan masa mendatang. Kami berharap, para penyandang disabilitas ini bisa semakin mandiri, dan menjadi inspirator bagi masyarakat luas," kata dia. (BY/A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Maulana
Berita Lainnya