Headline
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 27 orang warga Kecamatan Ponjong dan Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul dipastikan positif antraks. Penyebabnya mereka mengonsumsi daging ternak yang mati terpapar antraks. Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Sumitro mengatakan, pada Sabtu (4/1) lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul menemukan setidaknya 600 orang yang terpapar antraks. Mereka tersebar di Dusun Ngrejek Wetan, Kecamatan Ponjong dan ada 60 orang lainnya di Kecamatan Semanu.
"Jadi ada 600 orang yang yang terpapar dan tersebar di dua dusun tersebut," kata Sumitro, Kamis (16/1).
Dari hasil uji laboratorium, dari 87 orang, sebanyak 54 orang diambil darahnya, dan 11 orang dilakukan swipe luka.
“Yang positif antraks ada 27 orang, untuk yang diswipe lukanya negatif antraks," kata Sumitro.
Dikatakan, dari 27 orang sebagian besar positif antraks pada kulit. Sebagian di antaranya gabungan antara kulit dan pernafasan. Virus antraks dapat menyerang kulit, pernafasan dan pencernaan.
Warga yang positif antraks diberikan antibiotik profilaksis lanjutan sampai 20 hari. Untuk yang gejala diberikan antibiotik. Selain itu, mereka yang positif dicek ulang darahya ke BBVEt Bogor, Jawa Barat. Dijelaskan, antraks tidak dapat menular dari manusia ke manusia. Orang yang terpapar antraks, bila tidak diobati secara benar bisa menyebabkan kematian karena komplikasi. Namun bila diketahui sejak awal, bisa diobati sampai sembuh.
Sumitro mengakui kasus antraks yang terjadi di Kecematan Ponjong dan Semanu telah merenggut nyawa satu orang. Sementara itu para peternak sapi di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, diresahkan oleh kemunculan virus Theileria yang menyerang hewan ternak.
Pengurus Kelompok Ternak Margo Andini Makmur, Seyegan, Sleman, Mulyono mengatakan, akibat virus ini ada satu ekor sapi yang mati.
"Kami juga mendapat informasi dari petugas Puskeswan ada yang mati di peternakan lain," katanya.
Hasil laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVET) Wates menyebutkan bahwa dari 62 sapi yang ada, 56 sudah terjangkit virus yang sama.
"Dari total 62 sapi, ada 56 sapi yang sudah terjangkit virus Thailera," ujarnya.
baca juga: CSR Akan Dilibatkan Dalam Pembangunan di Temanggung
Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman Heru Saptono tidak membantah adanya temuan virus yang diduga Theleria di wilayah Kecamatan Seyegan.
"Kami baru melakukan tahapan uji lab dan belum mendapatkan laporan adanya ternak sapi yang mati. Baru suspect dan baru kami ujikan di BBVET Wates," tegasnya.
TANTANGAN dan dinamika penyakit hati di Indonesia disoroti. Penyakit hati di Indonesia menunjukkan pola yang semakin kompleks, mulai dari hepatitis kronis, sirosis, hingga kanker hati.
Epilepsi bukan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau organisme yang bisa berpindah antarindividu.
Kondisi kaki dapat memberikan petunjuk penting terkait kesehatan saraf, peredaran darah, hingga penyakit sistemik.
Ancaman super flu, infeksi saluran pernapasan akibat virus influenza dengan gejala yang lebih berat dibanding flu biasa, kian menjadi perhatian.
Pekerja lapangan menghadapi risiko penyakit yang cukup serius, mulai dari leptospirosis, infeksi kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan.
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan satu anak dengan gizi buruk, satu anak stunting, dan enam anak dengan gizi kurang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved