Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBUKAAN Expo Budaya Eyelewun Raya yang berlangsung di Desa Benihading I, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (17/10), berlangsung meriah.
Parade tari-tarian, busana adat, ritus tradisional, serta pameran kuliner tradisional masyarakat setempat dari sejumlah komunitas masyarakat adat di wilayah tersebut menarik perhatian ribuan pengunjung yang berkumpul di Lapangan Dusun Aliuroba, Desa Benihading I, Kecamatan Buyasuri.
Penampilan komunitas adat Desa Tiba, Kecamatan Omesuri mencuri perhatian. Komunitas adat itu menampilkan Tarian Dorong Dope.
Ketika tampil di Expo Uyelewun, Kamis (17/10), masyarakat adat Desa Tiba memperagakan situasi ketika mereka berpindah-pindah tempat pada zaman Nomaden hingga membentuk sebuah perkampungan.
Baca juga: 87 Pengungsi Wamena Tiba di NTT
Ketika dirasakan sebuah tempat tidak lagi bersahabat, komunitas warga itu pun berpindah. Para tetua adat menuggang kuda, sementara sekelompok warga lain berjalan kaki membawa serta gading, barang-barang berharga, serta Mesbah (biasanya berupa batu atau benda-benda yang dikeramatkan).
Berjalan kaki beriringan, komunitas warga itu kemudian mencari tempat yang nyaman untuk dihuni. Dalam perjalanan itu, banyak sanak saudara terpisah, berpencar kemudian membentuk komunitas masyarakat Uyelewun setelah dibentuk komunikasi dan rembuk bersama dalam berbagai cara.
Penggambarannya melalui namang Dorong Dope yang dinyanyikan. Tata cara penyampaian pesan yang khas pada jaman itu hingga saat ini.
Mesbah, sebagai tempat mempersembahkan rasa syukur kepada sang pencipta, melakukan ritus pertobatan, ritus permohonan seperti murah rejeki, kesehatan. Jika ditapakan di suatu tempat, mesbah menjadi pertanda sebuah kampung sedang dihuni, ditambah beberapa mesah lainnya, kemudian terbentuklah 44 kampung di Kedang.
Ketika menemukan sebuah tempat, komunitas adat itu kemudian larut dalam tarian ditingkahi tetabuhan gong dan gendang yang ritmik.
Pembukaan Expo Budaya Uyelewun Raya, ditandai pemukulan gong oleh Asisten 3 Setda Kabuaten Lembata Wenseslaus Ose Pukan. Sedangkan Bupati Eliazer Yentji Sunur batal membuka kegiatan expo Budaya yang digagasnya itu.
PLT Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Lembata, Apolonaris Mayang, kepada Media Indonesia, Kamis (17/10) mengatakan Expo Budaya Uyelwun Raya bukan ingin menjadikan Uyelewun sebagai etnik yang superior.
Di Kabupaten Lembata, ada dua etnik masyarakat, dengan budaya yang berbeda yakni masyarakat adat Lamaholot dan masyarakat adat Kedang.
“Kita sudah buat festival Lamaholot dan sekarang kita buat expo budaya Kedang. Hanya untuk mengeksplor, menggali, potensi budaya yang ada di Kedang, untuk kepentngan pewarisan. Jadi semua nilai nilai budaya kita ini mau diwariskan,” ujar PLT Kepala Dinas kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Lembata, Apolonaris Mayang.
Menurut Kadis Apol Mayang, tradisi budaya Kedang adalah tradisi tutur. Expo budaya ini kita sudah mulai mengerucut, bagaimana orang sudah mulai menulis tentang semua aktivitas budaya yang ada, silsilah, dan ceritera lisan tentag kehidupan kemasyarakat menurut pranata tradisional.
“Sehingga pada saatnya nanti kita bisa mendapatkan budaya tulis tentang Kedang, sehingga ke depan, tidak bisa menjadi pemicu konflik. Karena orang menceritakan sejarah dari versi mereka masing-masing. Tetapi orang kedang menuliskan sejarah, bahwa dia dari Atas (Uyelewun), bahwa benar, sejarah yang benar agar generasi muda juga mendapatkan referensi yang benar,” ujar Apol Mayang.
Selain itu, Kedang meski memiliki satu budaya namun ada yang tinggal di gunung, pantai, serta memiliki agama dan keyakinan yang berbeda. Uniknya, meski berbeda agama namun warga hidup berbaur dalam keharominsan.
“Expo Budaya Uyelewun Raya ini merujuk pada kesamaan keturunan. Expo budaya ini menjadi momentum untuk merekatkan persatuan dan kesatuan,” ujar Apol Mayang.
Direktur Penanganan Pascakonflik Kementerian Daerah Tertinggal Hasrul Ediayard memuji exotisme kebudayaan Uyelewun, Kabupaten Lembata, ketika memberikan sambutan mewakili Pemerintah Pusat, memuji eksotisme budaya Uyelewun.
“Saya berharap expo budaya seperti ini merekatkan tali persaudaraan adatar warga, menghindari sengketa dan saling membantu tanpa sekat apapun,” ujar Hasrul Ediayard. (OL-2)
Struktur batuan yang menjulang dan berlekuk dramatis menghadirkan panorama eksotis yang kerap dijuluki “Grand Canyon”-nya Pulau Sabu
PRODUKSI gabah kering giling (GKG) di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sepanjang 2025 hampir menembus angka 1 juta ton. Capaian ini menjadi tonggak penting dalam penguatan ketahanan pangan.
SEBUAH kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di ruas Jalan Trans Flores, tepatnya di Kampung Roe, Desa Cunca Lolos, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Selain Minyakita, tim juga menemukan harga cabai rawit Rp75.000/kg, bawang merah Rp40.000/kg, bawang putih Rp45.000/kg, daging sapi Rp105.000/kg, daging ayam Rp40.000/kg.
Survei terbaru yang dirilis Voxpol Center Research and Consulting menunjukkan tingkat kepercayaan publik terhadap Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih tergolong tinggi.
Perlindungan satwa adalah bagian tak terpisahkan dari mitigasi bencana dan keseimbangan ekosistem.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved