Headline
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
Seorang mahasiswa informatika membuat map Aksi Kamisan di Roblox.
PULUHAN siswa SDN Jayamekar di Kampung Bantaka RT 04/03, Desa Muaracikadu, Kecamatan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terpaksa belajar di teras sekolah. Pasalnya, dua bangunan ruang kelas di sekolah tersebut sudah tak bisa digunakan lantaran nyaris ambruk.
Berdasarkan informasi, sekolah tersebut dibangun 38 tahun lalu atau sekitar 1981 bernama SDN Inpres. Di sekolah itu hanya terdapat tiga ruang kelas. Tidak adanya upaya perbaikan membuat bangunan tak terurus.
Dua dari tiga bangunan dipergunakan sebagai ruang kelas. Sedangkan satu ruangan lagi digunakan untuk kantor. Sekitar empat tahun lalu, ruangan kelas makin bobrok. Namun kondisi tersebut tetap dipaksakan digunakan sebagai tempat kegiatan belajar mengajar. Pihak sekolah mengganjal atap bangunan ruang kelas dengan bambu dan kayu agar meminimalkan potensi ambruk.
Puncaknya saat terjadi gempa berpusat di Sumur, Banten, pekan lalu. Atap ruang kelas akhirnya ambruk sehingga membuat pihak sekolah mengalihkan kegiatan belajar siswa di teras sekolah.
"Di sekolah ini ada 74 orang siswa. Sekarang mereka belajar di teras sekolah karena atap ruang kelas ambruk," kata Hasan, Komite Sekolah, kepada wartawan, Senin (12/8).
Hasan mengaku sejak dulu bangunan ruang kelas di SDN Jayamekar belum mendapat bantuan pembangunan ruang kelas baru (RKB) maupun rehabilitasi atau perbaikan. Sebelum terjadi gempa berkekuatan cukup dahsyat berpusat di Banten, kata Hasan, siswa masih bisa dipaksakan belajar di ruang kelas meskipun terancam atap roboh.
"Dulu sekolah ini dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Sejak dibangun puluhan tahun lalu, sampai sekarang belum dapat bantuan. Wajar kalau sekarang ambruk," jelas dia.
Ia berharap Pemkab Cianjur membuka mata melihat kondisi bangunan sekolah rusak di wilayah yang notabene berada di pelosok. Jika dibiarkan terus seperti itu, Hasan khawatir sulit mengejar kualitas pendidikan di Kabupaten Cianjur.
"Kami hanya berharap ada bantuan perbaikan atau pembanguan RKB. Kalau seperti ini kasihan anak didik kami," tegasnya.
Kondisi tersebut tak menyurutkan semangat belajar siswa. Mereka pun tetap serius belajar hanya di teras sekolah.
"Beberapa kali kami mengajukan RKB dan perbaikan, tak hanya ke Disdikbud Kabupaten Cianjur, tapi juga ke Disdikbud Jabar. Tapi sampai sekarang belum ada tanggapan," ungkap Dudi Riana, guru di SDN Jayamekar.
Rusaknya bangunan ruang kelas berdampak terhadap menurunnya animo orang tua siswa menyekolahkan anak mereka di SDN Jayamekar. Mereka lebih memilih menyekolahkan di SD kelas jauh. Di SDN Jayamekar terdapat tujuh orang guru. Sebanyak empat di antara mereka berstatus PNS. Sisanya merupakan honorer.
"Termasuk saya sendiri, yang statusnya masih honorer," lanjut Dudi Riana
Menanggapi hal itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, Oting Zaenal Muttaqien, mengatakan jumlah ruang kelas SD dan SMP di Kabupaten Cianjur, relatif masih banyak yang rusak. Tingkat kerusakannya dikategorikan berat, sedang, dan ringan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cianjur setiap tahun mengajukan perbaikan sebanyak 200-300 lokal (ruang kelas) untuk SD dan SMP. Namun perbaikan tergantung kemampuan keuangan daerah.
"Masih banyak ruang kelas sekolah di Cianjur yang kondisinya rusak. Di SD saja, dari sekitar 1.200 sekolah tersebar di semua wilayah, hampir 60% kondisinya masih ditemukan ruang kelas yang rusak," kata Oting.
baca juga: Gunung Slamet Waspada, SAR Siapkan Jalur Evakuasi
Selain dari APBD, lanjut Oting, biaya perbaikan ruang kelas juga mengandalkan dari dana alokasi khusus (DAK) dan dana alokasi umum (DAU). Dengan adanya bantuan dari pemerintah pusat, diharapkan perbaikan ruang kelas rusak bisa terselesaikan.
"Dengan terbatasnya anggaran, kami menerapkan skala prioritas. Dibantu pengawas, kami rutin mengecek ke lapangan melihat kondisi ruang kelas rusak. Mudah-mudahan adanya DAK dan DAU bisa mempercepat perbaikan," jelasnya. (OL-3)
Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Republik Indonesia Tito Karnavian di Jakarta, Kamis malam.
Usulan telah melalui pembahasan bersama Komisi X DPR RI.
Penggunaan sekaligus pemahaman bahasa isyarat sangat penting.
Sinergi yang kuat antara guru dan orang tua akan menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif bagi perkembangan siswa.
WAKIL Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Fajar Riza Ul Haq mengingatkan pentingnya upaya Partisipasi Semesta.
Menurut Lestari, penting mengedepankan upaya membangun 'jembatan' antara kesehatan jiwa dan kesehatan otak dalam konteks sebuah kebijakan.
Gedung baru hadir dengan desain ramah lingkungan, ruang belajar yang modern, dan berbagai ruang spesialis yang menjawab kebutuhan siswa dari beragam latar belakang.
Trump menyatakan seluruh bendera AS harus dikibarkan setengah tiang hingga Minggu (31/8).
Generasi muda diajak untuk semakin meningkatkan literasi digital serta membiasakan digital diet demi menjaga keseimbangan aktivitas di dunia nyata dan digital.
Guru membagikan enam kebiasaan penting yang bisa diterapkan orang tua dan siswa di bulan pertama sekolah.
Professional development menjadi program unggulan dengan memberikan beragam workshop yang dibutuhkan guru.
ANGGOTA Komisi E DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz menilai penggunaan gawai (gadget) tak baik jika dijadikan alat utama pembalajaran untuk anak sekolah di jenjang SD, SMP maupun SMA.
Copyright @ 2025 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved