Rabu 24 Juli 2019, 13:12 WIB

Mengembalikan Orang Menjadi Manusia Mulia

Siswantini Suryandari | Nusantara
Mengembalikan Orang Menjadi Manusia Mulia

Istimewa
Muhammad Tri Hardono saat memberikan kotbah saat Salat Jumat di Pondok Tetirah Dzikir.

 

MEMBANTU seseorang kembali menjadi manusia, itulah yang menjadi cita-cita Muhammad Tri Hardono, pendiri Panti Rehabilitasi Pondok Tetirah Dzikir di Jl Wonosari Km 10 Kuton RT 2 RW 15, Tegaltirto, Berbah, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Panti ini khusus untuk rehabilitasi pecandu narkoba dan gangguan kejiwaan. Tiap hari di pondokan itu terdengar alunan dzikir yang menggetarkan hati.

Tri menuturkan awal mula dia terjun menyembuhkan para pecandu berawal dari Tarekat Qodiriyah Wa Naqsabandiyyah (TQN) Ponpes Suryalaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam perkembangannya Ponpes Suryalaya menjadi pesantren rehabilitasi korban napza dan kasus kejiwaan.

"Saya belajar praktik amaliyah TQN Suryalaya. Pada 2001 amaliyah dzikir TQN Suryalaya ini menempati bangunan belum jadi di Dusun Sawahan, Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman. Waktu itu pondokan itu didatangi seorang yang mengalami guncangan jiwa. Ia suka bicara nglantur dan bertingkah liar sehingga terpaksa dirantai. Pada masa penyembuhan, saya bantu pasien untuk bertaubat, salat dan berdzikir seperti diajarkan TQN Suryalaya selama 40 hari. Ternyata orang tersebut bisa sembuh. Dia seorang tukang batu. Setelah sehat, ia bisa membantu pembangunan pondokan," kata Tri, Rabu (24/7).

Sejak saat itu mulai berdatangan orang membawa anggota keluarganya untuk diobati dengan metode mendekatkan diri pada Allah SWT. Selama satu dasawarsa, meski belum menjadi sebuah lembaga bernama Pondok Tetirah Dzikir, masyarakat terus berdatangan untuk berobat.

Alumni Jurusan Sejarah Universitas Gadjah Mada ini menerangkan bahwa dengan banyaknya warga berdatangan ingin disembuhkan dari gangguan kejiwaan, maka terbentuklah sebuah komunitias.

"Komunitas ini isinya orang-orang dengan gangguan kejiwaan dan mereka yang mengalami keterpurukan," tambahnya.

Nama TQN Suryalaya ini menjadi magnet bagi keluarga-keluarga yang memiliki anggota tersandung kasus narkoba. Maka selain pasien gangguan kejiwaan, mulai berdatangan para pecandu narkoba yang kondisinya sudah parah.

Tidak seperti tempat rehabilitasi pecandu narkoba maupun gangguan jiwa pada umumnya, pondok tersebut tidak punya kepengurusan.

"Sudah berjalan 10 tahun waktu itu, pondokan ini belum berbentuk lembaga resmi. Tak ada kepengurusannya. Tapi kami merawat dan membina puluhan orang dengan kasus kejiwaan dan narkoba," ungkapnya.

Akhirnya Dinas Sosial Kabupaten Sleman meminta agar dibentuk lembaga kesejahteraan sosial untuk mendapatkan izin operasional dan tercatat di pemerintahan. Setelah 10 tahun itu, barulah berdiri Panti Rehabilitasi Pondok Tetirah Dzikir pada 12 Mei 2012 sebagai wadah pembinaan korban narkoba dan penyandang kasus kejiwaan.

baca juga: Pemerintah Harus Ubah Status Impor Sampah Kertas

"Nama Pondok Tetirah Dzikir ini merujuk pada suatu keinginan mewujudkan tempat yang aman, nyaman dan penuh nuansa agamis sebagai tempat bernaungnya orang-orang terpuruk. Tujuannya agar mereka bisa menemukan harkat diri mereka menjadi manusia mulia," ujar Tri.

Dengan ketulusannya berdoa melalui dzikir, salat dan mandi taubat, membuat mereka yang semula terpuruk bisa kumpul kembali dengan keluarga dalam keadaan sehat jiwa. Ia pun sering memperhatikan wajah orang-orang mengalami perubahan drastis. Tri menyebutkan ada beberapa pecandu narkoba dari kalangan anak muda saat datang ke pondokan dalam keadaan teler atau sakaw. Saat ini Tri menjumpai wajah mereka berubah menjadi wajah yang teduh.

"Melihatnya adem dan mereka sudah bisa tersenyum," ujar Tri terharu.

Saat ini, Pondok Tetirah Dizkir ini juga menjadi tempat istirahat bagi orang-orang yang mengalami permasalahan hidup dan tidak mampu mengatasinya.

"Jadi di pondokan saya ini, selain ada orang gangguan kejiwaan, ada yang direhab karena narkoba. Ditambah dengan orang-orang yang sedang mengalami permasalahan hidup dan tidak mampu mengatasinya," kata Tri sambil tersenyum.

Ia pun menerima dengan tangan terbuka semua orang yang datang ke pondokannya untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Tri berprinsip bahwa Pondok Tetirah Dzikir memandang siapapun yang datang bukanlah sebagai pecandu, bukan orang gila dan bukan sebagai pasien.

"Tetapi sebagai hamba Allah yang sedang terpuruk dan perlu dientaskan. Pengentasannya melalui bimbingan ibadah sebagai jalan pendekatan kepada Allah SWT. Oleh karena itu separah apa pun kondisi mereka, ada yang ngamuk, ada yang tidak terkendali gerakannya, semuanya dikondisikan untuk melaksanakan salat dan dzikir," ungkap Tri.

Pondokan tersebut juga kerap dikunjungi sekolah-sekolah dengan membawa rombongan siswa.  

"Mereka yang datang ke pondokan difasilitasi sepenuhnya untuk memperbaiki ibadah. Terutama melakukan ibadah dzikrulloh sebagai solusi utama berbagai persoalan hidup," pungkasnya. (OL-3)

 

 

Baca Juga

Dok. Pemprov Babel

Tingkatkan Kualitas SDM, Pelajar Dan Mahasiswa Bangka Belitung Didorong Raih Beasiswa

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:36 WIB
"Pintar secara akademis tidaklah cukup, tapi milikilah karakter yang kuat dengan meningkatkan softskill. Belajarlah di luar apa yang...
MI/Apul Iskandar

Harga Cabai Merah di Pematangsiantar Meroket Hingga Rp125 Ribu per Kg

👤Apul Iskandar 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:13 WIB
Kenaikan harga cabai merah dan cabai rawit hijau dikarenakan gagal panen dan naiknya harga...
Wikipedia

Masyarakat dan Wisatawan Diimbau tidak Mendekati Gunung Awu

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 27 Juni 2022, 23:00 WIB
PVMBG telah menaikkan status Gunung Awu dari Waspada Level II ke Siaga Level III menyusul meningkatnya aktivitas kegempaan gunung setinggi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya