Headline
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.
Kumpulan Berita DPR RI
AKSI kekerasan yang diduga melibatkan aparat kembali terjadi. Kali ini, tiga karyawan SPBU di Kelurahan Cipinang, Jakarta Timur, diduga menjadi korban penganiayaan dan ancaman pembunuhan oleh seorang pria yang mengaku sebagai seorang aparat.
Mukhlisin, 38, seorang karyawan SPBU setempat mengatakan, ketiga korban yang mengalami penganiayaan yakni Lukmanul Hakim, operator yang bertugas, Khairul Anam selaku staf SPBU, dan Mahbudin selaku petugas operator yang berupaya merelai keributan.
"Khairul Anam itu (terkena) tamparan di pipi. Terus yang Lukman itu (dipukul) di rahang sebelah kanan. Terus yang Mahbud (dipukul) di bawah mata sama di pipi, jadi giginya itu oblak (goyang)," ujar Mukhlisin ketika ditemui di Jaktim, Senin (23/2).
Insiden ini bermula ketika pelaku, yang saat itu menjadi penumpang sebuah mobil hendak mengisi bahan bakar bersubsidi, Minggu (22/2) malam. Masalah muncul saat petugas menemukan ketidakcocokan data pada sistem.
"Nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan gambar di mesin EDC tersebut. Peraturannya Nopol (Nomor Polisi) sama mobil harus sesuai," kata Mukhlisin.
Sesuai prosedur, petugas SPBU menolak pengisian BBM subsidi dan mengarahkan pelaku untuk mengisi BBM non-subsidi. Bukannya mengikuti aturan, pelaku justru naik pitam. Ia melontarkan makian, memukul korban, hingga menarik seragam petugas sampai robek.
Meski mengenakan pakaian sipil dan tidak menggunakan pelat nomor dinas, pelaku berulang kali mengintimidasi korban dengan membawa-bawa nama petinggi institusi Polri.
"Dari pihak customer-nya itu menyebut "ini mobil jenderal". Terus di video juga dia menyebut bilangnya "Kapolda" gitu. Ada narasi, ada kata-kata Kapolda ketika dia membentak-bentak," tutur dia.
Terkait kasus ini, awak media telah berupaya mengonfirmasi kejadian tersebut kepada Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budhi Hermanto. Namun, pihak kepolisian belum bisa memberikan detail lebih lanjut.
"Mohon waktu ya," ujar Budhi singkat saat dikonfirmasi. (P-4)
Peneliti CSIS Nicky Fahrizal menyebut kultur kekerasan di Polri berakar dari kurikulum pendidikan yang masih militeristik. Perlu dekonstruksi total pada SPN dan sistem meritokrasi.
Sarah Nuraini Siregar dari BRIN menyoroti penggunaan istilah "oknum" untuk anggota polisi, menegaskan tindakan individu mencerminkan institusi.
Insiden brimob aniaya pelajar di Tual, Maluku adalah cerminan dari masalah sistemik di dalam tubuh institusi Polri.
Usman Hamid, menilai kasus kekerasan Brimob di Tual mencerminkan lemahnya akuntabilitas dan pengawasan di tubuh Polri.
Anggota Komisi III DPR, I Wayan Sudirta, menyebut kasus kematian pelajar di Tual sebagai momentum reformasi kultur Polri. Simak ulasan lengkapnya di sini.
Pakar UI Rissalwan Habdy Lubis mengungkap penyebab kekerasan polisi terus berulang. Dari konsep Habitus hingga motivasi keliru saat rekrutmen. Simak ulasannya.
Peristiwa yang terjadi pada Minggu (22/2) malam tersebut menimpa petugas yang tengah menjalankan tugas sesuai prosedur operasional standar (SOP).
Bidpropam Polda Metro Jaya turun tangan selidiki dugaan penganiayaan tiga petugas SPBU di Cipinang. Pelaku diduga oknum yang catut nama Jenderal saat paksa isi BBM subsidi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved