Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Narkotika Nasional (BNN) mengungkap bahwa Dewi Astutik terlibat ke dalam salah satu jaringan gembong narkoba Fredy Pratama asal Kalimantan. Temuan tersebut disampaikan Kepala BNN RI, Komjen Suyudi Ario Seto, dalam konferensi pers di Tangerang, Selasa (2/12).
Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap keterlibatan Dewi Astutik dalam jaringan besar narkoba internasional yang terhubung dengan gembong asal Kalimantan, Fredy Pratama. Informasi tersebut disampaikan Kepala BNN RI, Komjen Suyudi Ario Seto, dalam konferensi pers di Tangerang, Selasa (2/12).
Suyudi menjelaskan bahwa Dewi Astutik merupakan salah satu WNI yang memiliki pengaruh kuat di kawasan Golden Triangle, wilayah yang meliputi Thailand, Myanmar, dan Laos, serta dikenal sebagai pusat produksi dan peredaran narkotika di Asia Tenggara. Selain Dewi, satu nama lain yang diketahui mendominasi jaringan tersebut adalah Fredy Pratama.
"Berdasarkan hasil analisa terdapat dua nama utama asal Indonesia yang mendominasi penyelundupan narkoba di kawasan Golden Triangle yakni Freddy Pratama," kata Suyudi dikutip dari Antara, Selasa (2/12).
Dewi Astutik juga tercatat masuk daftar pencarian orang (DPO) dari Korea Selatan. Ia diduga mengendalikan perdagangan narkotika lintas kawasan, mulai dari Asia Timur, Asia Tenggara, hingga Afrika.
"Dewi merupakan rekrutmen dari jaringan perdagangan narkotika Asia Afrika dan juga menjadi DPO dari negara Korea Selatan," jelasnya.
Suyudi memastikan tim penyidik BNN kini mendalami peran Dewi terkait dugaan keterhubungannya dengan jaringan Fredy Pratama.
BNN bersama tim gabungan dari Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI berhasil menangkap Dewi Astutik alias Mami, pelaku utama penyelundupan dua ton sabu jaringan Golden Triangle. Penangkapan dilakukan di Sihanoukville, Kamboja, saat Dewi hendak memasuki lobi sebuah hotel.
Operasi berlangsung cepat dan tanpa perlawanan. Dewi ditangkap bersama seorang pria yang diduga terkait dengan aktivitas jaringan tersebut.
Setelah diamankan, Dewi dipindahkan ke Phnom Penh untuk proses interogasi dan verifikasi identitas sebelum dipulangkan ke Indonesia.
"Dewi Astutik selanjutnya akan menjalani pemeriksaan intensif untuk mengungkap alur pendanaan, logistik, dan pihak-pihak yang terlibat dalam jaringan internasional yang beroperasi ke sejumlah negara," jelasnya.
Dewi Astutik alias Mami dikenal sebagai aktor intelektual dalam penyelundupan dua ton sabu bernilai Rp5 triliun yang digagalkan pada Mei 2025. Ia juga terkait sejumlah kasus besar di tahun 2024 yang berhubungan dengan jaringan Golden Crescent.
Di bawah kendali Dewi, jaringan ini melakukan pengambilan dan distribusi narkotika berbagai jenis, termasuk kokain, sabu, dan ketamin, yang diedarkan ke negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara.
"Dia merupakan aktor utama dari penyelundupan dua ton sabu senilai Rp5 triliun dan kasus narkotika lainnya yang terjadi di wilayah Indonesia. Penangkapan dua ton sabu tersebut berhasil menyelamatkan sekitar 8 juta jiwa dari ancaman bahaya narkotika," kata Suyudi. (Ant/P-4)
Posisi strategis Dewi yang diduga beririsan dengan jaringan buronan besar Fredy Pratama menunjukkan bahwa sindikat narkoba kini saling menopang.
Selama ini Dewi Astutik juga diburu atau merupakan buronan Korea Selatan. Dia juga merupakan bagian dari sejumlah jaringan natkoba yang besar.
Penangkapan Dewi Astutik dinilai menjadi momentum membongkar sindikat narkoba internasional. DPR menekankan pentingnya investigasi menyeluruh
Keluarga mengungkap kehidupan sederhana Dewi Astutik yang pernah berjualan nasi bungkus sebelum ditangkap BNN sebagai gembong narkoba
Suami Dewi Astutik syok mengetahui istrinya ditangkap di Kamboja karena kasus sabu 2 ton. Keluarga mengira Dewi bekerja sebagai TKW
Sudding juga menyoroti nilai fantastis Rp 5 Triliun dari peredaran narkotika yang diduga dikendalikan Dewi Astutik.
Kini nama Fredy Pratama hilang di daftar red notice Interpol.
Para tersangka diduga merupakan mantan anak buah gembong narkoba, Fredy Pratama.
Dia mengatakan bahwa masih banyak pelaku yang masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus narkoba yang berada di Thailand, termasuk Fredy Pratama.
Polri menangkap seorang warga Ukraina di Thailand saat hendak pergi ke Dubai. Ia kabur sejak Mei 2024 dan berada di Thailand selama 109 hari.
Budi Gunawan mengungkap berdasarkan data pada 2024, angka prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia mencapai 3,3 juta orang.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved