Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Terinspirasi Pelaku Teror Gereja Charleston hingga Paham Neo-Nazi

Akmal Fauzi
11/11/2025 22:22
Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta Terinspirasi Pelaku Teror Gereja Charleston hingga Paham Neo-Nazi
Kronologis pelaku peledakan di perlihatkan saat rilis penanganan kasus ledakan di SMA Negeri 72 Jakarta di Gedung Promoter Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (11/11/2025)(MI/Usman Iskandar)

JURU Bicara Densus 88 Antiteror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menyebutkan, hasil penyelidikan menunjukkan bahwa pelaku meniru pola dan ideologi sejumlah pelaku kekerasan di luar negeri.

"Ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur. Kita sebutkan ada kurang lebih enam tokoh yang tercatat," kata Mayndra dikutip dari Antara, Selasa (11/11).

Enam tokoh tersebut yaitu:

  1. Eric Harris dan Dylan Klebold, pelaku penembakan di Columbine High School, Colorado, Amerika Serikat (1999), yang beraliran Neo-Nazi.
  2. Dylan Roof, pelaku penembakan di Gereja Charleston, South Carolina (2015), beraliran White Supremacy atau supremasi kulit putih.
  3. Alexandre Bissonette, pelaku penembakan di Gereja Quebec, Kanada (2017), juga beraliran White Supremacy.
  4. Vladislav Roslyakov, pelaku serangan di Politeknik Kerch, Rusia (2018), beraliran Neo-Nazi.
  5. Brenton Tarrant, pelaku penembakan di Masjid Christchurch, Selandia Baru (2019), beraliran fasis, rasis, dan etno-nasionalis.
  6. Natalie Lynn Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Wisconsin, AS (2024), juga menganut Neo-Nazi.

Eka menjelaskan, pelaku SMAN 72 Jakarta aktif di sebuah komunitas daring yang mengagungkan kekerasan. Dalam komunitas itu, tindakan ekstrem seperti penembakan massal sering dipuji sebagai “tindakan heroik”.

"Dalam media sosial tersebut ketika beberapa pelaku melakukan tindakan kekerasan lalu mengunggah ke media tersebut maka komunitas tersebut mengapresiasi sebagai sesuatu yang heroik," katanya.

Eka juga menambahkan pelaku tidak menganut satu ideologi tertentu secara konsisten, melainkan hanya meniru pola kekerasan dari figur-figur tersebut.

"Artinya tidak ada satu ideologi yang konsisten yang dia ikuti, di sini menunjukkan bahwa ABH hanya sekedar terinspirasi dan ada pola yang berurutan yang mereka posting di komunitas media sosialnya dan ini juga menjadi 'awareness' (kesadaran) ke depan bagi kita terkait adanya kekerasan di dunia maya," kata dia. (Ant/P-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akmal
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik