Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Peringatan dari Peristiwa SMA 72, Sekolah dan Orang Tua Perkuat Deteksi Dini Kekerasan di Dunia Maya

Mohamad Farhan Zhuhri
08/11/2025 07:45
Peringatan dari Peristiwa SMA 72, Sekolah dan Orang Tua Perkuat Deteksi Dini Kekerasan di Dunia Maya
Ilustrasi(Dok ist)

PENGAMAT terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara harus menjadi peringatan bagi sekolah dan keluarga untuk memperkuat pengawasan terhadap ekosistem sosial dan digital remaja.

Ia menegaskan, masalah utama bukan pada jaringan teror, melainkan pada lingkungan sosial yang tidak ramah dan lemahnya literasi digital.

"Sekolah harus jadi ruang aman dan beradab. Guru, kurikulum, dan sistem belajar harus memastikan tak ada ruang bagi perundungan. Keluarga pun perlu aktif mengedukasi anak soal penggunaan media digital,” ujar Harits, Sabtu (8/11).

Harits menilai, kasus ledakan itu mencerminkan lemahnya deteksi dini terhadap tekanan sosial yang dialami siswa. Ia mendorong seluruh pihak membangun lingkungan sekolah yang toleran dan empatik agar potensi kekerasan bisa ditekan sejak dini.

Selain itu, ia menekankan pentingnya peran negara dan platform digital untuk memfilter konten yang berpotensi menginspirasi kekerasan.

"Bukan hanya gagasan kelompok ekstrem, tapi juga kekerasan yang datang dari premanisme atau konflik sosial yang bisa menular secara psikologis,” tuturnya.

Menurut Harits, dunia maya kini menjadi ruang rawan bagi remaja yang mengalami tekanan sosial. Akses tanpa kendali bisa menumbuhkan imajinasi kekerasan yang berbahaya.

"Banyak tindakan kekerasan terjadi bukan karena ideologi, tapi karena inspirasi dari kekerasan lain yang mereka lihat setiap hari di media sosial,” katanya.

Ia menilai langkah cepat aparat dalam mengendalikan informasi dan menjaga ketenangan publik jauh lebih penting ketimbang memperluas spekulasi.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah ketenangan dan edukasi publik, bukan ketakutan massal,” pungkas Harits.(H-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik