Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT terorisme dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, menilai peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara harus menjadi peringatan bagi sekolah dan keluarga untuk memperkuat pengawasan terhadap ekosistem sosial dan digital remaja.
Ia menegaskan, masalah utama bukan pada jaringan teror, melainkan pada lingkungan sosial yang tidak ramah dan lemahnya literasi digital.
"Sekolah harus jadi ruang aman dan beradab. Guru, kurikulum, dan sistem belajar harus memastikan tak ada ruang bagi perundungan. Keluarga pun perlu aktif mengedukasi anak soal penggunaan media digital,” ujar Harits, Sabtu (8/11).
Harits menilai, kasus ledakan itu mencerminkan lemahnya deteksi dini terhadap tekanan sosial yang dialami siswa. Ia mendorong seluruh pihak membangun lingkungan sekolah yang toleran dan empatik agar potensi kekerasan bisa ditekan sejak dini.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran negara dan platform digital untuk memfilter konten yang berpotensi menginspirasi kekerasan.
"Bukan hanya gagasan kelompok ekstrem, tapi juga kekerasan yang datang dari premanisme atau konflik sosial yang bisa menular secara psikologis,” tuturnya.
Menurut Harits, dunia maya kini menjadi ruang rawan bagi remaja yang mengalami tekanan sosial. Akses tanpa kendali bisa menumbuhkan imajinasi kekerasan yang berbahaya.
"Banyak tindakan kekerasan terjadi bukan karena ideologi, tapi karena inspirasi dari kekerasan lain yang mereka lihat setiap hari di media sosial,” katanya.
Ia menilai langkah cepat aparat dalam mengendalikan informasi dan menjaga ketenangan publik jauh lebih penting ketimbang memperluas spekulasi.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah ketenangan dan edukasi publik, bukan ketakutan massal,” pungkas Harits.(H-2)
Wacana pembatasan game online sebagai respons atas insiden ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara pada Jumat (7/11) merupakan langkah yang terlalu reaktif dan hanya mencari kambing hitam.
Polisi tengah melakukan pendalaman terhadap sejumlah laman dan situs web yang diakses oleh anak berhadapan dengan hukum (ABH)., terduga pelaku ledakan SMAN 72.
Polda Metro Jaya melaporkan bahwa puluhan korban ledakan di SMAN 72 Jakarta mengalami berbagai jenis luka, mulai luka bakar, gangguan pendengaran, hingga patah tulang tengkorak.
Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra menekankan pentingnya sekolah menyediakan ruang aman bagi siswa yang mengalami kecemasan atau trauma.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti memastikan bahwa terduga pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta telah dipindahkan dari Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) ke Rumah Sakit Polri.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menyatakan keyakinannya bahwa kegiatan belajar di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, akan segera kembali normal setelah insiden ledakan yang terjadi pada Jumat (9/11).
Ia mengingatkan publik agar tidak hanya memandang sang anak sebagai pelaku, melainkan juga sebagai korban dari serangkaian kekerasan dan penelantaran.
Tiga peledak lainnya tidak meledak dan sudah disita oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.
Hadrian menyerukan agar semua pemangku kepentingan pendidikan mulai dari Kemendikdasmen, DPR, KPAI, pemerintah daerah, hingga orang tua bersinergi mencari solusi jangka panjang.
Pengamat meminta publik tidak terburu-buru menyimpulkan peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta Utara sebagai aksi terorisme.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, meninjau langsung para siswa SMA Negeri 72 sekaligus memberikan semangat dan motivasi kepada mereka.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved