Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
TIAP hari harga berbagai kebutuhan pokok terus naik di Pasar Tradisional Kota Depok, Jawa Barat (Jabar).
Harga kebutuhan pokok yang terus naik usai pemilu ini membuat masyarakat Kota Depok, terutama golongan ekonomi lemah teriak dan mempertanyakan tanggung jawab pemerintah yang tidak kunjung mengendalikan harga.
Kenaikan ini masyarakat seolah dipaksa mencari jalannya sendiri dalam menyiasati mahalnya kebutuhan pangan dan kebutuhan pokok dari mulai beras, minyak goreng, gula pasir, daging sapi, daging ayam broiler, telur ayam, susu kental, tepung terigu, cabai, bawang, kol (kubis), jagung, ikan, kacang, ubi, gas LPG, tempe, tahu, mentimun, sawi, kentang, dan jeruk.
Baca juga : Harga Semua Jenis Cabai di Pasar Tradisional di Depok Jelang Idul Fitri 2024 Kian Melambung Tinggi
Tidak hadirnya pemerintah menstabilkan harga menambah beban anggaran rumah tangga sehari-hari dan menyedot anggaran untuk kebutuhan lain karena harga berbagai kebutuhan pokok mahal, bahkan terus naik tiap hari. Keadaan ini jelas memukul ekonomi masyarakat golongan ekonomi rendah.
Salah satu ibu rumah tangga asal Beji, Kusmiati, yang ditemui Media Indonesia Kamis (28/3) di Pasar Kemirimuka, Beji, Kota Depok mengatakan saat ini harga kebutuhan pokok yang cukup mahal membuatnya harus memutar otak karena anggaran rumah tangga yang terbatas.
Ia bercerita saat ini hanya bergantung dari pemasukan sang suami yang bekerja sebagai pegawai kontrak di Kantor Pemerintah Kota Depok.
Baca juga : Emak-Emak di Depok Murka Gara-Gara Harga Beras Bikin Pusing
Dikatakan Kusmiati, naiknya harga seluruh kebutuhan pokok saat ini membuatnya harus menekan pengeluaran untuk belanja kebutuhan lain.
"Cabai merah keriting terakhir (hari ini) Rp38 ribu per kilogram, kemarin masih Rp37 ribu per kilogram. Harga bawang merah besar hari ini Rp42 ribu per kilogram. Sedangkan kemarin masih Rp40 ribu per kilogram, dan harga bawang Bombay hari ini Rp36 ribu per kilogram, kemarin masih Rp35 ribu per kilogram, jeruk Medan hari ini Rp35 ribu per kilogram, kemarin masih Rp32 ribu per kilogram," sambungnya.
"Sedangkan uang belanja dari suami saya per bulan itu Rp1 juta, akhirnya benar-benar harus berhemat, kan uang belanja itu untuk bayar semua dari listrik, air sampai kebutuhan sekolah anak.”.
Baca juga : Caleg Kalah di Pemilu 2024 Mulai Konsultasi ke Psikiater karena Stres dan Depresi
Bagi Kusmiati kenaikan harga kebutuhan pokok ini seharusnya bisa dihindari apabila ada kontrol yang baik dari pemerintah.
Selain itu, menurutnya harus ada subsidi atau bantuan dari dinas terkait untuk mengontrol harga bahan pokok.
“Biaya hidup di Kota Depok itu besar apalagi sekarang kotanya juga semakin maju. Jadi seharusnya pemerintahnya bisa memberikan bantuan juga kepada masyarakat, terutama warga menengah ke bawah seperti kami. Pemerintah pusat juga kan sebenarnya bisa memprediksi harga bahan pokok akan naik apa enggak bisa diantisipasi,” ulasnya.
Baca juga : Real Count KPU: Suara PDIP di Depok Merosot, PSI Meroket
Salah seorang ibu rumah tangga lainnya bernama Lukita mewakili orang Kota Depok yang berpenghasilan pas-pasan mengaku makin dipusingkan dengan mahalnya bahan pokok, yang naik tiap hari.
"Kenaikan harga berbagai bahan pokok alias sembako benar-benar membuat para ibu rumah tangga harus memutar otak. Terutama buat mengatur belanja keluarga. Terlebih, bagi kami yang bergantung pada uang pensiun," kata Lukita.
Lukita mengatakan setiap pagi berbelanja sembako di Pasar Kemirimuka. Dan setiap pagi pula, ia dikejutkan harga sembako yang dari hari ke hari semakin tinggi. Lukita pun hanya bisa mengeluh.
Baca juga : Beras Kualitas Premium di Depok Menghilang Usai Pemilu
Di sebuah rumah yang sangat sederhana, Lukita tinggal bersama keluarganya. Perempuan ini membuka warung nasi untuk menambah penghasilan keluarga. Sebab, uang pensiun suaminya yang hanya Rp500 ribu tidaklah cukup untuk menghidupi seluruh anggota keluarganya.
Sang suami sudah bekerja serabutan, Lukita pun telah membuka usaha. Tapi, semua itu hanya mimpi tetap tidak dapat mengejar harga kebutuhan pokok yang semakin melambung.
Sementara itu, Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (KUPTD) Pasar Kemirimuka, Budi Setyanto menilai naiknya harga kebutuhan pokok tiap hari sangat memukul terlebih yang ekonominya Senin Kamis alias pas-pasan.
Baca juga : Sampah APK hingga Rumah Tangga Berserakan Usai Pemungutan Suara Pemilu di Depok
Ia juga tak menjamin harga turun hingga lebaran akan datang disebabkan ketersediaan barang tidak bisa bertambah dengan kebutuhan yang meningkat.
Ia mengatakan, saat ini situasi harga kebutuhan pokok jauh berbeda dibandingkan tahun lalu.
“Kenaikan harga kebutuhan pokok ini menyulitkan karena terjadi cukup lama sejak pemilu 14 April 2024 (KG/Z-7)
Thailand menggelar pemilu dini tanpa pemenang mutlak. Perebutan kursi perdana menteri dipastikan bergantung pada strategi koalisi partai-partai besar.
Keberhasilan Partai Gerindra dan Prabowo Subianto saat ini merupakan akumulasi dari kedisiplinan organisasi dan kesediaan untuk melewati proses panjang yang tidak instan.
ANGGOTA Komisi II DPR RI Romy Soekarno, menegaskan bahwa sistem pemilu di era modern harus dipandang sebagai infrastruktur digital strategis negara.
Ia juga mengkritik wacana penghapusan pilkada langsung yang kembali mencuat dengan dalih efisiensi anggaran.
POLITIK uang atau money politics di Indonesia telah menjadi masalah sistemis yang merusak kualitas demokrasi dan mengancam integritas pemilu.
Berdasarkan data komparatif internasional, sistem campuran justru berisiko menimbulkan ketimpangan antara perolehan suara dan kursi di parlemen.
Kenaikan harga cabai rawit yang menembus harga eceran tertinggi menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks harga pangan daerah.
Harga cabai rawit dipatok Rp80 ribu, dari harga sepekan sebelumnya yang masih dalam kisaran Rp50 ribu.
Harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp90.000 per kilogram. Beberapa hari sebelumnya, pedagang sempat menjual cabai rawit dengan harga Rp100.000 per kilogram.
Selain daging ayam, harga cabai merah dan daging sapi di Kota Medan juga tercatat mengalami kenaikan pada awal Februari.
Meskipun sejumlah daerah terdampak bencana hidrometeorologi, stok bahan pangan pokok di Sumbar dalam kondisi aman dan mencukupi untuk beberapa bulan ke depan.
Kebutuhan bahan pokok merangkak mulai naik cabai merah dijual Rp88 ribu perkg, cabai rawit Rp72 ribu, cabai keriting Rp66 ribu, cabai japlak Rp87 ribu
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved