Sabtu 04 September 2021, 09:43 WIB

Gugatan Cerai di Depok Meningkat Selama Pandemi

Kisar Rajaguguk | Megapolitan
Gugatan Cerai di Depok Meningkat Selama Pandemi

Medcom.id - M Rizal
Ilustrasi perceraian

 

ANGKA kasus perceraian di Kota Depok selama pandemi covid-19 meningkat.

Panitera Pengadilan Agama Kota Depok Nanang Patoni mengatakan, selama tiga bulan terakhir (Juni, Juli, Agustus), tercatat 571 pasangan yang mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama Kota Depok.

Perselisihan dan pertengkaran yang tidak berkesudahan, ekonomi dan perginya salah satu pasangan merupakan pemicu putusnya hubungan suami-istri.

"Penyebab utama perceraian suami-istri di Kota Depok terbanyak didominasi pertengkaran, perginya satu pasangan, dan karena ekonomi," katanya, Sabtu (4/9).

Baca juga: Dibanding Cari Sertifikat Palsu, Wagub DKI Imbau Warga Vaksin

Dalam catatannya, Nanang mengatakan, kasus perselisihan dan pertengkaran suami-istri selama Juni sebanyak (211 kasus). Sedangkan pada Juli (79 kasus) dan Agustus (145 kasus).

Adapun perceraian karena bosan berumah tangga sehingga memilih pisah pada Juni, Juli, dan Agustus ada 93 kasus.

"Pasangan yang memilih pisah berjumlah 93 kasus, " katanya

Sedangkan angka kasus perceraian karena faktor ekonomi relatif lebih sedikit yakni 35 kasus.

Nanang mengakui selain dari tiga kasus tersebut, ada faktor lain yang memicu perceraian dalam rumah tangga. Yakni, akibat madat, poligami, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), murtad, dan suami atau istri dihukum penjara.

"Ada, tapi angkanya tak banyak yakni, satu sampai tiga orang, " sebut Nanang.

Salah satu pasangan yang mengajukan perceraian dihubungi di Pengadilan Agama di Jalan Boulevard, Grand Depok City Kelurahan Tirta Jaya, Kecamatan Cilodong, Kota Depok bernama Siska mengaku mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama lantaran dia ingin sendiri.

"Sejak pandemi covid-19 yang mewabah selama setahun lebih rumah tangga kami berantakan. Suami yang tadinya kerja sekarang kehilangan pekerjaan, " katanya, Sabtu (4/9).

Siska mengaku, sebelum pandemi, suaminya adalah buruh pabrik. Lantaran pandemi pabrik tempat suaminya bekerja mengurangi karyawan.

Sejak di PHK, kata dia, suaminya sering marah bahkan suka ringan tangan kepadanya.

"Saya sudah mencoba bersabar dan meminta agar mencari pekerjaan menyambung hidup namun tak pernah mau. Daripada ribut dan bertengkar terus menerus saya memutuskan lebih baik pisah dan lebih baik sendiri," ucap Siska. (OL-1)

Baca Juga

Antara

Update 16 Agustus: 2.462 Kasus Covid-19 Terdeteksi di Jakarta

👤MGN 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 20:28 WIB
Angka itu setara dengan 42 persen dari total kasus covid-19 hari...
Ist

Nix Jakarta Perkuat PIK Sebagai Destinasi Wisata Kuliner & Hiburan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 20:03 WIB
Konsep Nix Jakarta  adalah Asian fusion yang memadukan kuliner dari berbagai budaya, gaya, cita rasa, bumbu dan rempah yang disajikan...
Medcom

Walkot Tangsel Beri Semangat 50 Paskibraka yang Baru Dikukuhkan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Selasa 16 Agustus 2022, 19:13 WIB
Pengukuhan bagi 50 pelajar terpilih terdiri 24 putra dan 26 putri, hasil seleksi dari seluruh siswa SMA dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya