Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI bebas kendaraan bemotor (HBKB) di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Minggu, 25 Agustus 2019 pukul 06.00 hingga 11.00 WIB dimanfaatkan masyarakat untuk berolahraga dan menghirup udara segar. Nyatanya polusi udara Jakarta masih tinggi.
Berdasarkan data Airvisual.com pada pukul 09.24 WIB, Jakarta menempati ranking tiga kota terpolusi di dunia. Ukuran udara atau Air Quality Index (AQI) Jakarta berada di angka 154.
"Airvisual menyatakan kategori udara itu tidak sehat bagi sejumlah kelompok," demikian pernyataan Airvisual, Minggu, 25 Agustus 2019.
Airvisual mencatat Kuwait City sebagai kota pertama polusi terparah berada di angka 210. Posisi dua ditempati Kabul, Afganistan, di angka 168 dan posisi empat diduduki Lahore, Pakistan, di angka 145.
Airvisual mencatat wilayah paling parah terpapar polusi di Jakarta yakni Pegadungan sebesar 171, Pejaten Barat sebesar 166, Rawamangun sebesar 155, dan Mangga Dua Selatan sebesar 154.
"Di kawasan Jakarta Pusat ukuran udaranya 129," demikian tercatat di Airvisual.com.
Sejumlah kawasan yang melaksanakan HBKB atau Car Free Day (CFD) yakni Perempatan Pejaten Village Jakarta Selatan, Bundaran HI Jakarta Pusat, Jalan Gajah Mada Jakarta Barat, dan Jalan Danau Sunter Agung di Jakarta Utara. Kemudian di Jalan Pemuda Simpang Arion. Terakhir di Jalan Suryo Pranoto kawasan Harmoni hingga RSUD Tarakan.(OL/Medcom.id)
MEMASUKI periode musim kemarau 2026, ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla serta penurunan kualitas udara kembali meningkat di berbagai wilayah Indonesia. BMKG inagatkan polusi
Kepala BSKDN Kemendagri Yusharto Huntoyungo menekankan pentingnya pengendalian polusi udara yang dilakukan secara terukur, berbasis data, serta didukung kolaborasi antar daerah.
Dalam jangka panjang, paparan terus-menerus dapat memicu penyakit kronis hingga mematikan.
Aktivitas membakar sampah merupakan salah satu pemicu utama memburuknya polusi di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengakui bahwa tantangan polusi di Ibu Kota semakin kompleks, sehingga regulasi lama seperti Perda Nomor 2 Tahun 2005 sudah tidak lagi memadai.
Penelitian terbaru mengungkap polusi udara telah ada sejak Kekaisaran Romawi Kuno.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved