Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
MENJADI salah satu sumber protein hewani yang mudah didapat dan sering dikonsumsi di berbagai belahan dunia, telur menjadi pilihan makanan yang populer karena praktis, ekonomis, dan kaya nutrisi.
Telur mengandung protein berkualitas tinggi, vitamin, mineral, dan lemak sehat yang penting bagi tubuh.
Namun, seperti halnya makanan lain, konsumsi telur secara berlebihan dapat menimbulkan risiko kesehatan. Berikut beberapa bahaya yang mungkin terjadi akibat konsumsi telur dalam jumlah berlebih:
Baca juga : Mitos atau Fakta, Konsumsi Telur Dapat Menyebabkan Kolestrol Tinggi?
Telur mengandung kolesterol yang cukup tinggi. Satu butir telur, dapat mengandung sekitar 185 mg kolesterol, yang mendekati batas harian seseorang yaitu 200 mg.
Konsumsi telur dalam jumlah berlebihan pada satu hari, dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, yang berisiko menyebabkan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke.
Telur, khususnya bagian kuningnya, kaya akan lemak sehat, kolesterol, dan berbagai nutrisi penting seperti vitamin A, D, dan B12. Sementara putih telur tinggi protein, yang baik untuk pembentukan otot dan regenerasi sel.
Baca juga : Penderita Kolesterol Tinggi Boleh Makan Telur enggak Ya?
Namun, kandungan lemak dan kolesterol dalam telur, mempengaruhi metabolisme tubuh dan meningkatkan produksi sebum atau minyak alami kulit.
Dan bisa berpotensi mempengaruhi kesehatan kulit, khususnya bagi mereka yang rentan berjerawat.
Konsumsi telur berlebihan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, seperti perut kembung, gas, dan sakit perut. Hal ini dipicu oleh, kandungan lemak alami yang, memperlambat pencernaan makanan dan menyebabkan perut kembung, gas, dan sakit perut.
Baca juga : Ketahui Maksimum Jumlah Telur yang Aman Dikonsumsi
Selain itu, Putih telur juga memiliki kandungan avidin, sebuah protein yang dapat mengikat biotin. Biotin adalah vitamin B7 yang penting untuk proses metabolisme dan pencernaan gula dalam darah. Kekurangan biotin dapat menyebabkan gangguan pencernaan.
Konsumsi telur non-organik berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, terutama pada wanita, yang berpotensi mengganggu siklus menstruasi dan meningkatkan risiko kondisi seperti sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Hal ini dipicu, karena hormon buatan yang disuntikkan pada unggas dapat melekat dalam kandungan telur.
Baca juga : Apakah Pasien Jantung Aman Mengonsumsi Kuning Telur? Ini Faktanya!
Bagi penderita alergi makanan, mengonsumsi telur unggas dapat memicu reaksi alergi, karena sistem kekebalan tubuh memberikan reaksi berlebih terhadap protein, yang terdapat dalam telur.
Setelah mengonsumsi telur, gejala yang mungkin muncul antara lain ruam merah ataupun gatal.
Lebih parahnya lagi, reaksi alergi akibat telur dapat menyebabkan syok anafilaksis, yaitu alergi yang mengancam jiwa dicirikan oleh, penurunan tekanan darah drastis, pembengkakan pada tenggorokan, serta kesulitan bernapas.
Telur memang memiliki banyak manfaat, namun penting untuk mengkonsumsinya secara bijak. Melansir dari kemenkes ri, konsumsi telur harus dalam jumlah moderat, yaitu sekitar 3-7 butir per minggu, tergantung pada kondisi kesehatan setiap individu. (Z-10)
Sumber:
Matcha dikenal luas sebagai minuman sehat yang kaya antioksidan, mampu meningkatkan energi, serta membantu fokus.
Alergi merupakan salah satu gangguan kesehatan yang umum dialami banyak orang di berbagai usia. Kondisi ini terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap zat asing
Berbagai obat alergi alami memiliki kandungan yang sama efektifnya dengan obat alergi medis dalam meredakan keluhan yang terjadi.
Perlunya tindakan segera untuk mengatasi perubahan iklim pada sektor ekonomi dan sosial.
Anak-anak dengan CMA juga kerap menghadapi kesulitan dalam lingkungan sosial, misalnya pada pesta ulang tahun atau acara sekolah, saat makanan berbasis susu umum disajikan.
Kecemasan orangtua bisa berdampak pada terbatasnya asupan makanan anak karena ketakutan akan reaksi alergi pada anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved