Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
ALERGI susu sapi atau cow’s milk allergy (CMA) tidak hanya menimbulkan gejala fisik, seperti gangguan pencernaan atau ruam kulit, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental dan emosional anak serta keluarga. Meski kasus fisiknya banyak didokumentasikan, sisi psikologis alergi ini kerap luput dari perhatian.
Memiliki anak yang didiagnosis CMA dapat menjadi tantangan emosional bagi orangtua. Orangtua harus membatasi asupan susu dan produk turunannya, yang kadang mengganggu kegiatan sehari-hari, interaksi sosial, bahkan pilihan makanan.
Anak-anak dengan CMA juga kerap menghadapi kesulitan dalam lingkungan sosial, misalnya pada pesta ulang tahun atau acara sekolah, saat makanan berbasis susu umum disajikan. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa tersisih dan memengaruhi citra diri mereka.
Remaja dan orang dewasa dengan CMA juga menghadapi tantangan psikologis. Aktivitas sederhana seperti makan di luar atau belanja bahan makanan dapat menjadi sumber kecemasan karena harus meninjau label makanan dan menjelaskan pembatasan dietnya kepada orang lain.
“Orangtua sering merasa stres dan bersalah, karena harus memastikan anak tetap aman sekaligus menghadapi potensi stigma sosial,” ujar seorang pakar alergi.
Pentingnya dukungan psikososial menjadi sorotan. Tenaga kesehatan, termasuk ahli alergi, ahli gizi, dan psikolog sangat membantu mengurangi beban emosional. Mereka bisa memberi edukasi, informasi, dan strategi untuk menghadapi tantangan CMA.
Selain itu, grup dukungan sebaya atau komunitas online juga penting. Anak dan orangtua bisa berbagi pengalaman, belajar strategi coping, dan merasa tidak sendirian menghadapi alergi ini.
Edukasi tentang alergi, pemicu potensial, dan cara membaca label makanan penting untuk meningkatkan kepercayaan diri anak dalam menghadapi rutinitas sehari-hari.
Ahli gizi anak dapat memberikan informasi tentang gejala, cara merespons reaksi alergi, serta strategi menyampaikan pembatasan diet kepada lingkungan sekitar.
Dalam beberapa kasus, konseling atau terapi kognitif-perilaku (CBT) sangat dianjurkan. Terapi ini membantu anak dan orangtua mengelola stres, mengubah pola pikir negatif, dan membangun strategi coping yang efektif.
Pendekatan holistik yang menggabungkan perawatan medis, dukungan psikososial, edukasi, dan konseling terbukti meningkatkan kesejahteraan anak dengan CMA dan keluarga.
Lingkungan yang mendukung dan pemberdayaan melalui pengetahuan membuat anak dan orangtua lebih siap menghadapi tantangan alergi susu sapi. (Network Health Digest/Z-1)
Alergi susu dan intoleransi laktosa adalah dua kondisi yang sangat berbeda meski keduanya melibatkan masalah pencernaan setelah mengonsumsi produk susu.
Berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.
Sensitif susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling umum di masa kanak-kanak.
Alergi susu sapi, yang merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap protein dalam susu sapi, ternyata dapat dipengaruhi oleh faktor genetik.
Alergi susu sapi adalah kondisi yang sering terjadi pada anak-anak, terutama bayi dan balita. Alergi ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menganggap protein dalam susu sapi
Berbeda dengan alergi susu, intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak mampu mencerna laktosa, yaitu gula alami yang terdapat dalam susu.
Alergi susu sapi terjadi karena sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap protein dalam susu sapi. Kondisi ini dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan kesehatan anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved