Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu jenis kanker yang menjadi momok bagi perempuan ialah kanker serviks atau kanker leher rahim. Padahal, sebenarnya kanker ini bisa dicegah.
"Kanker serviks dapat dicegah dengan melakukan vaksinasi HPV dan IVA test/pap smear," kata Ketua Umum Himpunan Onkologi dan Ginekologi Indonesia (HOGI) Andrijono dalam diskusi virtual belum lama ini.
Kanker serviks terjadi ketika sel-sel kanker berkembang di leher rahim, pintu masuk rahim dari vagina. Kanker yang diakibatkan infeksi human papilloma virus (HPV) ini berada di peringkat kedua kasus kanker tertinggi di Indonesia.
Baca juga : Satu Dosis Vaksin HPV Sudah Cukup untuk Perempuan Muda, WHO Ubah Rekomendasi
Vaksinasi HPV membuat tubuh membentuk antibodi terhadap virus HPV sehingga memiliki kekebalan terhadap virus HPV yang berisiko tinggi sebabkan kanker serviks. Oleh karena itu, vaksinasi HPV penting dilakukan sedini mungkin.
"Tidak hanya kaum perempuan, kaum pria pun dianjurkan untuk mendapatkan vaksin HPV sebagai bentuk pencegahan penyebaran virus tersebut," kata dia.
Melalui program vaksinasi HPV, sebut Andrijono, Australia berhasil menurunkan insiden kanker hingga 40% setelah memulai program vaksinasi HPV nasional sejak 2007.
Baca juga : Keengganan Masyarakat Berikan Anak Vaksin HPV Masih Jadi Tantangan
Bagaimana dengan Indonesia? Andrijono mengungkapkan, dari keseluruhan kasus kanker serviks baru yang ditemukan di Indonesia, diketahui lebih dari 80% sudah pada stadium lanjut. "Pada kondisi ini, pengobatannya menjadi lebih sulit, lebih mahal, serta tingkat keberhasilan juga menurun," imbuhnya.
Data Globocan 2020 menyebutkan kasus kanker leher rahim di Indonesia sebanyak 9,2% dari total kasus kanker. Sedikitnya 50 perempuan di Indonesia meninggal dunia setiap harinya akibat kanker serviks.
Ketua Umum dan Pendiri Cancer Information and Support Center (CISC) Aryanthi Baramuli Putri mengatakan kanker serviks paling banyak diidap orang yang berada di usia produktif, yakni 35-55 tahun. Karena itu, ia menekankan pentingnya deteksi dini dan pemberian vaksin HPV sebagai investasi penting bagi bangsa ini ke depan.
Baca juga : Cegah Kanker Serviks, 90% Anak Perempuan Di Bawah 15 Tahun Harus Divaksin HPV
Dalam kesempatan terpisah, dokter Kandungan dan Kebidanan Subspesialis Onkologi RS Universitas Indonesia, Dr dr Hariyono Winarto, SpOG (K), menyampaikan vaksinasi HPV sebaiknya diberikan ke anak perempuan sejak dini.
"Usia 9-10 tahun sudah bisa divaksinasi," katanya dalam Instagram Live Cegah Kanker Serviks Sejak Dini, beberapa waktu lalu.
Pasalnya, sambung Hariyono, sistem imunitas anak-anak lebih baik ketimbang orang dewasa. Untuk dosis vaksin diberikan selama dua kali. Setelah dewasa, vaksinasi HPV harus diberikan sebanyak tiga kali.
KECANTIKAN sejati bagi seorang wanita sering kali didefinisikan melalui pantulan cermin. Namun, esensi sebenarnya terletak pada pancaran empati dan kekuatan dari dalam hati.
Angka kematian akibat kanker di Indonesia tercatat masih 234.000 kasus tiap tahun, dengan kasus tertinggi kanker payudara yang menurut Globocan 2020 tercatat 66.000 kasus.
PENYANYI Alika Islamadina menerapkan pola hidup yang lebih sehat setelah menjadi caregiver (perawat) bagi ibunya yang mengalami kanker.
Pasien sering datang dengan kondisi umum yang sudah menurun sehingga mempersulit proses tindakan dan pemulihan.
KEMAMPUAN story telling atau bercerita sangat dibutuhkan untuk memberi pemahaman yang benar bagi masyarakat terkait langkah pengobatan yang tepat dalam mengatasi kanker.
Kemajuan teknologi medis saat ini menawarkan tingkat kesembuhan yang tinggi, asalkan masyarakat memiliki keberanian untuk melakukan deteksi dini kanker.
Penerapan higiene dan sanitasi yang ketat dinilai menjadi garda terdepan dalam mencegah penularan penyakit yang kerap muncul akibat meningkatnya populasi kuman di musim hujan.
Program vaksinasi PMK juga dilakukan secara serentak dalam dua periode secara nasional.
Influenza atau yang lebih akrab dikenal sebagai flu sering kali dianggap remeh sebagai gangguan pernapasan biasa.
Daya tular campak cukup tinggi, mirip dengan covid-19. Seseorang yang terinfeksi dapat menularkan virus selama 4 hari sebelum dan sesudah gejala muncul.
Jemaah haji perlu memahami manfaat kesehatan jangka panjang dari vaksinasi, bukan sekadar memenuhinya sebagai syarat administrasi.
Data Kementerian Agama menunjukkan bahwa lebih dari 22% jemaah haji Indonesia pada 2025 merupakan kelompok lansia, dan mayoritas membawa penyakit komorbid.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved