Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MENYUSUI adalah momen berharga bagi ibu dan bayi, namun, apa yang ibu konsumsi juga memiliki dampak langsung pada kesehatan dan perkembangan bayi. Maka, penting bagi ibu menyusui untuk memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsinya agar tidak mengganggu kualitas dan kesehatan ASI serta perkembangan bayi.
Dalam beberapa kasus, ada jenis makanan yang sebaiknya dihindari oleh ibu menyusui. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai makanan-makanan yang harus dihindari:
Ikan merupakan sumber asam lemak omega-3 yang penting untuk perkembangan otak bayi. Namun, beberapa jenis ikan memiliki kandungan merkuri yang tinggi, seperti tuna mata besar, raja makarel, marlin, dan ubin. Paparan merkuri pada bayi dapat mengganggu perkembangan sistem sarafnya, menyebabkan keterlambatan dalam perkembangan motorik halus dan bicara.
Baca juga : Kontroversi Suplemen Minyak Ikan: Apakah Saatnya untuk Berhenti Mengonsumsinya?
Penggunaan suplemen herbal saat menyusui bisa menjadi bumerang karena berpotensi terkontaminasi logam berat selama proses pengolahan. Meskipun banyak suplemen yang diklaim dapat meningkatkan produksi ASI, belum ada penelitian yang membuktikan keefektivitasannya. Sebagai alternatif, ibu dapat memilih makanan seperti gandum, biji-bijian utuh, ragi, dan pepaya untuk meningkatkan produksi ASI.
Kafein dalam makanan dapat mencemari ASI dan sulit dicerna oleh bayi. Dampaknya bisa berupa iritabilitas dan kesulitan tidur pada bayi.
Makanan olahan umumnya rendah serat, vitamin, dan mineral, namun tinggi kalori, lemak jenuh, dan gula tambahan. Pola makan ibu menyusui dapat memengaruhi pola makan anak di kemudian hari.
Konsumsi alkohol saat menyusui juga sebaiknya dihindari. Alkohol dapat terabsorpsi ke dalam ASI dan tetap berada di dalamnya selama beberapa jam setelah dikonsumsi.
Memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi saat menyusui adalah langkah penting dalam menjaga kualitas dan kesehatan ASI serta perkembangan bayi. Oleh karena itu, disarankan bagi ibu menyusui untuk menghindari makanan-makanan tersebut dan memilih alternatif yang lebih sehat untuk nutrisi yang baik bagi dirinya dan bayinya. Selain itu, konsultasi dengan dokter atau ahli gizi juga sangat dianjurkan untuk mendapatkan panduan yang sesuai dengan kebutuhan ibu dan bayi.
Kandungan natrium (garam) dalam satu bungkus mi instan, khususnya varian kuah, sangatlah tinggi yakni mencapai lebih dari 1.000 miligram.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Orangtua juga diminta mewaspadai Bahan Tambahan Pangan (BTP) seperti pewarna atau penyedap rasa yang sering ditambahkan ke dalam makanan.
Pemeriksaan ini dilakukan karena ada laporan pada Sabtu (24/1) yang menduga makanan tersebut terbuat dari bahan Polyurethane Foam (PU Foam) atau material busa kasur maupun spon cuci.
Kebiasaan menyimpan makanan sisa yang sudah matang sempurna untuk kemudian dipanaskan kembali adalah praktik yang kurang baik bagi kesehatan dan kualitas nutrisi.
Makanan yang sejak awal sudah diolah dengan suhu tinggi, seperti digoreng atau dibakar, sangat rentan mengalami degradasi nutrisi jika kembali terkena panas.
Penelitian terbaru mengungkap bayi usia 10 bulan sudah bisa mendeteksi ketidaksesuaian antara kata kerja dan tindakan, jauh sebelum mereka mengucapkan kata pertama.
Dr. David Hill mengungkap 5 perubahan utama dalam perawatan bayi. Panduan penting untuk orangtua baru.
Bayi Rewel Terus? Ini Penyebabnya!. Atasi bayi rewel! Temukan penyebab umum & solusi efektifnya. Panduan lengkap agar si kecil kembali ceria & tidur nyenyak.
Orangtua harus hati-hati memakaikan sarung tangan dan kaki pada bayi. Karena kalau terlalu lama pemakaiannya bisa menghambat perkembangan bayi.
Keseimbangan antara nutrisi dan stimulasi selama 1.000 hari pertama kehidupan anak, karena hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan otak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved