Headline

Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.

Trump Tegaskan Konflik Iran Belum Berakhir, Beri Ultimatum di Selat Hormuz

Thalatie K Yani
28/3/2026 06:14
Trump Tegaskan Konflik Iran Belum Berakhir, Beri Ultimatum di Selat Hormuz
Presiden Donald Trump menegaskan konflik dengan Iran belum usai. Targetkan ribuan titik baru dan berikan ultimatum penutupan Selat Hormuz hingga 6 hari ke depan.(White House)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan tegas terkait eskalasi ketegangan dengan Iran dalam pidatonya di forum Future Investment Initiative (FII) Priority Summit di Miami Beach, Florida, Jumat waktu setempat. Trump menekankan operasi militer di wilayah tersebut masih jauh dari kata selesai.

“Ini belum berakhir. Saya tidak mengatakan ini hampir selesai, tapi memang belum berakhir. Ini harus diselesaikan,” ujar Trump di hadapan peserta delegasi.

Pernyataan ini muncul setelah sebelumnya Trump sempat mengklaim kemenangan atas Iran dalam pernyataan di Oval Office pada Selasa lalu. Namun, kali ini ia menyoroti bahwa masih ada agenda militer yang harus dituntaskan dengan cepat.

Target Militer dan Strategi Hukum

Secara spesifik, Trump mengungkapkan militer AS masih memiliki daftar target yang sangat besar di Iran. “Masih ada 3.554 target lagi yang harus dihantam. Itu akan dilakukan dengan cukup cepat,” cetusnya. Ia juga mengklaim bahwa kekuatan Iran saat ini telah jauh melemah, "Mereka belum pernah melihat yang seperti ini."

Menariknya, Trump secara konsisten menggunakan istilah "konflik militer" ketimbang "perang" dalam pidatonya. Ia mengakui ada alasan legal di balik pemilihan kata tersebut.

“Mereka menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik militer, tapi ada alasan hukum untuk itu,” ungkapnya. Langkah ini diyakini sebagai upaya untuk menghindari hambatan dari War Powers Resolution 1973, yang mewajibkan Presiden mendapatkan izin Kongres jika operasi militer melebihi batas waktu tertentu. Trump memproyeksikan operasi ini akan tuntas dalam lima minggu, tetap berada di bawah ambang batas hukum 60 hari.

Lelucon "Selat Trump" dan Krisis Minyak

Di tengah ketegangan, Trump sempat melontarkan candaan dengan menyebut Selat Hormuz sebagai "Selat Trump" sebelum mengoreksinya kembali. "Maksud saya Hormuz. Maafkan saya, kesalahan yang sangat buruk," candanya yang disambut riuh penonton.

Namun, di balik candaan tersebut, terselip ancaman serius. Trump menuntut Iran membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya. Jalur pelayaran vital yang telah tertutup selama hampir empat minggu ini telah mengacaukan pasar minyak dunia. Trump menetapkan tenggat waktu baru hingga Senin, 6 April mendatang. Jika gagal, ia mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik di seluruh Iran.

Diplomasi dan Perluasan Abraham Accords

Meskipun intensitas militer meningkat, Trump mengklaim Iran sedang berada dalam posisi terdesak untuk bernegosiasi. “Mereka sedang memohon untuk membuat kesepakatan,” klaimnya. Ia menyebut izin melintas bagi 10 kapal tanker minyak baru-baru ini adalah bentuk kompensasi Iran setelah sebelumnya membantah adanya jalur negosiasi.

Di akhir pidatonya, Trump kembali menyuarakan ambisi diplomatiknya untuk memperluas Abraham Accords, prestasi kebijakan luar negeri dari masa jabatan pertamanya. Ia mengajak lebih banyak negara Timur Tengah untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

“Kami berharap semua negara akan bergabung dalam Abraham Accords. Kita memiliki beberapa negara sangat berani yang sudah melakukannya,” tutup Trump. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya