Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Cairkan Hubungan Diplomatik, Raja Spanyol Akui Adanya "Pelecehan" di Masa Kolonial

Thalatie K Yani
18/3/2026 07:34
Cairkan Hubungan Diplomatik, Raja Spanyol Akui Adanya
Raja Felipe VI akhirnya mengakui adanya penyalahgunaan kekuasaan selama era kolonial Spanyol di Meksiko. Langkah ini cairkan hubungan diplomatik yang sempat beku.(Casareal)

RAJA Felipe VI dari Spanyol melakukan langkah bersejarah yang diyakini dapat mencairkan hubungan diplomatik yang membeku dengan Meksiko. Untuk pertama kalinya, seorang monarki Spanyol secara terbuka mengakui adanya penyalahgunaan kekuasaan dan kekerasan yang dilakukan negaranya selama masa penaklukan di Dunia Baru.

Pernyataan tersebut disampaikan sang Raja saat mengunjungi pameran yang didedikasikan untuk perempuan adat Meksiko di Museum Arkeologi Nasional Madrid. Ia menyebut terdapat banyak "pelecehan" selama penaklukan wilayah yang kini menjadi Meksiko.

"Ada hal-hal yang ketika kita pelajari dengan kriteria kita saat ini, nilai-nilai kita saat ini, jelas tidak bisa membuat kita merasa bangga," ujar Raja Felipe VI, Senin waktu setempat.

Respons Positif dari Meksiko

Presiden Meksiko, Claudia Sheinbaum, menyambut baik komentar tersebut dan menganggapnya sebagai langkah maju yang besar. Hubungan kedua negara sebelumnya sempat tegang setelah Spanyol mengabaikan permintaan maaf resmi yang diajukan oleh pendahulu Sheinbaum, Andrés Manuel López Obrador, pada 2019.

Bahkan pada tahun 2024, Sheinbaum mengambil langkah tidak biasa dengan tidak mengundang Raja Felipe ke pelantikannya karena masalah ini. Namun, menanggapi pernyataan terbaru sang Raja, Sheinbaum melihatnya sebagai itikad baik.

"Bisa dikatakan bahwa ini bukan segalanya yang kita inginkan, namun ini adalah gerak rekonsiliasi dari raja terkait apa yang kita bicarakan: sebuah pengakuan atas ekses, pemusnahan yang terjadi selama kedatangan bangsa Spanyol," kata Sheinbaum.

Perdebatan Sengit di Dalam Negeri Spanyol

Meski mendapatkan sambutan hangat di Meksiko, pernyataan Raja Felipe memicu perdebatan panas di spektrum politik Spanyol. Pemerintah yang dipimpin faksi Sosialis menyatakan dukungan penuh atas ucapan sang monarki. Menteri Elma Saiz menegaskan pemerintah "mendukung kata-kata Raja Felipe VI 100%."

Namun, kritik tajam datang dari kelompok sayap kanan. Alberto Núñez Feijóo, pemimpin Partai Rakyat (PP) yang konservatif, menilai bahwa menghakimi peristiwa abad ke-15 dengan standar abad ke-21 adalah sebuah "kegilaan". Ia justru mengaku bangga dengan warisan linguistik dan budaya Spanyol di Amerika.

Sementara itu, partai sayap kanan Vox melangkah lebih jauh dengan menyebut penaklukan tersebut sebagai "karya penginjilan dan peradaban terbesar dalam sejarah universal." Anggota Parlemen Eropa dari Vox, Hermann Tertsch, mengaku terkejut bahwa raja sependapat dengan pihak-pihak yang dianggapnya ingin mendiskreditkan sejarah Spanyol.

Latar Belakang Sejarah

Ketegangan ini berakar pada jatuhnya Tenochtitlán (sekarang Kota Meksiko) ke tangan Hernán Cortés pada tahun 1521. Kedatangan bangsa Spanyol kala itu memang menyebarkan agama Kristen dan bahasa Spanyol, namun juga menyebabkan kematian ribuan penduduk asli akibat tindakan militer dan wabah penyakit.

Kini, pengakuan Raja Felipe diharapkan menjadi pintu pembuka bagi dialog yang lebih mendalam antara kedua negara untuk menyembuhkan luka sejarah yang telah bertahan selama berabad-abad. (BBC/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik