Headline

Polisi harus usut tuntas hingga ke aktor intelektualnya.

Mojtaba Khamenei Ungkap Detik-Detik Kematian Ayahnya, Diserang saat Membaca Al-Quran

Irvan Sihombing
16/3/2026 16:54
Mojtaba Khamenei Ungkap Detik-Detik Kematian Ayahnya, Diserang saat Membaca Al-Quran
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei.(Antara)

PEMIMPIN Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menyatakan bahwa ayahnya, Ali Khamenei tewas akibat serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel saat sedang membaca Al-Quran.  

"Dengan kepergianmu, hati kami semua berduka. Kau selalu mendambakan takdir seperti itu, hingga akhirnya Allah Yang Maha Kuasa mengabulkannya saat kau membaca Al-Quran pada pagi hari kesepuluh bulan Ramadan yang penuh berkah," kata Mojtaba Khamenei dalam pidato yang menegaskan duka sekaligus tekad Iran untuk tetap bersatu menghadapi konflik yang sedang berlangsung.

Ali Khamenei dilaporkan meninggal pada hari pertama serangan udara AS dan Israel ke Teheran pada 28 Februari. Serangan itu kemudian memicu balasan Iran yang memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

Dalam pidatonya, Mojtaba juga menyampaikan apresiasi kepada pasukan Iran yang dinilainya berhasil menahan serangan musuh.

"Terima kasih tulus kami sampaikan kepada para pejuang pemberani kami yang, pada saat bangsa dan tanah air tercinta kami diserang secara tidak adil oleh para pemimpin front kesombongan, telah menghalangi jalan musuh dengan pukulan-pukulan dahsyat mereka dan menghancurkan ilusi mereka untuk dapat mendominasi negara tercinta kami atau bahkan memecah belahnya," ujarnya.

Ia mengaku berada di lokasi serangan dan menyaksikan langsung kondisi jenazah ayahnya. Menurutnya, serangan tersebut juga merenggut nyawa sejumlah anggota keluarganya, termasuk istri, saudara perempuan, keponakan, serta suami dari saudara perempuannya yang lain.

"Saya mendapat kehormatan melihat jenazahnya setelah kemartirannya," ucap Mojtaba.

"Apa yang saya lihat adalah gunung keteguhan hati, dan saya diberitahu bahwa kepalan tangannya yang utuh telah terkepal," tambahnya.

Mojtaba menegaskan Iran akan membalas kematian para korban serangan tersebut.

"Saya meyakinkan semua orang bahwa kami tidak akan menahan diri untuk membalas darah para martir Anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terbatas pada kemartiran pemimpin besar revolusi, melainkan, setiap anggota bangsa yang menjadi martir oleh musuh merupakan kasus terpisah dalam berkas pembalasan," jelasnya.

Ia juga menyinggung kematian sejumlah siswa perempuan sekolah dasar di Minab yang disebut akan menjadi bagian dari proses pertanggungjawaban.

"Sebagian kecil dari pembalasan ini telah terwujud, tetapi sampai sepenuhnya tercapai, berkas ini akan tetap terbuka di atas kasus-kasus lain. Kami akan sangat peka terhadap darah anak-anak kami," tuturnya.

Oleh karena itu, kejahatan yang sengaja dilakukan musuh terhadap sekolah Shajareh-Tayyebeh di Minab, dan beberapa kasus serupa, katanya memiliki status khusus dalam proses pertanggungjawaban ini.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Minggu menyatakan bahwa Mojtaba kemungkinan telah tewas dalam serangan yang sama, seraya mendesak Iran untuk menyerah guna mengakhiri perang.

"Saya mendengar dia (Mojtaba) sudah meninggal, dan jika dia masih hidup, dia harus melakukan sesuatu yang sangat cerdas untuk negaranya, dan itu adalah menyerah," kata Trump.

Trump mengaku tidak yakin dengan kondisi pemimpin Iran tersebut.

"Saya tidak tahu apakah dia masih hidup. Sejauh ini, tidak ada yang bisa menunjukkannya," ujarnya.

Ia juga mengeklaim Teheran tengah mencari jalan negosiasi, meski Washington belum siap mencapai kesepakatan.

"Iran ingin membuat kesepakatan, dan saya tidak ingin membuatnya karena persyaratannya belum cukup baik," pungkas Trump. (NBC News/Fer/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya