Headline

Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.

Dubes Iran: Selat Hormuz tidak Ditutup, Selat Hormuz Tetap Terbuka

Irvan Sihombing
05/3/2026 20:11
Dubes Iran: Selat Hormuz tidak Ditutup, Selat Hormuz Tetap Terbuka
Pemandangan di Selat Hormuz, Iran.(Anadolu/Fatemeh Bahrami)

DUTA Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional meski tensi Timur Tengah meningkat. Hal ini menjadi kabar yang dinantikan negara-negara pengguna jalur pelayaran internasional. 

"Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka," tegas Boroujerdi di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Pernyataan ini merespons laporan sebelumnya yang menyebut Iran menutup Selat Hormuz, yang memicu kekhawatiran di pasar energi global. Penutupan jalur strategis ini diprediksi akan berdampak signifikan bagi negara-negara Asia.

Sebelumnya, seorang komandan senior Garda Revolusi Iran (IRGC) sempat mengeklaim bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan memperingatkan bahwa kapal yang melintas dapat menjadi sasaran.

Boroujerdi membantah klaim tersebut. Ia menegaskan Iran hanya memberlakukan aturan navigasi tambahan bagi setiap kapal yang melintasi jalur strategis ini. 

"Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol lalu lintas saat perang tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz," katanya.

Iran, sambung Boroujerdi, telah menjaga keamanan Selat Hormuz selama ratusan tahun dan prinsip keamanan harus berlaku sama bagi semua negara. Selat Hormuz menjadi jalur vital yang melayani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. 

"Kami sebagai pihak yang menjaga keamanan di Selat Hormuz hanya memberlakukan protokol untuk semua negara. Keamanan ini harus berlaku bagi semua, termasuk Iran, atau sama sekali tidak boleh ada negara yang memanfaatkannya jika kondisinya tidak aman," ucap Boroujerdi.

Ia justru menuding kehadiran militer Amerika Serikat di kawasan sebagai sumber ketidakstabilan. 

"Mereka yang khawatir soal penutupan Selat Hormuz seharusnya bertanya kepada Amerika Serikat. Mereka datang dari tempat yang sangat jauh ke Timur Tengah, lalu justru mengganggu keamanan di Selat Hormuz," cetusnya.

Krisis keamanan di Selat Hormuz mencapai titik kritis. Hingga Selasa (3/3), sebanyak 706 kapal tanker non-Iran dilaporkan tertahan di kedua sisi selat, menyebabkan urat nadi energi dunia nyaris membeku. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, kemacetan ini terjadi menyusul eskalasi militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang meletus sejak akhir Februari 2026.

Data Kapal Tertahan (Per 3 Maret 2026):
  • 334 kapal tanker minyak mentah (Crude Oil)
  • 109 kapal pengangkut produk minyak kotor
  • 263 kapal pengangkut produk minyak bersih

Kapal-kapal tersebut saat ini terpantau berada di berbagai titik tunggu di Teluk Persia di sebelah barat selat, Teluk Oman di sebelah timur, serta Laut Arab. Para nakhoda dan perusahaan pelayaran memilih untuk membuang sauh di luar zona bahaya menyusul ancaman serangan dan lonjakan premi asuransi risiko perang. (Ant/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya