Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Dalam dinamika politik global tahun 2026 yang kian memanas, pernyataan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, kembali mencuri perhatian dunia. Di hadapan para pemimpin dunia pada Konferensi Keamanan Muenchen (MSC) Februari 2026, Sánchez menegaskan bahwa Spanyol adalah negara non-nuklir yang memilih jalur "persenjataan moral" daripada perlombaan senjata atom.
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Sebelumnya, pada September 2025, Sánchez sempat memicu ketegangan diplomatik dengan Israel saat menyebutkan bahwa keterbatasan militer Spanyol, termasuk ketiadaan bom nuklir dan kapal induk—membuat Madrid tidak bisa menghentikan serangan di Gaza sendirian. Namun, di balik pengakuan tersebut, terdapat sejarah panjang dan pilihan strategis mengapa salah satu kekuatan ekonomi Eropa ini memilih untuk tetap "bersih" dari senjata pemusnah massal.
Banyak yang tidak mengetahui bahwa Spanyol hampir menjadi negara nuklir pada masa kediktatoran Francisco Franco. Melalui program rahasia bernama Proyek Islero pada era 1960-an, Spanyol berupaya mengembangkan bom atom sendiri untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional.
Namun, program ini akhirnya dihentikan pada era transisi demokrasi tahun 1980-an. Di bawah pemerintahan sosialis Felipe González, Spanyol resmi menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) pada 1987. Keputusan ini diambil karena Spanyol lebih memilih integrasi penuh ke dalam komunitas Eropa dan NATO, yang memberikan jaminan keamanan tanpa harus memikul beban biaya dan risiko politik memiliki senjata nuklir sendiri.
Spanyol memiliki trauma sejarah dengan nuklir. Pada 1966, sebuah pesawat pengebom B-52 milik AS bertabrakan di atas desa Palomares, Spanyol, dan menjatuhkan empat bom hidrogen. Meskipun tidak meledak secara nuklir, insiden ini menyebabkan kontaminasi plutonium yang luas dan memperkuat sentimen anti-nuklir di masyarakat Spanyol hingga saat ini.
Pada tahun 2026, Pedro Sánchez menggunakan status Spanyol sebagai negara non-nuklir untuk mempromosikan perdamaian. Ia menyebut perlombaan senjata nuklir saat ini sebagai "kesalahan sejarah" (historic error), terutama dengan ancaman integrasi Artificial Intelligence (AI) ke dalam sistem senjata nuklir yang sangat berisiko.
Meskipun tidak memiliki nuklir, Spanyol tetap memperkuat pertahanan konvensionalnya. Di bawah kepemimpinan Sánchez, anggaran pertahanan Spanyol telah meningkat signifikan, dan jumlah pasukan dalam misi NATO telah digandakan. Spanyol memilih untuk berada di bawah "payung nuklir" NATO sambil tetap vokal menyuarakan pelucutan senjata global.
| Aspek Pertahanan | Status Spanyol (2026) |
|---|---|
| Senjata Nuklir | Tidak Memiliki (Non-Nuclear State) |
| Aliansi Keamanan | Anggota NATO (Nuclear Umbrella) |
| Energi Nuklir | 7 Reaktor (Fase Penutupan s.d 2035) |
| Posisi Diplomasi | Mendukung Traktat Larangan Senjata Nuklir (TPNW) |
Pada saat yang sama, ia menegaskan bahwa Teheran telah memperkaya uranium hingga mencapai kemurnian 60%, suatu tingkat yang jauh melebihi kebutuhan energi sipil.
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyatakan siap menjalin hubungan baik dengan Amerika Serikat jika status nuklir negaranya diakui, namun ia menutup pintu bagi Korea Selatan.
PARTAI Buruh Korea Utara membuka kongres, demikian dilaporkan media resminya, Jumat (20/2), yang menandai dimulainya pertunjukan politik untuk mengungkap fase berikutnya senjata nuklir
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
INDONESIA mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia segera melanjutkan perundingan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir baru.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved