Headline

Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.

Mengapa Spanyol tidak Memiliki Senjata Nuklir? Penjelasan PM Pedro Sánchez

Media Indonesia
04/3/2026 10:31
Mengapa Spanyol tidak Memiliki Senjata Nuklir? Penjelasan PM Pedro Sánchez
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menyampaikan pandangannya pada sesi kedua KTT G20 di Nusa Dua, Bali, Selasa (15/11/2022).(Antara)

Dalam dinamika politik global tahun 2026 yang kian memanas, pernyataan Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, kembali mencuri perhatian dunia. Di hadapan para pemimpin dunia pada Konferensi Keamanan Muenchen (MSC) Februari 2026, Sánchez menegaskan bahwa Spanyol adalah negara non-nuklir yang memilih jalur "persenjataan moral" daripada perlombaan senjata atom.

Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Sebelumnya, pada September 2025, Sánchez sempat memicu ketegangan diplomatik dengan Israel saat menyebutkan bahwa keterbatasan militer Spanyol, termasuk ketiadaan bom nuklir dan kapal induk—membuat Madrid tidak bisa menghentikan serangan di Gaza sendirian. Namun, di balik pengakuan tersebut, terdapat sejarah panjang dan pilihan strategis mengapa salah satu kekuatan ekonomi Eropa ini memilih untuk tetap "bersih" dari senjata pemusnah massal.

Sejarah Proyek Islero: Ambisi Nuklir yang Kandas

Banyak yang tidak mengetahui bahwa Spanyol hampir menjadi negara nuklir pada masa kediktatoran Francisco Franco. Melalui program rahasia bernama Proyek Islero pada era 1960-an, Spanyol berupaya mengembangkan bom atom sendiri untuk memperkuat posisi tawarnya di kancah internasional.

Namun, program ini akhirnya dihentikan pada era transisi demokrasi tahun 1980-an. Di bawah pemerintahan sosialis Felipe González, Spanyol resmi menandatangani Traktat Non-Proliferasi Nuklir (NPT) pada 1987. Keputusan ini diambil karena Spanyol lebih memilih integrasi penuh ke dalam komunitas Eropa dan NATO, yang memberikan jaminan keamanan tanpa harus memikul beban biaya dan risiko politik memiliki senjata nuklir sendiri.

Fakta Kunci: Insiden Palomares 1966

Spanyol memiliki trauma sejarah dengan nuklir. Pada 1966, sebuah pesawat pengebom B-52 milik AS bertabrakan di atas desa Palomares, Spanyol, dan menjatuhkan empat bom hidrogen. Meskipun tidak meledak secara nuklir, insiden ini menyebabkan kontaminasi plutonium yang luas dan memperkuat sentimen anti-nuklir di masyarakat Spanyol hingga saat ini.

Moral Rearmament di Tengah Krisis Global

Pada tahun 2026, Pedro Sánchez menggunakan status Spanyol sebagai negara non-nuklir untuk mempromosikan perdamaian. Ia menyebut perlombaan senjata nuklir saat ini sebagai "kesalahan sejarah" (historic error), terutama dengan ancaman integrasi Artificial Intelligence (AI) ke dalam sistem senjata nuklir yang sangat berisiko.

Meskipun tidak memiliki nuklir, Spanyol tetap memperkuat pertahanan konvensionalnya. Di bawah kepemimpinan Sánchez, anggaran pertahanan Spanyol telah meningkat signifikan, dan jumlah pasukan dalam misi NATO telah digandakan. Spanyol memilih untuk berada di bawah "payung nuklir" NATO sambil tetap vokal menyuarakan pelucutan senjata global.

Aspek Pertahanan Status Spanyol (2026)
Senjata Nuklir Tidak Memiliki (Non-Nuclear State)
Aliansi Keamanan Anggota NATO (Nuclear Umbrella)
Energi Nuklir 7 Reaktor (Fase Penutupan s.d 2035)
Posisi Diplomasi Mendukung Traktat Larangan Senjata Nuklir (TPNW)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya