Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Benarkah Pasca Ali Khamenei Wafat Akan Memicu Radikalisme dari Penggantinya di Teheran?

Media Indonesia
03/3/2026 09:25
Benarkah Pasca Ali Khamenei Wafat Akan Memicu Radikalisme dari Penggantinya di Teheran?
Ilustrasi(Antara)

Kematian Ayatullah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 telah menciptakan kekosongan kekuasaan paling krusial dalam sejarah modern Iran. Sebagai otoritas tertinggi yang memegang komando militer, peradilan, dan kebijakan luar negeri, profil penggantinya akan menentukan apakah Timur Tengah akan terjerumus ke dalam konflik yang lebih dalam atau menemukan titik keseimbangan baru.

Mekanisme Transisi: Dewan Kepemimpinan Sementara

Sesuai dengan Pasal 111 Konstitusi Iran, saat ini kekuasaan dijalankan oleh dewan sementara yang terdiri dari Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Peradilan Gholamhossein Mohseni Ejei, dan ulama senior Alireza Arafi. Dewan ini bertugas menjaga stabilitas hingga Dewan Ahli (Assembly of Experts) memilih pemimpin tetap.

Kandidat Utama: Antara Garis Keras dan Warisan

1. Mojtaba Khamenei: Kekuatan di Balik Layar

Putra kedua Khamenei ini dikenal memiliki hubungan sangat erat dengan Garda Revolusi (IRGC). Kekhawatiran akan radikalisme sering dialamatkan kepadanya karena ia dianggap mewakili kepentingan faksi militer yang ingin Iran tetap berada pada jalur konfrontatif terhadap Barat. Namun, tantangan terbesarnya adalah stigma "kepemimpinan turun-temurun" yang sangat dibenci sejak revolusi 1979.

2. Alireza Arafi: Sosok Institusional

Arafi mewakili faksi ulama tradisional yang setia pada ideologi negara namun lebih terukur secara politik. Sebagai kepala seminari di Qom, ia memiliki legitimasi keagamaan yang lebih kuat dibandingkan Mojtaba, yang menjadikannya kandidat "aman" bagi para ulama senior.

Mengapa Radikalisme Menjadi Kekhawatiran?

Ada anggapan bahwa pemimpin baru akan menggunakan retorika radikal untuk mengonsolidasi kekuasaan di awal masa jabatan. Dalam situasi perang atau tekanan eksternal, menunjukkan sikap kompromi bisa dianggap sebagai kelemahan oleh faksi garis keras dalam negeri. Oleh karena itu, pasca-2026, Iran mungkin akan terlihat lebih agresif secara retorika sebagai bentuk pertahanan diri (survival mode).

Faktor Pengubah: Ekonomi dan Tekanan Domestik

Meskipun ideologi tetap menjadi panglima, pemimpin baru Iran tidak bisa mengabaikan realitas ekonomi. Mata Uang Rupiah di pasar internasional mungkin tidak terdampak langsung, namun fluktuasi harga minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz akan menekan ekonomi Iran sendiri. Jika pemimpin baru terlalu radikal hingga memicu sanksi yang lebih berat, ia berisiko menghadapi pemberontakan domestik dari generasi muda Iran yang semakin vokal menuntut perubahan. (E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya