Headline

Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.

Konflik Memanas, Kedutaan AS di Riyadh Diserang Drone

Ferdian Ananda Majni
03/3/2026 11:10
Konflik Memanas, Kedutaan AS di Riyadh Diserang Drone
Ilustrasi(Dok AFP)

KONFLIK bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran terus mengalami eskalasi. Pada Selasa (3/3) Arab Saudi menyatakan bahwa Kedutaan Besar AS di Riyadh menjadi sasaran dua drone di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.

Presiden Donald Trump, dalam penampilan publik pertamanya sejak perang pecah, memproyeksikan konflik akan berlangsung selama empat hingga lima minggu. 

Namun, ia juga membuka kemungkinan durasi yang lebih panjang. Menurut Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, Trump memiliki keleluasaan penuh dalam menentukan arah dan lamanya operasi militer.

Dampak konflik langsung terasa di pasar global. Harga minyak melonjak karena kekhawatiran gangguan pasokan energi, sementara harga emas ikut naik. Sebaliknya, kontrak berjangka AS, saham Eropa, serta pasar saham Asia secara umum mengalami penurunan.

Media Iran menyebut seorang komandan Garda Revolusi menyatakan Selat Hormuz telah ditutup. Ia memperingatkan bahwa Iran akan membakar kapal yang mencoba melintas di jalur strategis tersebut.

Netanyahu: Ini Bukan Perang Tanpa Akhir

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan bahwa operasi militer terhadap Iran kemungkinan masih akan berlangsung dalam waktu tertentu, namun tidak akan berjalan bertahun-tahun. 

Dalam wawancara dengan Fox News pada program Hannity, ia menegaskan bahwa konflik ini memiliki tujuan strategis.

"Ini bukan perang tanpa akhir, ini adalah jalan menuju perdamaian," kata Netanyahu, seraya menyebut dirinya melihat jalur berkelanjutan menuju stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ia juga berpendapat bahwa tekanan terhadap Iran dapat membuka peluang normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. 

Meski demikian, Netanyahu menegaskan bahwa perubahan rezim pada akhirnya merupakan keputusan rakyat Iran, sementara AS dan Israel disebutnya tengah menciptakan kondisi bagi kemungkinan tersebut.

Operasi Epic Fury dan Ancaman Program Senjata Iran

Dalam wawancara yang sama, Netanyahu menilai program rudal balistik dan program bom atom Iran hanya tinggal beberapa bulan lagi menjadi kebal tanpa tindakan militer. Pernyataan itu merujuk pada kebutuhan mendesak untuk meluncurkan Operasi Epic Fury.

Menurutnya, tanpa intervensi cepat, Teheran akan menyelesaikan pembangunan fasilitas yang diperkuat dan bunker bawah tanah baru dalam beberapa bulan, sehingga melindungi program senjatanya dari potensi serangan di masa depan.

"Tindakan harus diambil," kata Netanyahu. 

"Anda membutuhkan Presiden yang tegas seperti Donald Trump untuk mengambil tindakan itu," tambahnya.

Netanyahu juga mengkritik pendekatan sebelumnya terhadap Iran, dengan menyebut serangan terdahulu terhadap fasilitas nuklir dan rudal belum berhasil menghentikan ambisi Teheran. 

Ia menuding kepemimpinan Iran sebagai benar-benar fanatik dalam mengejar tujuan yang ia gambarkan sebagai upaya menghancurkan Amerika.

Seiring berlanjutnya konflik, perhatian dunia kini tertuju pada potensi dampak jangka panjang terhadap stabilitas kawasan dan ekonomi global, khususnya pasokan energi yang sangat bergantung pada jalur Selat Hormuz. (E-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya