Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN diplomatik antara Amerika Serikat dan Uni Eropa (UE) mencapai titik didih baru pekan ini. Parlemen Eropa sempat memblokir ratifikasi kesepakatan dagang bilateral setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengambil alih Greenland dan mengenakan tarif tambahan hingga 35% bagi negara-negara yang menentang ambisinya.
Namun, hanya berselang beberapa jam setelah ancaman tersebut mengguncang pasar, Trump tiba-tiba melunakkan posisinya. Melalui unggahan di platform Truth Social pada Rabu waktu setempat, Trump menyatakan telah membatalkan rencana tarif yang seharusnya mulai berlaku pada 1 Februari mendatang.
"Berdasarkan pertemuan yang sangat produktif dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, kami telah membentuk kerangka kesepakatan masa depan terkait Greenland dan seluruh Wilayah Arktik," tulis Trump.
Meski Trump mengklaim adanya kemajuan, detail mengenai kerangka kerja tersebut masih sangat minim. Dalam sebuah wawancara dengan CNBC, Trump bahkan hanya menyebutnya sebagai sebuah "konsep kesepakatan". Ketidakjelasan ini membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah anggota parlemen Eropa akan ikut melunak atau tetap pada posisi mereka untuk memblokir kesepakatan dagang.
Sebagai konteks, perjanjian perdagangan yang dicapai musim panas lalu menetapkan tarif 15% untuk barang-barang Uni Eropa yang dikirim ke AS. Beberapa bagian dari perjanjian tersebut sudah mulai diberlakukan dan tampaknya belum berubah di tengah polemik Greenland ini.
Sebelum Trump menarik ancamannya, para pemimpin Eropa telah bersiap melakukan serangan balik. Bernd Lange, ketua komite perdagangan Parlemen Eropa, menuduh AS telah melanggar ketentuan perjanjian perdagangan sebelumnya dengan melontarkan ancaman tarif tambahan.
Di sisi lain, pihak administrasi AS melalui Duta Besar Perdagangan Jamieson Greer berdalih Uni Eropa-lah yang gagal memenuhi komitmen, terutama terkait peningkatan pembelian produk pertanian dan energi Amerika.
Ketegangan ini sempat memicu pertemuan darurat negara-negara Eropa pada akhir pekan lalu. Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan dilaporkan meminta Uni Eropa mengaktifkan instrumen anti-koersi, atau yang sering dijuluki sebagai "bazoka perdagangan". Langkah ini mencakup kemungkinan penangguhan lisensi perusahaan-perusahaan AS atau pengenaan pajak pada layanan asal Amerika.
Besarnya taruhan dalam konflik ini tidak main-main. Data Departemen Perdagangan AS menunjukkan total nilai perdagangan antara AS dan Uni Eropa mencapai hampir US$1 triliun pada 2024. Perang dagang skala penuh antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini dipastikan akan membawa dampak sistemik secara global.
Meskipun Trump telah menegaskan di hadapan Forum Ekonomi Dunia bahwa ia tidak berniat menggunakan kekuatan militer untuk mengakuisisi Greenland, ambisi ekonominya tetap menjadi faktor ketidakpastian utama bagi stabilitas hubungan transatlantik di masa depan. (CNN/Z-2)
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Ilmuwan mengungkap penyebab zona gelap di lapisan es Greenland. Debu kaya fosfor memicu pertumbuhan alga yang mempercepat pencairan es akibat perubahan iklim.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, menolak tawaran kapal rumah sakit Donald Trump dan menyindir sistem kesehatan AS yang berbayar.
Greenland mungkin melihat garis pantainya berubah ke arah yang berbeda dibandingkan kota-kota pesisir dunia lainnya. Tapi secara keseluruhan, laut dunia terus naik
Menlu AS Marco Rubio berupaya redakan ketegangan transatlantik di Munich 2026. Simak komitmen Washington dan respons pemimpin Eropa terkait keamanan NATO.
Di tengah ketegangan dengan AS terkait Greenland dan tarif dagang, Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan runtuhnya tatanan dunia di Konferensi Keamanan Munich.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved