Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Trump Tarik Mendadak 30 Duta Besar, ini Dampaknya

Ferdian Ananda Majni
23/12/2025 21:08
Trump Tarik Mendadak 30 Duta Besar, ini Dampaknya
Donald Trump.(Al Jazeera)

PEMERINTAHAN Presiden Donald Trump secara mendadak menarik kembali hampir 30 duta besar karier Amerika Serikat dari berbagai kedutaan besar di seluruh dunia. Langkah ini, menurut sejumlah pejabat yang mengetahui kebijakan tersebut, bertujuan menyelaraskan Departemen Luar Negeri AS dengan agenda kebijakan luar negeri presiden.

Dalam beberapa hari terakhir, Departemen Luar Negeri telah memberi tahu para duta besar bahwa mereka harus kembali ke Washington. Tenggat waktunya hingga pertengahan Januari untuk mereka meninggalkan jabatan masing-masing. 

Sebelum instruksi itu dikeluarkan, Amerika Serikat (AS) sudah menghadapi sekitar 80 posisi duta besar yang kosong di berbagai negara. Kondisi ini menurut para diplomat menciptakan kekosongan serius dalam kapasitas diplomatik AS.

Para pejabat Departemen Luar Negeri, baik yang masih aktif maupun pensiun, menilai bahwa penarikan massal duta besar satu tahun setelah pemerintahan berjalan tidak memiliki preseden dalam sejarah diplomasi modern AS.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri mengatakan bahwa penarikan tersebut merupakan bagian dari proses evaluasi rutin terhadap duta besar di setiap pemerintahan. 

Ia menegaskan bahwa presiden memiliki kewenangan penuh untuk memastikan para utusan yang bertugas di luar negeri benar-benar mendorong agenda America First. 

Pejabat itu juga menyebut pemerintah akan mendorong para duta besar yang ditarik kembali untuk mencari peran baru di dalam Departemen Luar Negeri yang sejalan dengan prioritas presiden.

Langkah terbaru ini berdampak pada sejumlah negara yang memegang peranan penting dalam upaya Trump menampilkan dirinya sebagai pembawa perdamaian global, setelah ia berulang kali membanggakan keberhasilannya mengakhiri delapan konflik sepanjang tahun ini. 

Negara-negara tersebut termasuk Rwanda, Mesir, dan Armenia, tempat Washington selama ini berusaha mempertahankan proses perdamaian yang rapuh dengan dukungan Trump.

Selain itu, sejumlah duta besar juga dicopot dari negara-negara yang tampaknya berada di luar lingkaran utama prioritas kebijakan luar negeri presiden.

Sedikitnya 13 duta besar AS dari kawasan Afrika ditarik kembali, termasuk dari Burundi, Kamerun, Tanjung Verde, dan Nigeria. 

Di Asia, enam duta besar terdampak, terutama di Filipina dan Vietnam. Empat duta besar di Eropa ialah Armenia, Makedonia, Montenegro, dan Slovakia juga diperintahkan untuk kembali ke Washington. Begitu pun beberapa perwakilan AS di Timur Tengah, Asia Selatan dan Tengah, serta Amerika Latin. 

Media Politico pertama kali melaporkan pemecatan sejumlah duta besar tersebut.

Duta besar bertugas atas kehendak presiden. Kedutaan yang tidak memiliki duta besar biasanya dijalankan sementara oleh diplomat karier yang lebih muda. 

Baik presiden dari Partai Republik maupun Demokrat kerap menunjuk sekutu politik dekat atau donor kampanye sebagai duta besar di negara-negara Eropa strategis atau sekutu dekat seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia. 

Sementara itu, diplomat karier umumnya ditempatkan di negara-negara yang kurang menonjol atau memiliki tingkat ketidakstabilan politik yang lebih tinggi. 

Proses pengangkatan duta besar baru memerlukan nominasi presiden dan persetujuan Senat yang bisa memakan waktu berbulan-bulan.

Pada 18 Desember, Senat mengonfirmasi sejumlah besar kandidat pilihan Trump, termasuk duta besar untuk Spanyol, Afrika Selatan, Bangladesh, Latvia, Rumania, dan Peru. 

Sejumlah calon yang diajukan Trump diketahui tidak memiliki pengalaman diplomatik, termasuk individu yang dekat dengan keluarganya, tokoh konservatif berpengaruh, serta sekutu ideologisnya.

Duta besar AS memiliki peran penting dalam memperjuangkan kepentingan ekonomi AS, termasuk di negara-negara tempat perusahaan AS bersaing langsung dengan Tiongkok. 

Dalam praktik diplomasi yang sarat protokol, ketiadaan duta besar dapat menyulitkan diplomat senior AS untuk mengatur pertemuan tingkat tinggi atau menyampaikan pesan sensitif dari Washington.

"Saya sangat prihatin tentang keselamatan dan kesejahteraan personel diplomatik kita di luar negeri tanpa kepemimpinan berpengalaman di lapangan," kata David Schenker, mantan asisten menteri luar negeri untuk urusan Timur Dekat pada masa pemerintahan Trump pertama.

Senator Jeanne Shaheen, Demokrat terkemuka di Komite Hubungan Luar Negeri Senat, menyoroti kesenjangan dengan Tiongkok. Ia mencatat bahwa Beijing memiliki lebih dari 170 duta besar aktif di seluruh dunia, sementara AS saat ini memiliki kurang dari 85. 

"Dengan keputusan ini, Presiden Trump memberi saingan kita kesempatan terbuka," katanya.

Minimnya penjelasan mengenai alasan penarikan beberapa duta besar sementara yang lain tetap bertugas menciptakan ketidakpastian. 

Sejumlah duta besar dilaporkan menghabiskan hari-hari terakhir mereka menunggu panggilan dari Washington untuk mengetahui apakah mereka masih akan mempertahankan jabatan atau tidak.

Sejak kembali ke Gedung Putih pada Januari, Trump juga memusatkan diplomasi strategis di tangan sekelompok kecil utusan khusus yang terdiri dari sekutu lama dari dunia bisnisnya, termasuk utusan Timur Tengah Steve Witkoff dan menantunya, Jared Kushner. 

Keduanya terlibat dalam pembicaraan perdamaian Rusia-Ukraina serta penyusunan rencana pascaperang untuk Gaza.

Awal tahun ini, Departemen Luar Negeri memberhentikan lebih dari 1.300 pegawai di kantor pusat Washington, DC, termasuk 246 petugas layanan luar negeri, sebagai bagian dari upaya restrukturisasi besar-besaran departemen tersebut.

Dalam survei yang dirilis awal bulan ini oleh American Foreign Service Association, serikat yang mewakili petugas layanan luar negeri AS, sebanyak 86% responden menyatakan bahwa perubahan besar di Departemen Luar Negeri sejak Januari berdampak negatif terhadap kemampuan mereka menjalankan prioritas kebijakan luar negeri Amerika Serikat. (The Washington Post/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya