Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Jejak Radikalisasi Pelaku Penembakan Bondi, Dugaan ke Filipina Jalani Pelatihan Militan

Haufan Hasyim  Salengke
16/12/2025 09:34
Jejak Radikalisasi Pelaku Penembakan Bondi, Dugaan ke Filipina Jalani Pelatihan Militan
Naveed Akram, 24, dan ayahnya Sajid mengincar orang-orang di Pantai Bondi pada hari Minggu.(Instagram/ABC)

APARAT keamanan Australia memperluas penyelidikan terhadap latar belakang ideologi dan jaringan pelaku penembakan massal di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan 15 orang saat perayaan Hanukkah. Fokus utama kini tertuju pada jejak perjalanan ayah dan anak, Sajid dan Naveed Akram, ke Filipina, yang diduga berkaitan dengan proses radikalisasi dan pelatihan militan lintas negara, demikian Australian Broadcasting Corporation (ABC) melansir, Selasa (16/12).

Sejumlah sumber keamanan mengungkapkan, kedua pelaku melakukan perjalanan ke Filipina pada awal November, beberapa pekan sebelum serangan terjadi. Setelah tiba di Manila, mereka disebut melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan Filipina dan menjalani pelatihan bergaya militer. Meski demikian, otoritas belum mengonfirmasi secara rinci lokasi serta aktivitas keduanya selama berada di kawasan tersebut.

Pengungkapan itu muncul setelah ABC dalam laporan sebelumnya mengungkap adanya keterkaitan Naveed Akram, 24, dengan sejumlah tokoh dan jaringan pro–ISIS di Australia. Di antaranya adalah pemimpin spiritual jihadis Wisam Haddad serta Youssef Uweinat, perekrut pemuda ISIS yang telah divonis bersalah. Melalui kuasa hukumnya, Haddad membantah keras memiliki pengetahuan atau keterlibatan dalam serangan di Pantai Bondi.

Penyelidik kini menelusuri kemungkinan hubungan Akram bersaudara dengan jaringan jihadis internasional. Menurut pejabat yang diberi pengarahan, keduanya terbang ke Manila pada awal November sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah selatan Filipina. Di kawasan tersebut, “mereka diduga mengikuti pelatihan militan”, ujar seorang pejabat senior kontraterorisme yang enggan disebutkan namanya.

Sajid dan Naveed Akram kembali ke Australia pada akhir November, hanya beberapa pekan sebelum terjadinya penembakan pada Minggu lalu. Namun, sumber keamanan belum mengonfirmasi secara rinci lokasi serta pergerakan keduanya selama berada di Filipina selatan.

Filipina, khususnya wilayah Mindanao, pusat aktivitas berbagai kelompok militan dan separatis muslim (Moro) yang telah berjuang selama berabad-abad untuk otonomi atau kemerdekaan dari pemerintah pusat Filipina, dengan faksi-faksi seperti MILF, Abu Sayyaf, dan ISIS-affiliated groups, meskipun kini sudah ada kesepakatan damai dan pembentukan Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM),

Sebelumnya, badan intelijen domestik Australia, ASIO, pernah menyelidiki Naveed Akram pada 2019 terkait dugaan keterkaitannya dengan sel ISIS berbasis di Sydney. Seorang sumber keamanan menyebutkan, pada usia 18 tahun Naveed menunjukkan sejumlah indikasi niat dan hubungan yang menimbulkan kekhawatiran. Namun, penyelidikan lanjutan saat itu tidak dinilai diperlukan.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengatakan kepada program 7.30 bahwa ASIO tidak menemukan bukti radikalisasi terhadap Sajid maupun Naveed Akram selama penyelidikan enam bulan tersebut. Keduanya juga tidak masuk dalam daftar pantauan terorisme menjelang serangan. Sajid Akram, yang memiliki izin kepemilikan senjata api, juga tidak dilarang mengakses senjata secara legal.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Tony Burke enggan menjawab secara langsung pertanyaan apakah perjalanan ke Filipina sempat menarik perhatian aparat keamanan. Ia hanya menyatakan bahwa sejak penyelidikan ASIO pada 2019, telah terjadi “perubahan signifikan” dalam profil risiko Naveed Akram.

ABC sebelumnya melaporkan bahwa dua bendera ISIS ditemukan di mobil keluarga Akram di lokasi kejadian. Para penyelidik meyakini kedua pelaku telah menyatakan sumpah setia kepada kelompok teroris tersebut. (B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik