Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Harga Disebut Turun, Warga AS Malah Mengeluh: Realita Ekonomi di Era Trump

Ferdian Ananda Majni
11/12/2025 12:05
Harga Disebut Turun, Warga AS Malah Mengeluh: Realita Ekonomi di Era Trump
Ilustrasi.(AFP/CHARLY TRIBALLEAU)

SEORANG warga dari Kansas, Amerika Srikat (AS) Beth Richardson, 45 mengatakan harga kebutuhan pokok terus mengejutkannya. Ia menyebut sebungkus permen karet Mentos yang dibelinya baru-baru ini mencapai hampir 5 dolar.

"Saya seperti, saya akan mati saja sekarang karena ini tidak mungkin," katanya.

Richardson kehilangan pekerjaan pada akhir 2023 setelah perusahaannya memindahkan sebagian operasi ke luar negeri. Ia memilih Kamala Harris pada pemilu 2024.

Ia menganggap tarif Trump telah menembak kakinya sendiri. 

Pada rapat umum Selasa (9/12) malam, Trump kembali menyebut tarif sebagai kata favoritnya, merujuk pada ratusan miliar dolar pendapatan dari pajak impor.

Pendukung seperti John Mohring, 60, seorang pekerja konstruksi dari Wisconsin, tetap membela presiden meski mengalami tekanan harga.

Ia mengatakan harga bahan makanan naik bahkan sebelum Trump kembali menjabat dan kini tampaknya tidak akan turun.

Namun ia mendukung kebijakan tarif dan pengamanan perbatasan Trump.

"Saya memberinya kesempatan untuk membuktikan diri," ujarnya.

Petani kedelai dan jagung di Illinois barat laut, Brad Smith, juga terkena dampak ketika Tiongkok menghentikan pembelian kedelai di tengah perang dagang. Namun pasar mulai pulih sejak Oktober setelah kedua negara mencapai kesepakatan.

Trump juga mengumumkan paket bantuan 12 miliar dolar untuk petani pada Senin (8/12).

Smith mengatakan ia tetap percaya pada strategi ekonomi Trump.

"Mungkin ada hal-hal yang lebih besar yang berperan selain hanya pasar kedelai dan jagung," katanya.

"Gagasan America First itu bagus," tambahnya.

Data Ekonomi Menunjukkan Gambaran Beragam

Indeks kepercayaan konsumen AS pada November turun ke level terendah sejak musim semi. Namun pasar saham tetap berada dekat rekor tertingginya dan para analis memperkirakan ekonomi akan tumbuh 1,9% tahun ini, atau lebih rendah dari 2,8% tahun lalu tetapi masih lebih kuat dari perkiraan.

Beberapa indikator terbaru juga mengisyaratkan pemulihan sektor ketenagakerjaan setelah perlambatan perekrutan di awal tahun.

Dalam pidatonya, Trump mengatakan harga-harga turun drastis dari harga tertinggi dalam sejarah negaranya.

Namun sebenarnya, harga tidak menurun, melainkan meningkat dengan laju yang lebih lambat (disinflasi). Inflasi berada pada angka 3% pada September, sama seperti Januari saat Trump menjabat kembali dan tetap di atas target 2%.

Meskipun demikian, angka tersebut jauh lebih rendah dibanding puncak 9,1% pada masa Joe Biden, ketika AS menghadapi inflasi terburuk dalam empat dekade.

Secara keseluruhan, harga telah naik 25% dalam lima tahun terakhir, sehingga memicu ketidakpuasan luas meski upah juga meningkat. (BBC/I-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Budi Ernanto
Berita Lainnya