Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Putri María Corina Machado Terima Nobel Perdamaian, Ibu Saya tak akan Pernah Menyerah

Thalatie K Yani
11/12/2025 08:46
Putri María Corina Machado Terima Nobel Perdamaian, Ibu Saya tak akan Pernah Menyerah
Putri María Corina Machado, aktivis oposisi Venezuela peraih Nobel Perdamaian 2025, menerima penghargaan di Oslo mewakili ibunya yang masih dalam pelarian. (Nobel Prize)

PUTRI María Corina Machado, peraih Nobel Perdamaian 2025, menerima penghargaan tersebut di Oslo. Machado, tokoh oposisi yang kini hidup dalam pelarian, tidak dapat hadir dalam upacara dan mengirimkan pesan suara sesaat sebelum acara dimulai. Dalam pesannya, ia memastikan dirinya “aman” dan berada dalam perjalanan menuju Norwegia, meski tidak akan tiba tepat waktu untuk menghadiri seremoninya.

Putrinya, Ana Corina Sosa, naik ke podium untuk menerima penghargaan dan membacakan kuliah Nobel yang ditulis ibunya. Dalam pidatonya, Sosa menyinggung dampak pribadi dari perpisahan dengan sang ibu yang telah berlangsung selama dua tahun. Machado bersembunyi sejak pemilu presiden Venezuela pada Juli 2024 yang dianggap sarat kecurangan.

“Dan saat saya menunggu momen itu untuk memeluknya, menciumnya, merengkuhnya setelah dua tahun, saya memikirkan anak-anak lain yang tidak bisa melihat ibu mereka,” ujar Sosa. Ia lalu melanjutkan pidato sang ibu, menyampaikan harapan bahwa suatu hari Venezuela akan kembali merasakan kedamaian dan kehidupan normal. “Kita akan berpelukan lagi, jatuh cinta lagi, mendengar jalanan kita dipenuhi tawa dan musik. Semua kebahagiaan sederhana yang dunia anggap biasa akan menjadi milik kita.”

Upacara di Balai Kota Oslo itu dihadiri keluarga kerajaan Norwegia dan para undangan yang memberikan tepuk tangan panjang serta standing ovation. Direktur Institut Nobel, Kristian Berg Harpviken, mengatakan Machado diperkirakan tiba “antara malam ini dan besok pagi”, namun terlalu terlambat untuk menghadiri seremoni resmi.

Ketiadaan Machado memicu kekhawatiran para pendukungnya, mengingat ia belum tampil di depan publik sejak 9 Januari. Saat itu Ia berbicara dalam aksi protes menentang pelantikan Nicolás Maduro untuk masa jabatan ketiga. Pemilu tersebut ditolak oposisi Venezuela dan banyak negara lain, memicu gelombang protes dan penangkapan sekitar 2.000 orang, termasuk anggota koalisi oposisi.

Machado, yang berhasil menyatukan kubu oposisi sebelum pemilu, memilih bersembunyi karena khawatir ditangkap. Meski demikian, ia tetap aktif menyampaikan pesan melalui wawancara dan media sosial untuk mendorong pendukungnya tetap berjuang. Kemenangannya dalam Nobel Perdamaian memicu harapan baru serta spekulasi apakah ia bisa melakukan perjalanan ke Oslo.

Keluarga Machado telah berada di Oslo menanti kedatangannya. Namun sejumlah warga Caracas menyatakan kekhawatiran kepulangannya nanti ke Venezuela dapat menjadi masalah. Seorang warga bernama María, 66, mengatakan, tanpa keberadaan Machado, para pendukungnya akan “tidak terlindungi”.

Komite Nobel sebelumnya menyoroti “keberanian sipil” Machado dan bagaimana, meski menerima ancaman serius terhadap keselamatannya, ia tetap tinggal di Venezuela hingga akhirnya terpaksa bersembunyi. Ketegangan politik antara pemerintahan Maduro dan Amerika Serikat juga memuncak, di tengah operasi militer AS terhadap kapal-kapal yang dituding terkait penyelundupan narkoba dari Venezuela.

Dalam wawancara sebelum meninggalkan Venezuela, Machado menegaskan kepada media Norwegia NRK, “Saya ingin meyakinkan setiap warga Venezuela bahwa saya akan kembali.” (BBC/Z-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya