Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Konflik Kamboja dan Thailand Makin Panas, Setengah Juta Orang Mengungsi

Dhika Kusuma Winata
10/12/2025 14:58
Konflik Kamboja dan Thailand Makin Panas, Setengah Juta Orang Mengungsi
Ilustrasi.(freepik)

LEBIH dari setengah juta warga di Kamboja dan Thailand pada Rabu (10/12)  mengungsi akibat konflik Kamboja dan Thailand di  perbatasan. Sedikitnya 11 orang tewas dalam rentetan bentrokan terbaru, terdiri atas prajurit Thailand dan warga sipil Kamboja.

Lebih dari 500 ribu penduduk dari kedua negara meninggalkan rumah mereka di wilayah yang menjadi lokasi baku tembak jet tempur, tank, dan drone.

Bentrokan pekan ini menjadi yang paling mematikan sejak pertempuran lima hari pada Juli lalu yang menewaskan puluhan orang. Gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat itu runtuh. Ketegangan yang kembali memanas ini bahkan mendorong Presiden Donald Trump menyatakan niat turun tangan lagi.

Sengketa batas sepanjang 800 km itu berakar dari penentuan garis demarkasi era kolonial dan klaim atas kompleks candi-candi kuno yang kerap memicu konflik bersenjata.

Kamboja maupun Thailand saling tuding. Eskalasi terbaru pada Selasa meluas ke lima provinsi di masing-masing negara. Di Kota Samraong, Kamboja bagian barat laut, dentuman artileri dari arah kompleks candi tua yang terletak di zona sengketa terdengar jelas.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Surasant Kongsiri, mengatakan pemindahan besar-besaran warga dilakukan karena ancaman keselamatan yang dinilai semakin nyata. 

"Lebih dari 400.000 warga telah kami pindahkan ke tempat aman. Kami ingin mencegah terulangnya serangan terhadap warga sipil seperti yang kami alami pada Juli 2025," ungkapnya.

Di pihak Kamboja, juru bicara Kementerian Pertahanan Maly Socheata menyampaikan sebanyak 101.229 warga dievakuasi ke lokasi perlindungan maupun rumah keluarga di lima provinsi sejak Selasa malam.

Warga O’Smach, Lay Non, 55 tahun, yang bekerja sebagai petugas keamanan kasino, meninggalkan kota itu bersama keluarga. Ia merasa lebih tenang berlindung di kompleks wihara dekat patung Buddha besar.

“Pertempuran kali ini lebih keras. Pesawat Thailand menjatuhkan bom,” tuturnya. 

Di Thailand, Pratuan Chuawong, petani yang tinggal kurang dari 500 meter dari perbatasan, kembali dihantui ketakutan serupa seperti pada pertempuran Juli lalu. Setelah insiden sebelumnya, warga desanya membangun bunker di area wihara untuk menghindari serangan artileri.

“Kali ini terasa lebih parah. Suara ledakan semakin keras tiap malam. Saya terus bertanya, apakah pelurunya akan jatuh di sini?" tuturnya.

Situasi yang memburuk turut berdampak pada ajang olahraga Asia Temggara yang tengah berlangsung. Kamboja memutuskan mundur dari SEA Games yang digelar di Thailand. Komite olimpiade Kamboja menyebut desakan keluarga atlet yang meminta mereka segera kembali ke negaranya.

Pertempuran Juli lalu berhasil dihentikan melalui mediasi Amerika Serikat, Tiongkok, dan Malaysia selaku Ketua ASEAN. Pada Oktober, Trump menyokong deklarasi bersama lanjutan dan memamerkan kesepakatan dagang baru dengan kedua negara setelah mereka menyetujui perpanjangan gencatan senjata. Namun, Thailand menangguhkan perjanjian itu sebulan kemudian.

Di Pennsylvania, Donald Trump menyebut konflik Kamboja dan Thailand sebagai salah satu isu internasional yang sedang dia tangani.

“Besok saya harus melakukan panggilan telepon, dan saya pikir mereka akan mengerti. Siapa lagi yang bisa mengatakan, saya akan menelepon dan menghentikan perang dua negara yang sangat kuat?," ucap Trump. (AFP/H-4)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik