Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Paus Leo Serukan Persatuan Libanon dalam Keragaman Agama

Dhika Kusuma Winata
02/12/2025 22:13
Paus Leo Serukan Persatuan Libanon dalam Keragaman Agama
Paus Leo XIV.(Al Jazeera)

HARI kedua kunjungan Paus Leo ke Libanon menjadi panggung seruan persatuan lintas agama di tengah kebuntuan politik yang terus mencengkeram negeri itu. 

Berlokasi di Lapangan Para Syuhada yang dulu menjadi garis pemisah antara Beirut timur yang mayoritas Kristen dan Beirut barat yang mayoritas Muslim semasa perang saudara 1975-1990, Paus menegaskan masa depan Libanon hanya dapat dibangun di atas koeksistensi.

Berdiri di titik simbolis tersebut pada Senin (1/12) waktu setempat, Paus menegaskan Libanon membuktikan perbedaan bukan alasan untuk perpecahan. 

"Dalam masa ketika hidup berdampingan terasa seperti mimpi yang jauh, rakyat Libanon dengan segala keragaman agama menjadi pengingat kuat bahwa persatuan, rekonsiliasi, dan perdamaian dapat terwujud," ujar Leo seperti dilaporkan Al Jazeera.

"Semoga setiap lonceng berdentang, setiap azan, setiap panggilan doa berpadu dalam satu himne yang melangit," imbuhnya.

Lapangan Para Syuhada atau Lapangan Martir, selama bertahun-tahun menjadi lokasi unjuk rasa menuntut perubahan politik. Lapangan itu kembali memegang peran sebagai simbol harapan untuk melampaui sekat sektarian.

Namun, kontrasnya dengan realitas politik Libanon saat ini yang mandek tetap terasa kuat. Paus Leo tiba di Libanon pada Minggu sebagai bagian dari perjalanan luar negeri pertama sejak menjabat, setelah kunjungan singkat ke Turki.

Di Baabda, ia bertemu Presiden Joseph Aoun, satu-satunya kepala negara beragama Kristen di dunia Arab, sebelum berbicara di hadapan diplomat dan pejabat pemerintahan.

Pada Senin pagi, Paus mengunjungi makam St Charbel yang merupakan santo Katolik yang dihormati umat lintas negara di Timur Tengah.

Dari sana, ia melanjutkan perjalanan ke Harissa, tempat berdirinya patung besar Bunda Maria yang menghadap Laut Mediterania. Kerumunan menyambutnya dengan teriakan Viva il Papa.

Menjelang sore, sekitar 15.000 kaum muda berkumpul di luar markas Gereja Maronit untuk mendengarkan pesan sang Paus.

"Ada harapan dalam diri kalian, sebuah anugerah yang tampaknya telah hilang dari kami para dewasa. Kalian masih punya ruang untuk bermimpi, merencanakan, dan berbuat baik," ujar Paus Leo.

Libanon menjadi rumah bagi salah satu komunitas Kristen terbesar di kawasan tersebur mewakili sekitar sepertiga populasi. Kehidupan berbangsa negara itu diwarnai keberagaman yang mencakup umat Syiah, Sunni, Alawit, dan Druze. 

Seluruh sekte besar hadir dalam pertemuan lintas agama itu, termasuk perwakilan komunitas yang terkena dampak kekerasan di Suriah.

Wakil Ketua Dewan Islam Syiah Tertinggi, Sheikh Ali al-Khatib, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Paus, sembari mengingatkan Libanon masih memikul luka dalam akibat serangan Israel yang terus berlanjut.

Ancaman Israel masih membayangi Libanon di tengah kunjungan Paus. Di balik seruan persatuan Paus, Libanon masih terseret dalam ketegangan regional.

Hkzbollah mulai menembakkan roket ke Israel pada 8 Oktober 2023 sebagai bentuk solidaritas setelah Israel melancarkan perang di Gaza. Kelompok itu semakin melemah pascaeskalasi besar Israel pada September 2024.

Walau gencatan senjata antara Israel dan Libanon diumumkan pada November 2024, Israel terus melancarkan serangan lintas perbatasan.

Menurut data PBB, lebih dari 300 orang tewas di Libanon termasuk sekitar 127 warga sipil. Hizbollah sendiri hanya sekali membalas sejak gencatan diberlakukan.

Banyak warga Libanon berharap keberadaan Paus Leo di negara itu menjadi penahan eskalasi. Paus memilih tidak menyinggung langsung konflik tersebut namun sebelumnya ia menyerukan dialog. 

Namun, kekhawatiran masih tetap ada apalagi setelah Paus meninggalkan Beirut nantinya situasi diprediksi dapat berubah drastis dan Israel bisa saja meningkatkan serangan lagi.

Kunjungan Paus juga berlangsung di tengah kebangkrutan Libanon yang belum teratasi. Krisis finansial sejak 2019 telah menjerumuskan jutaan orang ke kemiskinan dan membuat layanan publik runtuh. Libanon juga terus menampung sekitar satu juta pengungsi Suriah dan Palestina yang memperberat tekanan sosial dan ekonomi. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik