Headline

Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.

Sri Lanka Umumkan Keadaan Darurat Pascabanjir dan Tanah Longsor

Haufan Hasyim Salengke
01/12/2025 05:57
Sri Lanka Umumkan Keadaan Darurat Pascabanjir dan Tanah Longsor
Presiden Anura Kumara Dissanayake mengatakan bencana alam kali ini sebagai paling menantang dalam sejarah negara tersebut, dan kerusakan yang ditimbulkan sangat parah.(Getty Images/BBC)

KORBAN tewas akibat banjir dan tanah longsor yang dahsyat di Sri Lanka telah melampaui 330 orang, saat negara itu bergulat dengan salah satu bencana cuaca terburuk dalam beberapa tahun terakhir.

Lebih dari 200 orang hilang, dan sekitar 20.000 rumah hancur, menyebabkan 108.000 orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara yang dikelola pemerintah, menurut laporan Pusat Penanggulangan Bencana.

Para pejabat mengatakan sekitar sepertiga wilayah negara itu tanpa listrik atau air bersih ketika keadaan darurat diumumkan, menyusul Siklon Ditwah.

Presiden Anura Kumara Dissanayake mengatakan ini adalah "bencana alam paling menantang" dalam sejarah negara itu, dan kerusakan yang ditimbulkan begitu parah sehingga perkiraan biaya rekonstruksi sangat tinggi.

Perintah evakuasi telah dikeluarkan di beberapa wilayah karena permukaan air Sungai Kelani terus naik dengan cepat.

Seorang perempuan dari Sri Lanka bagian tengah mengatakan kepada BBC sekitar 15 rumah di daerahnya tertimbun batu-batu besar dan lumpur. Tidak ada satu pun penghuni yang selamat, katanya.

Jumlah kematian tertinggi dilaporkan di Kandy dan Badulla, di mana banyak wilayah masih terputus. "Kami kehilangan dua orang di desa kami... yang lainnya berlindung di sebuah kuil dan sebuah rumah yang masih berdiri," kata Saman Kumara dari Desa Badulla, Maspanna.

"Kami tidak bisa meninggalkan desa, dan tidak ada yang bisa masuk karena semua jalan tertutup tanah longsor. Tidak ada makanan, dan kami kehabisan air bersih," katanya kepada situs web News Center melalui telepon.

Berbicara setelah upaya penyelamatan 24 jam, seorang penumpang mengatakan kepada kantor berita AFP bagaimana angkatan laut harus membantu mereka naik ke atap gedung di dekatnya.

"Kami sangat beruntung... saat kami berada di atap, sebagian atap runtuh... tiga perempuan jatuh ke air, tetapi mereka dibantu kembali ke atap," kata WM Shantha.

Pemerintah telah mengeluarkan permohonan bantuan internasional dan mendesak warga Sri Lanka di luar negeri untuk menyumbangkan uang guna membantu masyarakat yang terdampak.

Siklon Ditwah menghantam pantai timur negara kepulauan itu pada Jumat lalu, tetapi kini telah menjauh dari negara tersebut.

Sri Lanka saat ini sedang mengalami musim hujan, tetapi cuaca ekstrem seperti ini jarang terjadi di pulau tersebut.

Banjir terburuk abad ini di Sri Lanka terjadi pada bulan Juni 2003 yang menewaskan 254 orang dan ratusan ribu orang mengungsi.

Banjir ini terjadi ketika Asia Tenggara juga menghadapi beberapa banjir terburuk yang pernah terjadi di kawasan tersebut selama bertahun-tahun, dengan jutaan orang terdampak di seluruh Indonesia, Malaysia, dan Thailand. (BBC/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya