Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Serangan Maut Berulang Israel dalam Gencatan Senjata, Hamas Tuntut AS

Wisnu Arto Subari
23/11/2025 10:21
Serangan Maut Berulang Israel dalam Gencatan Senjata, Hamas Tuntut AS
Rumah Gaza.(Al Jazeera)

MILITER Israel melancarkan gelombang serangan udara di Jalur Gaza, menewaskan sedikitnya 24 warga Palestina, termasuk anak-anak. Ini menjadi pelanggaran terbaru gencatan senjata yang telah berlangsung selama enam minggu di wilayah yang dilanda perang tersebut.

Serangan pada Sabtu (22/11) itu juga melukai 87 orang lainnya, menurut pihak berwenang di Gaza. 

Para saksi mata mengatakan serangan pertama mengenai mobil di Kota Gaza utara dan diikuti oleh serangan-serangan lain di pusat kota Deir el-Balah dan kamp pengungsi Nuseirat.

Serangan pesawat tak berawak di Kota Gaza menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 20 lain, menurut direktur pelaksana Rumah Sakit al-Shifa, Rami Mhanna. Serangan itu terjadi di lingkungan Remal di kota itu.

Di Deir el-Balah, sedikitnya tiga orang, termasuk seorang perempuan, tewas ketika serangan Israel mengenai rumah di sana.

Khalil Abu Hatab, seorang saksi mata, mengatakan serangan itu menyebabkan ledakan dahsyat.

"Saya melihat ke luar dan melihat asap menutupi seluruh area. Saya tidak bisa melihat apa-apa. Saya menutup telinga dan mulai berteriak kepada yang lain di tenda untuk lari," katanya.

"Ketika melihat lagi, saya menyadari lantai atas rumah tetangga saya telah hilang. Ini gencatan senjata yang rapuh. Ini bukan kehidupan yang bisa kita jalani. Tidak ada tempat yang aman."

Pelanggaran sistematis

Serangan Israel di Nuseirat juga menghantam bangunan tempat tinggal. Anas al-Saloul, yang menyaksikan serangan itu, mengatakan ia sedang duduk di rumahnya ketika sebuah rudal tiba-tiba menghantam rumah tetangganya.

"Kami membawa korban luka dan membawa mereka ke rumah sakit," katanya. "Ada yang terluka dan meninggal. Semua orang di jalan tertutup puing-puing," tambahnya.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, Israel melanggar gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat setidaknya 497 kali sejak diberlakukan pada 10 Oktober.

Sekitar 342 warga sipil tewas dalam serangan tersebut, dengan anak-anak, perempuan, dan lansia menjadi korban terbanyak.

"Kami mengutuk sekeras-kerasnya pelanggaran serius dan sistematis yang berkelanjutan terhadap perjanjian gencatan senjata oleh otoritas pendudukan Israel," kata kantor tersebut dalam pernyataan.

"Pelanggaran-pelanggaran ini merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan protokol kemanusiaan yang melekat pada perjanjian tersebut. Di antara pelanggaran-pelanggaran ini, 27 terjadi hari ini, Sabtu, yang mengakibatkan 24 orang gugur dan 87 orang luka-luka," tambahnya.

Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pihaknya melancarkan serangan setelah seorang pejuang Hamas menyerang tentara Israel di wilayah yang dikuasai Israel.

"Sebagai tanggapan, Israel menghabisi lima (pejuang) senior Hamas," katanya dalam suatu pernyataan.

Tidak ada komentar langsung dari Hamas mengenai para pejuang yang tewas tersebut.

Dalih yang Direkayasa

Sebelumnya pada hari itu, ketika serangan terjadi, kelompok Palestina tersebut menuduh Israel melanggar gencatan senjata dengan dalih yang direkayasa dan meminta para mediator--AS, Mesir, dan Qatar--untuk segera campur tangan.

Mereka juga mengatakan Israel telah bergerak ke arah barat melewati garis kuning, tempat pasukan Israel ditempatkan di Gaza, dan mengubah batas yang ditetapkan sebagai bagian dari kesepakatan.

"Kami menyerukan para mediator untuk segera campur tangan dan memberikan tekanan untuk segera menghentikan pelanggaran ini," kata kelompok Palestina tersebut dalam pernyataan. "Kami juga menuntut agar pemerintah AS memenuhi komitmennya dan memaksa (Israel) untuk melaksanakan kewajibannya serta menghadapi upaya-upayanya untuk melemahkan gencatan senjata di Gaza."

Seorang pejabat senior juga membantah laporan di Al Arabiya milik Arab Saudi yang mengeklaim telah membatalkan gencatan senjata.

"Israel mengarang dalih untuk menghindari perjanjian dan kembali ke perang pemusnahan, padahal Israel sendiri yang melanggar perjanjian setiap hari dan secara sistematis," ujar Izzat al-Risheq, anggota biro politik Hamas, kepada Quds News Network.

Hani Mahmoud dari Al Jazeera, melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan serangan terbaru tersebut menimbulkan trauma bagi warga Palestina.

"Ini pengingat bahwa gencatan senjata cukup rapuh. Faktanya, kekerasan tidak pernah berakhir sama sekali," ujarnya. "Yang berlangsung sangat cepat dalam beberapa tahun terakhir kini berubah menjadi pola pembunuhan yang lambat dan terus-menerus," tambahnya.

Serangan di Tepi Barat

Sementara itu, lebih banyak kekerasan militer dan pemukim Israel dilaporkan pada Sabtu di Tepi Barat yang diduduki di tengah sesuatu yang digambarkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai lonjakan serangan terhadap warga Palestina yang memecahkan rekor.

Kantor berita Palestina, Wafa, mengatakan para pemukim Israel menyerang petani Palestina di tenggara Masafer Yatta, di wilayah Perbukitan Hebron Selatan, Tepi Barat.

Secara terpisah, Wafa mengatakan tentara Israel juga melukai dua warga Palestina dalam serangan di Dura, kota di selatan Hebron.

Serangan Israel di Tepi Barat meningkat di tengah bayang-bayang perang Israel di Gaza yang menewaskan hampir 70.000 warga Palestina di daerah kantong pantai tersebut sejak Oktober 2023.

Serangan ini juga terjadi di saat anggota pemerintah sayap kanan Israel mendesak untuk secara resmi mencaplok wilayah.

Pekan lalu, juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia mencatat bahwa 260 serangan pemukim Israel tercatat pada Oktober, lebih banyak daripada bulan mana pun sejak 2006.

"Lonjakan kekerasan terjadi seiring meningkatnya pembongkaran rumah, penyitaan properti, penangkapan, dan pembatasan pergerakan oleh otoritas Israel, di samping pembangunan permukiman dan pos terdepan yang tak henti-hentinya, serta pemindahan paksa ribuan warga Palestina oleh pemukim Israel dan militer," kata Thameen al-Kheetan dalam pernyataan.

"Penggusuran permanen penduduk Palestina di wilayah pendudukan merupakan pemindahan yang melanggar hukum yang merupakan kejahatan perang. Pemindahan sebagian penduduk sipilnya sendiri oleh Israel ke wilayah yang didudukinya juga merupakan kejahatan perang." (Al Jazeera/I-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik