Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Tolak Isu Genosida Kristiani, Demonstran: AS Ingin Kuasai Sumber Daya Nigeria

Ferdian Ananda Majni
10/11/2025 13:25
Tolak Isu Genosida Kristiani, Demonstran: AS Ingin Kuasai Sumber Daya Nigeria
Tentara Nigeria.(Al Jazeera)

RATUSAN warga di Kota Kano, Nigeria Utara, turun ke jalan pada Sabtu (8/11) untuk memprotes ancaman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang berencana melakukan serangan militer ke Nigeria. Aksi tersebut merupakan penolakan terhadap klaim Trump mengenai dugaan genosida terhadap umat Kristen di negara tersebut.

Menurut laporan Anadolu Agency, massa yang mayoritas berasal dari kelompok Islam membawa spanduk dan plakat berisi pesan penolakan terhadap pernyataan Trump. 

"Kami mengecam ancaman Trump untuk menyerang Nigeria. Tidak ada genosida Kristen di Nigeria. Amerika ingin mengendalikan sumber daya kami," demikian bunyi salah satu tulisan pada plakat demonstran.

Ancaman Trump muncul setelah pada 1 November lalu ia mengumumkan bahwa dirinya memerintahkan Pentagon menyiapkan opsi militer terhadap kelompok teroris di Nigeria untuk melindungi komunitas Kristen. 

Dia juga memperingatkan bahwa Washington akan menghentikan seluruh bantuan jika pemerintah Nigeria terus membiarkan pembunuhan umat Kristen.

"AS dapat masuk ke negara yang sekarang tercela itu dengan senjata api membara," kata Trump dalam pernyataannya.

Pemerintah Nigeria menanggapi keras ancaman tersebut. Kementerian Luar Negeri menyebut klaim adanya persekusi agama di negara itu tidak berdasar dan mustahil terjadi.

"Di tingkat mana pun, baik federal, regional, maupun lokal, hal itu mustahil," sebut Menteri Luar Negeri Nigeria, Yusuf Tuggar.

Situasi keamanan di Nigeria sendiri masih kompleks, dengan ancaman dari kelompok teroris seperti Boko Haram dan afiliasinya, Islamic State West Africa Province (ISWAP). 

Selain itu, konflik antara petani dan penggembala, serta ketegangan etnis seperti yang melibatkan kelompok Masyarakat Adat Biafra (IPOB), turut memperparah kondisi sosial di negara berpenduduk terbesar di Afrika tersebut. (I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik