Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH tengkorak manusia berusia sekitar satu juta tahun yang ditemukan di Tiongkok berpotensi mengubah pemahaman kita tentang asal-usul Homo sapiens. Temuan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Science, menunjukkan manusia modern mungkin mulai muncul setidaknya setengah juta tahun lebih awal dari perkiraan sebelumnya.
Tengkorak yang dinamai Yunxian 2 awalnya diyakini berasal dari Homo erectus, spesies manusia purba berotak besar yang hidup lebih dari satu juta tahun lalu. Namun, analisis terbaru menggunakan rekonstruksi digital dan data genetik justru mengindikasikan tengkorak tersebut merupakan bentuk awal Homo longi, spesies “saudara” Homo sapiens dan Neanderthal.
Menurut para peneliti, jika Homo longi sudah ada satu juta tahun lalu, maka kemungkinan besar Homo sapiens awal dan Neanderthal juga telah hidup pada periode yang sama. Artinya, tiga cabang utama manusia bisa jadi telah berbagi bumi selama hampir 800.000 tahun, jauh lebih lama dari yang selama ini diyakini.
“Evolusi manusia seperti pohon dengan banyak cabang. Temuan ini menunjukkan ada tiga cabang besar yang hidup berdampingan selama hampir satu juta tahun,” kata Prof Xijun Ni dari Fudan University, salah satu peneliti utama.
Penemuan ini dapat menjelaskan sejumlah fosil manusia berusia 800.000 hingga 100.000 tahun yang selama ini sulit diklasifikasikan. Dengan timeline baru, fosil-fosil tersebut bisa dimasukkan ke dalam tiga kelompok besar: Homo sapiens, Neanderthal, atau Homo longi.
Prof Chris Stringer dari Natural History Museum London menambahkan kemungkinan besar ada fosil Homo sapiens berusia satu juta tahun yang belum ditemukan. “Kami yakin buktinya ada di luar sana, hanya belum terungkap,” ujarnya.
Meski mengejutkan, temuan ini masih memicu perdebatan. Beberapa pakar, seperti Dr Aylwyn Scally dari Cambridge University, menilai kesimpulan tersebut masih tentatif karena metode penanggalan fosil dan analisis genetik memiliki tingkat ketidakpastian tinggi. “Butuh lebih banyak bukti, terutama dari data genetik tambahan, sebelum kita bisa benar-benar yakin,” katanya.
Saat ini, bukti tertua Homo sapiens yang diketahui berasal dari Afrika, berusia sekitar 300.000 tahun. Penelitian baru ini memunculkan kemungkinan bahwa evolusi manusia modern bisa saja juga terjadi di Asia, namun para ahli sepakat masih diperlukan data lebih luas untuk memastikannya.
Tengkorak Yunxian 2 ditemukan bersama dua tengkorak lain di Provinsi Hubei, Tiongkok. Kondisinya yang rusak membuatnya sempat salah dikategorikan sebagai Homo erectus. Tim peneliti kemudian menggunakan pemindaian digital, pemodelan komputer, dan pencetakan 3D untuk merekonstruksi bentuk aslinya, yang akhirnya mengungkap identitas barunya.
Jika terbukti benar, penemuan ini akan menulis ulang salah satu bab penting dalam sejarah manusia, memperlihatkan Homo sapiens memiliki perjalanan evolusi yang jauh lebih panjang dan kompleks dari yang selama ini diperkirakan. (BBC/Z-2)
Fosil manusia berusia 770 ribu tahun ditemukan di Maroko. Temuan ini memperkuat teori asal Homo sapiens dari Afrika dan mengguncang peta evolusi.
Para peneliti telah mengidentifikasi spesies manusia purba baru, yang mereka beri nama Homo juluensis, yang berarti kepala besar.
Penelitian genetika menunjukkan bahwa Homo sapiens puluhan ribu tahun lalu melakukan kawin silang berulang dengan Neanderthal, Denisovan, dan hominin lain.
Sebuah tengkorak manusia berusia satu juta tahun ditemukan di Tiongkok dan memicu pertanyaan baru tentang asal-usul manusia.
Para ilmuwan berhasil menyusun kembali bentuk asli tengkorak manusia berusia sekitar satu juta tahun yang ditemukan di Tiongkok.
Sebuah tengkorak manusia berusia satu juta tahun ditemukan di Tiongkok dan memicu pertanyaan baru tentang asal-usul manusia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved