Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa pihaknya mengetahui lokasi persembunyian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Namun, mereka memilih untuk tidak melakukan serangan terhadapnya saat ini.
Hal ini disampaikan di tengah meningkatnya spekulasi bahwa AS sedang mempertimbangkan aksi militer terhadap fasilitas nuklir Iran.
"Kami tahu persis di mana yang disebut 'Pemimpin Tertinggi' itu bersembunyi," kata Trump dengan tegas seperti dilansir New York Post, Rabu (18/6).
"Ia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana. Kami tidak akan menghabisinya, setidaknya untuk saat ini," sebutnya.
Trump menambahkan bahwa AS tidak menginginkan adanya korban jiwa di antara warga sipil maupun tentara Amerika.
"Namun, kami tidak ingin rudal ditembakkan ke warga sipil atau tentara Amerika. Kesabaran kami sudah menipis. Terima kasih atas perhatian Anda terhadap masalah ini!" ucapnya.
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump memimpin rapat selama 80 menit bersama para pejabat tinggi keamanan nasional di Situation Room, Gedung Putih, pada Selasa (17/6) siang waktu setempat.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.
Salah satu sumber dari Pentagon menyatakan, seperti biasa, hanya Presiden Trump yang akan mengambil keputusan.
Sumber tersebut juga memperkirakan ada kemungkinan sebesar 80% bahwa AS akan melancarkan serangan udara untuk mendukung Israel.
Trump mengatakan kepada awak media bahwa dirinya tidak terlalu berminat untuk bernegosiasi dan ingin melihat akhir yang sebenarnya dari konflik antara Iran dan Israel.
Sementara itu, beberapa sumber di AS dan Israel menyebut bahwa kedua negara kini berada pada peluang strategis untuk secara efektif menghentikan program nuklir Iran.
Posisi aset militer AS di wilayah Timur Tengah disebut menunjukkan kesiapan untuk mendukung Israel dalam serangan udara yang ditujukan menghancurkan situs-situs nuklir bawah tanah Iran.
Dalam lingkup pemerintahan Trump, terdapat perbedaan pandangan terkait intervensi militer.
Vance dan Gabbard dikenal sebagai bagian dari sayap non-intervensionis.
Gabbard, mantan anggota Kongres dari Hawaii yang kini mendukung Trump, sebelumnya menyatakan bahwa Iran belum dalam posisi mengembangkan senjata nuklir, bertentangan dengan klaim dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Gabbard juga disebut aktif mengikuti perkembangan krisis sejak dimulainya konflik pada 13 Juni, dan terus hadir dalam pertemuan-pertemuan penting Gedung Putih, meskipun absen dalam pertemuan penting di Camp David pada 8 Juni lalu.
Sebaliknya, Hegseth dan Rubio termasuk dalam kelompok yang lebih hawkish, mendukung pendekatan keras terhadap Iran.
Mereka juga hadir dalam rapat tersebut bersama Steve Witkoff, utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, yang sebelumnya berupaya menjalin komunikasi diplomatik dengan Teheran untuk menghindari konfrontasi bersenjata.
Namun, menurut konfirmasi The NY Post, pertemuan di Situation Room tidak menghasilkan rencana diplomatik baru.
Meski sebelumnya Trump sempat menolak rencana Israel untuk menargetkan Khamenei, baik dirinya maupun Netanyahu kini menunjukkan tanda-tanda bahwa kesabaran mereka terhadap program nuklir Iran hampir habis.
Sebagai bagian dari persiapan militer, AS telah mengerahkan bom penghancur bunker seberat 30.000 pon yang dirancang untuk menghancurkan fasilitas bawah tanah, melampaui daya rusak bom 2.000 pon yang digunakan oleh Israel.
Dengan situasi yang kian memanas, dunia kini menanti keputusan akhir dari Trump yang akan sangat menentukan arah konflik di kawasan. (H-3)
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menyerukan tindakan keras “tanpa kompromi” terhadap pihak-pihak yang ia sebut sebagai penghasut, menyusul gelombang unjuk rasa.
Analisis mendalam alasan Ayatollah Ali Khamenei anti-Amerika Serikat, mulai dari trauma Kudeta 1953 hingga ancaman perang budaya (Soft War).
Gelombang protes baru kembali mengguncang Iran pada Jumat, menjadi tantangan paling serius terhadap pemerintahan Republik Islam dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menegaskan negaranya tidak gentar menghadapi ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump, meski Iran tengah diguncang.
Presiden AS Donald Trump memperingatkan otoritas Iran agar tidak membunuh demonstran damai. Ia menegaskan Washington siap mengambil tindakan tegas.
Sejumlah anggota parlemen Inggris mengusulkan boikot Piala Dunia dan pembatalan kunjungan kenegaraan Raja Charles ke AS sebagai respons atas tindakan Donald Trump terkait Greenland.
Denmark menambah jumlah pasukan militer di Greenland menyusul ancaman tarif dari Donald Trump. NATO dan Uni Eropa tegaskan kedaulatan Denmark atas pulau tersebut.
Tiga kardinal AS mengeluarkan pernyataan bersama yang jarang terjadi, menyerukan kebijakan luar negeri bermoral dan menolak perang sebagai instrumen kepentingan nasional.
Presiden Prancis Emmanuel Macron resmi menolak undangan Donald Trump untuk bergabung dalam Dewan Perdamaian Gaza. Apa alasan di baliknya?
Presiden Donald Trump mengaku menerima 'informasi buruk' terkait pengerahan pasukan Eropa ke Greenland.
Donald Trump mengklaim telah menghentikan 8 perang besar demi gelar Nobel Perdamaian. Benarkah?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved