Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
POSISI Ukraina di Kursk, Rusia semakin memburuk. Para blogger militer dari kedua belah pihak melaporkan Ukraina kini berada dalam posisi sulit.
Militer Ukraina menyebut pasukan Rusia menggunakan pipa gas untuk melancarkan serangan mendadak di salah satu area. Pada Minggu, Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim merebut empat permukiman dalam beberapa hari terakhir.
Ukraina melancarkan invasi mendadak ke Kursk pada Agustus lalu. Perebutan wilayah itu sebagai alat tukar dalam negosiasi dengan Rusia dan mengalihkan sumber daya Moskow dari garis depan di timur.
Namun, sejak saat itu, Ukraina kesulitan mempertahankan wilayahnya di Kursk. Ditambah lagi saat ini tekanan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar menyepakati perdamaian dengan menghentikan bantuan militer dan berbagi intelijen.
Pada Minggu, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan pasukan mereka telah merebut kembali permukiman Malaya Loknya, Cherkasskoye Porechnoye, dan Kositsa dari kendali Ukraina.
Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, menyebut serangan Rusia di Kursk semakin tak terbendung.
“Tutupan dari kuali yang berasap ini hampir tertutup rapat,” ujar Medvedev pada Minggu. “Serangan terus berlanjut. Lanjutkan!”
Para blogger militer Ukraina dan Rusia memperingatkan posisi Kyiv di wilayah ini semakin rapuh, dengan pasukan Rusia yang didukung tentara Korea Utara terus melancarkan serangan tanpa henti.
CNN tidak dapat secara independen memverifikasi laporan pertempuran ini, tetapi para blogger tersebut sebelumnya dikenal memberikan laporan yang akurat mengenai situasi di medan perang.
Laporan terbaru menunjukkan Rusia kini menargetkan kota perbatasan Sudzha, berupaya memutus jalur logistik utama bagi pasukan Ukraina di dalam Kursk. Blogger militer Ukraina, Yuriy Butusov, melaporkan pasukan Rusia memasuki Sudzha pada Sabtu melalui jalur pipa gas.
“Rusia menggunakan pipa gas untuk menyusupkan satu kompi penyerang tanpa terdeteksi oleh drone, dan berhasil menerobos formasi tempur kami,” tulis Butusov.
Ia menambahkan bahwa pipa tersebut kini berada di bawah pengawasan ketat, sementara pasukan Rusia yang berada di sana tengah “dihabisi.”
Namun, Butusov memperingatkan pasukan Rusia dan Korea Utara di wilayah Kursk memiliki “keunggulan kekuatan yang signifikan” dan “terus menyerang tanpa henti.”
Sekitar 12.000 tentara Korea Utara telah dikerahkan ke Kursk, memperkuat operasi ofensif Rusia di dalam wilayahnya sendiri. Jika Rusia berhasil merebut kembali seluruh Kursk, mereka dapat mengalihkan lebih banyak pasukan ke Ukraina timur.
Blogger militer Rusia, Yuriy Kotenok, melaporkan pasukan Rusia kini menyerang Sudzha dari berbagai arah. “Setiap pergerakan musuh di area ini terdeteksi oleh drone kami, dan personel serta peralatan mereka langsung diserang,” tulisnya di Telegram. Kotenok juga mengklaim ada “informasi” Ukraina mungkin akan menarik diri dari Kursk “berdasarkan situasi saat ini.”
Sementara itu, blogger Ukraina, Sternenko, menyatakan situasi logistik di Kursk kini sudah “sangat kritis.” Selain itu, kondisi jalan yang buruk semakin memperumit situasi. Dengan datangnya musim semi dan meningkatnya suhu, tanah mulai mencair, membuat jalanan berlumpur dan semakin sulit dilalui. “Semua kondisi ini sangat menguntungkan bagi Rusia,” tambahnya.
Kekhawatiran terbesar Kyiv adalah kemajuan Rusia dapat memutus jalur suplai pasukan Ukraina di Kursk.
Dalam laporan besar bulan lalu, Institut Studi Perang (ISW) yang berbasis di AS memperkirakan Ukraina memiliki maksimal 30.000 tentara yang ditempatkan di wilayah tersebut.
Serangan Ukraina ke Kursk sebelumnya sempat mempermalukan Moskow dan memunculkan pertanyaan tentang kemampuan Rusia dalam melindungi perbatasannya sendiri. Presiden Rusia Vladimir Putin berulang kali berjanji bahwa pasukannya akan merebut kembali seluruh wilayah tersebut.
Namun, Kyiv kini telah kehilangan sekitar setengah dari wilayah yang sebelumnya dikuasainya di Kursk.
Dengan kemajuan Rusia yang semakin nyata, beberapa blogger Ukraina mulai mempertanyakan apakah serangan di Kursk masih memiliki nilai strategis.
“Saya tidak pernah berpikir akan mengatakan ini. Tapi mungkin sudah saatnya kita ‘menutup toko’ dari arah Kursk. Pasukan kita kesulitan di sana,” ujar blogger Serhii Flesh.
“Sebagai pengalihan sumber daya musuh, operasi ini sudah lama membuahkan hasil. Namun, sebagai alat tawar-menawar politik, kini masih menjadi pertanyaan.” (CNN/Z-2)
Presiden Rusia Vladimir Putin meminta pasukan Ukraina di Kursk menyerah di tengah negosiasi gencatan senjata yang dimediasi AS.
Vladimir Putin belum tanggapi proposal gencatan senjata Ukraina dan AS, namun ia menegaskan militer Rusia harus "sepenuhnya membebaskan" wilayah Kursk.
Rusia dan Ukraina berhasil menukar 103 tawanan perang masing-masing, dalam kesepakatan terbaru yang dimediasi oleh Uni Emirat Arab.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
Kim Jong-un sinyalkan penguatan nuklir dan ICBM pada Kongres Partai ke-9. Pyongyang fokus pada pembangunan militer luar biasa dan konsolidasi kekuasaan absolut.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
INDONESIA mendesak Amerika Serikat (AS) dan Rusia segera melanjutkan perundingan untuk mencegah perlombaan senjata nuklir baru.
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan serangan ke 148 target militer Ukraina, termasuk depot amunisi, formasi militer, dan menembak jatuh ratusan drone.
Letjen Vladimir Alexeyev, petinggi intelijen GRU Rusia, ditembak di apartemennya di Moskow. Serangan ini menambah panjang daftar jenderal Rusia yang jadi target.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved