Headline

YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.

Kim Jong-un Umumkan Rencana Besar Nuklir Korea Utara di Kongres Partai 2026

Haufan Hasyim Salengke
10/2/2026 07:58
Kim Jong-un Umumkan Rencana Besar Nuklir Korea Utara di Kongres Partai 2026
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, membalas penghormatan pasukan pengawal di Kementerian Pertahanan Nasional pada Minggu (8/2).(KCNA/AFP)

PEMIMPIN tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un, memberikan sinyal kuat bahwa negaranya akan melakukan pembangunan militer besar-besaran dalam lima tahun ke depan. Fokus utama pembangunan ini mencakup penguatan senjata nuklir dan kemampuan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang lebih canggih, seiring persiapan penyelenggaraan Kongres Ke-9 Partai Buruh pada akhir Februari 2026.

Dalam kunjungannya ke Kementerian Pertahanan Nasional memperingati HUT ke-78 Tentara Rakyat Korea (KPA), Minggu (8/2), Kim menegaskan bahwa militer akan memegang peran "luar biasa" yang tidak tergantikan dalam periode mendatang. "Lima tahun ke depan akan menjadi periode di mana peran luar biasa tentara kita naik lebih tinggi lagi," ujar Kim sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita negara, KCNA.

Peta jalan pertahanan baru

Para analis menilai pernyataan Kim sebagai indikasi akan diluncurkannya rencana pertahanan lima tahun yang baru. Pada kongres sebelumnya di tahun 2021, Pyongyang telah menetapkan daftar ambisius, mulai dari satelit pengintai militer hingga kapal selam bertenaga nuklir. Kongres mendatang diharapkan menjadi ajang untuk mengumumkan fase berikutnya dari pencegahan perang nuklir.

Cho Han-bum, peneliti senior di Korea Institute for National Unification, menyebutkan bahwa rencana ini kemungkinan besar mencakup penguasaan teknologi re-entry atmosfer untuk ICBM. Teknologi ini sangat krusial bagi Korut agar hulu ledak nuklir mereka mampu mencapai daratan Amerika Serikat (AS) dengan aman tanpa terbakar di atmosfer.

Selain teknologi rudal, Kim juga memberikan apresiasi khusus bagi unit operasi khusus luar negeri. Pernyataan ini secara tersirat merujuk pada pengerahan pasukan Korut yang dikirim untuk mendukung Rusia dalam perang melawan Ukraina. Kim membingkai keterlibatan militer di luar negeri sebagai bagian dari "perang pembebasan" melawan imperialisme AS.

“Pembingkaian ini tidak hanya berfungsi sebagai pembenaran politik untuk pengerahan di luar negeri, tetapi juga sebagai bagian dari perjuangan yang lebih luas untuk memperkuat kemampuan pertahanan, termasuk pengembangan sistem rudal nuklir dan modernisasi senjata konvensional,” jelas Yang Moo-jin, seorang profesor di University of North Korean Studies.

Konsolidasi kekuasaan 

Di luar aspek militer, Kongres Ke-9 diprediksi akan menjadi tonggak sejarah bagi kepemimpinan personal Kim Jong-un. Muncul spekulasi kuat bahwa jabatan 'Presiden DPRK' akan dipulihkan kembali setelah dihapus sejak wafatnya Kim Il-sung 32 tahun silam.

Langkah ini dipandang sebagai upaya mengukuhkan 'Kim Jong-unisme' sebagai ideologi resmi dan menyatukan kekuasaan partai, negara, dan militer di bawah kendali tunggal yang lebih formal. Pengamat juga akan mencermati status politik saudara perempuan Kim, Kim Yo-jong, serta potensi kemunculan putri Kim, Ju-ae, dalam garis suksesi.

Dinamika hubungan luar negeri

Meskipun retorika militer menguat, Kim tampak menggunakan nada yang lebih terukur terhadap Washington, kemungkinan guna membuka peluang negosiasi bersyarat. Di sisi lain, hubungan dengan Korea Selatan diprediksi tetap membeku, di mana Pyongyang secara konsisten mendefinisikan hubungan antar-Korea sebagai hubungan antara dua negara yang bermusuhan secara permanen.

Menanggapi situasi ini, para ahli menyarankan Seoul untuk tetap memperkuat aliansi dengan AS sambil mencoba memulihkan jalur komunikasi militer guna mencegah bentrokan yang tidak disengaja di perbatasan. (South China Morning Post/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya