Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBUAH "pemboman" pada Jumat malam menghantam sebuah pangkalan militer di Irak tengah yang menampung pasukan tentara dan paramiliter pro-Iran, kata dua sumber keamanan.
Ledakan tersebut menghantam pangkalan Calso, tempat mantan kelompok paramiliter pro-Iran Hashed al-Shaabi – yang sekarang diintegrasikan ke dalam tentara reguler – ditempatkan, menurut sumber kementerian dalam negeri dan seorang pejabat militer.
Pejabat kementerian dalam negeri mengatakan serangan itu menewaskan satu orang dan melukai delapan lainnya, sementara sumber militer melaporkan tiga personel militer Irak terluka.
Baca juga : Serangan Udara AS Tewaskan Komandan Pro-Iran di Baghdad
Dalam sebuah pernyataan, Hashed al-Shaabi membenarkan serangan itu menimbulkan kerugian materi dan korban jiwa, tanpa menyebutkan jumlah korban luka.
Menanggapi pertanyaan dari AFP, sumber tersebut tidak mau menyebutkan siapa yang bertanggung jawab atas serangan tersebut, atau mengatakan apakah serangan tersebut merupakan serangan pesawat tak berawak.
“Ledakan itu mengenai peralatan, senjata, dan kendaraan,” kata sumber kementerian tersebut.
Baca juga : AS Akui Tidak Beri Tahu Serangan Udara ke Wilayah Irak
Belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
“Itu adalah ledakan di gudang penyimpanan peralatan,” kata pejabat militer, yang berbicara tanpa mau disebutkan namanya karena sensitifnya isu tersebut. “Api masih berkobar dan pencarian korban luka terus berlanjut.”
Hashed al-Shaabi, sebuah aliansi kelompok bersenjata Syiah yang dibentuk untuk melawan kelompok ISIS, kini menjadi bagian dari pasukan keamanan Irak.
Serangan terhadap paramiliter pro-Iran terjadi di tengah meningkatnya ketegangan regional terkait perang antara Israel dan militan Palestina, Hamas, yang didukung Teheran.
Pada hari Jumat, serangan yang dituduhkan dilakukan oleh Israel menargetkan pangkalan militer dekat Isfahan di Iran.
IRAK menghentikan seluruh operasi di pelabuhan minyaknya setelah serangan kapal tanker di kawasan Teluk Arab. Insiden tersebut menambah ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah drone menghantam fasilitas milik Amerika Serikat di Baghdad, Selasa (10/3) di tengah konflik Irak dan Iran
Eskalasi pecah di Timur Tengah setelah IRGC Iran meluncurkan operasi rudal masif. Drone sasar fasilitas AS di Irak, sementara negara-negara Teluk siaga penuh.
Penurunan produksi di tiga negara pertama sekitar seperlima dari total produksi Januari mereka, dan di Irak mencapai 70%, menurut laporan tersebut.
Serangan drone kembali mengguncang Irak pada Jumat (6/3) waktu setempat. Sejumlah bandara dan fasilitas minyak menjadi sasaran.
Stasiun televisi Press TV Iran melaporkan pada Kamis (5/3) pagi bahwa militer menargetkan pasukan separatis anti-Iran itu, tanpa menyebutkan lokasi serangan tersebut.
WAKIL Menteri Warisan Budaya dan Pariwisata Iran, Ali Darabi, menyampaikan bahwa sekolah putri yang terdampak serangan di Minab akan dialihfungsikan menjadi tempat memorial bagi para korban.
PEMIMPIN tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, untuk pertama kalinya menyampaikan pesan kepada publik setelah ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Organisasi itu menambahkan bahwa seluruh awak kapal dilaporkan selamat dan sejauh ini tidak ada dampak lingkungan yang terdeteksi.
KORPS Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengumumkan peningkatan eskalasi militer besar-besaran dengan menyiapkan rudal berhulu ledak satu ton.
Garda Revolusi Iran (IRGC) bersumpah tidak akan berhenti menyerang pangkalan AS dan Israel sampai musuh dikalahkan total. Simak update situasi terbaru di sini.
Pemerintah tengah menyiapkan langkah antisipatif dengan mencari alternatif sumber impor minyak mentah selain dari kawasan Timur Tengah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved