Headline
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Bukan saat yang tepat menaikkan iuran JKN ketika kondisi ekonomi masyarakat masih hadapi tekanan.
Kumpulan Berita DPR RI
WAKTU tampaknya berjalan lima kali lebih lambat di alam semesta awal. Ini dikatakan para ilmuwan pada Senin (3/7). Ini untuk pertama kali mereka menggunakan objek kosmik luar biasa terang yang disebut quasar sebagai jam untuk mengonfirmasi fenomena aneh ini.
Teori relativitas Einstein memprediksi bahwa karena ruang angkasa mengembang, "Kita akan melihat alam semesta yang jauh berjalan dalam gerakan lambat," kata Geraint Lewis, ahli astrofisika di University of Sydney dan penulis utama studi baru.
Para peneliti sebelumnya menggunakan pengamatan bintang meledak yang sangat terang yang disebut supernova sebagai jam kosmik untuk menunjukkan bahwa waktu berjalan dua kali lebih lambat saat alam semesta setengah usianya saat ini.
Baca juga: Varian Gen terkait Multiple Sclerosis yang Parah Ditemukan
Studi baru menggunakan quasar yang lebih terang untuk mengintip lebih jauh ke dalam sejarah alam semesta berusia 13,8 miliar tahun. Lebih dari satu miliar tahun setelah Big Bang, waktu tampak mengalir lima kali lebih lambat, menurut penelitian di jurnal Nature Astronomy.
Sementara semua tampak seperti melambat dari sekarang, Lewis menekankan bahwa pengalaman waktu di tempat yang jauh ini tidak berbeda. "Jika saya secara ajaib dapat membawa Anda kembali ke 10 miliar tahun lalu dan menjatuhkan Anda di sebelah salah satu quasar ini, dan Anda memiliki stopwatch, waktu akan berjalan normal," katanya kepada AFP. "Satu detik akan menjadi satu detik."
Bertujuan mengukur fenomena ini, yang disebut pelebaran waktu kosmologis, Lewis dan ahli statistik Universitas Auckland, Brendon Brewer, menganalisis data dari 190 quasar yang dikumpulkan selama dua dekade. Quasar--lubang hitam supermasif di pusat galaksi yang jauh--dianggap sebagai objek paling terang dan paling kuat di alam semesta.
Baca juga: Para Astronom Buktikan Teori Einstein tentang Asal-usul Dengung di Alam Semesta
Ini menjadikan mereka suar yang berguna untuk memetakan alam semesta. Namun mereka terbukti lebih sulit untuk berubah menjadi jam kosmik daripada supernova yang memberikan satu kilatan yang andal.
Upaya sebelumnya untuk menggunakan quasar untuk mengukur pelebaran waktu telah gagal. Ini menyebabkan beberapa saran aneh, termasuk teori bahwa mungkin quasar tidak sejauh yang dipikirkan atau bahkan bahwa sesuatu yang mendasar telah rusak dalam kosmologi.
Namin penelitian baru, "Meletakkan semuanya kembali ke tempat yang tepat," kata Lewis. Itu juga menegaskan, "Einstein benar lagi," tambahnya.
Para peneliti berhasil ketika upaya lain gagal karena mereka memiliki lebih banyak data tentang quasar, menurut Lewis. Kemajuan terbaru dalam pemahaman statistik tentang keacakan juga membantu.
Untuk mengubah quasar menjadi jam dengan detak yang terukur, para peneliti harus memahami ledakan turbulen yang terjadi saat lubang hitam menelan material. Lewis membandingkannya dengan menonton pertunjukan kembang api. Kilatan besar tampak acak tetapi elemen yang berbeda mencerahkan dan memudar pada rentang waktu mereka sendiri.
"Yang kami lakukan ialah mengungkap tampilan kembang api ini. Hal itu menunjukkan bahwa quasar juga dapat digunakan sebagai penanda standar waktu untuk alam semesta awal." (Z-2)
Ruang lingkup kerja sama antara lain mencakup pelaksanaan penelitian bersama dalam bidang lingkungan hidup dan transisi energi serta program pemagangan bagi mahasiswa Teknik Lingkungan ITY.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Para ilmuwan dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, berhasil mendemonstrasikan bahwa kera besar memiliki kapasitas kognitif untuk "bermain pura-pura" (play pretend).
STUDI dari Spanyol melakukan sebuah penelitian untuk mencoba membantu diagnosis penyakit Alzheimer pada usia 50 tahun. Percobaan itu dilakukan dengan melakukan tes darah.
AHLI biologi dari Hebei University, Tiongkok, Ming Li bersama rekan-rekannya melakukan penelitian dan menemukan bahwa rambut bisa mendeteksi Parkinson
Stimulasi 40Hz setiap hari mampu menjaga fungsi kognitif pasien, bahkan menurunkan biomarker utama penyakit Alzheimer.
Reaksi emosional selama ini kerap dianggap persoalan selera pribadi, dipengaruhi oleh DNA masing-masing individu merespons karya seni.
Hasil diskusi menyebut pentingnya langkah-langkah konkret untuk menutup kesenjangan dalam pengelolaan risiko.
MENURUT studi baru, salah satu alat favorit Presiden Donald Trump telah merugikan warga Amerika Serikat. Sebagian besar tarif AS, sekitar 96%, dibayarkan oleh pembeli AS.
Temuan ini mengindikasikan bahwa varian gen tertentu yang cukup umum di masyarakat dapat meningkatkan kemungkinan seseorang terserang ME/CFS.
Sebuah studi menemukan pasangan suami istri bisa berbagai diagnosis gangguan mental yang sama.
Dari hasil studi terungkap sebanyak 93% responden memilih keamanan dan stabilitas keuangan sebagai prioritas hidup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved