Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Studi Unpad: 2026 Diproyeksikan Jadi Periode Krusial bagi Organisasi

Indrastuti
30/1/2026 19:52
Studi Unpad: 2026 Diproyeksikan Jadi Periode Krusial bagi Organisasi
Ilustrasi(Dok Istimewa)

TAHUN  2026 diproyeksikan menjadi periode yang krusial bagi organisasi di Indonesia. Ketidakpastian geopolitik, tekanan ekonomi global, serta percepatan disrupsi teknologi mendorong risiko menjadi faktor penentu dalam pengambilan keputusan strategis dan arah kepemimpinan organisasi.

Hal tersebut terungkap dalam studi Manajemen Risiko Bisnis Tahun 2026: Dinamika, Strategi dan Resiliensi Organisasi di Tengah Ketidakpastian, yang dirilis Veda Praxis bersama Digits Universitas Padjadjaran (Unpad).
Studi tersebut mengidentifikasi risiko-risiko strategis yang membentuk agenda manajemen lintas sektor sekaligus memetakan tingkat kesiapan organisasi di Indonesia dalam menghadapi lanskap risiko yang semakin kompleks dan saling terhubung.

“Masa depan organisasi, serta masa depan Indonesia, tidak ditentukan seberapa canggih teknologinya, tetapi ditentukan seberapa dewasa kita mengelola risiko, membangun tata kelola, serta menjaga kepercayaan,” ungkap CEO & Partner Veda Praxis Syahraki Syahrir, di Jakarta, Jumat (30/1/2026).

Syahraki melanjutkan hasil riset juga menunjukkan tekanan makroekonomi dan ketidakstabilan global kini menjadi risiko strategis utama dalam berbagai sektor.

Namun, kata dia, riset tersebut juga menyoroti tantangan internal yang masih signifikan. Sekitar 80% manajemen di Indonesia menilai manajemen risiko belum sepenuhnya terinternalisasi dalam budaya organisasi meski tingkat kesadaran terhadap risiko terus meningkat.

Ia mengatakan sebagai bagian dari diseminasi hasil riset, Veda Praxis bersama Digits menyelenggarakan webinar Future-Proofing Organizations: Risk Outlook 2026.

Webinar ini menghadirkan praktisi dan akademisi lintas disiplin, yaitu Syahraki Syahrir, Hamzah Ritchi (Direktur Digits Unpad, Research Partner Veda Praxis, dan Ketua Forum Dosen Sistem Informasi Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik), dan Anjar Priandoyo (Certification Research & Education Director ISACA Indonesia Chapter).

Selain itu, Anak Agung Gde (Ketua Program Studi Doktor Akuntansi Universitas Airlangga, Anggota Perwakilan Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Pendidik), Tiara Faradilla Pong (Assistant Consulting ManagerGRC Advisory and Business Continuity Management Expert Veda Praxis), serta Larasati Puspa Saskia Salmana (Tim Riset Digits Unpad, Dosen Universitas Padjadjaran).

Ketua Program Studi Doktor Akuntansi Universitas Airlangga Anak Agung Gde menjelaskan tantangan terbesar risiko strategis bukan terletak pada ketidakpastian itu sendiri, tetapi pada keterbatasan organisasi dalam menerjemahkan ketidakpastian menjadi keputusan strategis yang sadar risiko dan berorientasi jangka panjang.

Direktur Digits Unpad Hamzah Ritchi menyampaikan tantangan manajemen risiko ke depan bukan sekadar 'punya framework', tapi juga kematangan tata kelola dan integrasi antar lini.

"Diperlukan governance clarity untuk menegaskan siapa yang jadi risk owner, yang melakukan fungsi pengawasan, yang akan melakukan fungsi audit,” ungkap Hamzah.

Syahraki Syahrir menambahkan sejalan dengan temuan tersebut, diskusi webinar menekankan pentingnya langkah-langkah konkret untuk menutup kesenjangan dalam pengelolaan risiko.

Ia berharap melalui publikasi studi dan webinar itu, Veda Praxis dan Digits mendorong organisasi di Indonesia untuk melangkah maju dalam pengelolaan risiko, melampaui kepatuhan dan kesadaran risiko semata.
"Di tengah ketidakpastian yang kian menjadi norma, penguatan manajemen risiko sebagai bagian integral dari strategi, tata kelola, dan budaya organisasi dipandang sebagai fondasi utama membangun resiliensi serta menjaga daya saing jangka panjang," pungkas Syahraki. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya