Rabu 06 Juli 2022, 11:45 WIB

Kekuatan Politik Boris Johnson Semakin Lemah

Cahya Mulyana | Internasional
Kekuatan Politik Boris Johnson Semakin Lemah

AFP/DANIEL LEAL
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson

 

KEKUATAN politik Perdana Menteri Inggris Boris Johnson semakin lemah. Pasalnya publik hingga orang-orang terdekatnya sudah tidak mempercayainya seperti ditunjukkan Menteri Kesehatan Sajid Javid dan Menteri Keuangan Rishi Sunak yang mengundurkan diri.

"Bagi saya, mundur di saat dunia sedang mengalami konsekuensi ekonomi dari pandemi, perang di Ukraina dan berbagai tantangan lainnya, merupakan keputusan yang tidak mudah," tulis Sunak dalam akun Twitter-nya.

Meskipun sudah beranjak dari lingkaran kekuasaan, Sunak meminta publik tidak terpengaruh dengan keputusannya. Rakyat Inggris harus tetap mempercayai dan membantu pemerintah.

"Namun, publik mengharapkan pemerintah berjalan dengan baik, kompeten dan serius. Mungkin ini adalah pekerjaan menteri saya yang terakhir, tapi saya yakin standar seperti yang sudah saya sampaikan tadi layak diperjuangkan, dan itulah mengapa saya mengundurkan diri," terangnya.

Sementara Javid mengatakan publik Inggris sudah kehilangan kepercayaan terhadap Johnson. Begitu juga dengan dirinya walaupun sempat membantu Johnson membuat kebijakan tidak populer.

"Sayangnya, dalam situasi saat ini, publik menyimpulkan bahwa kami tidak seperti itu. Mosi tidak percaya bulan lalu memperlihatkan bahwa banyak dari kolega kami setuju akan hal tersebut," ungkap Javid.

Baca juga: Pelanggaran Lockdown oleh PM Boris Johnson Jadi Bumerang

Skandal terbaru yang menjerat Johnson adalah tuduhan dirinya tidak jujur mengenai seorang politikus yang ditunjuk menduduki posisi senior meski adanya klaim pelecehan seksual.

Johnson juga belum dapat menjelaskan alasan pengunduran diri Deputi Kepala Chris Pincher. Disinyalir, Pincher melecehkan dua pria di sebuah klub malam.

Beberapa menit sebelum pengunduran diri Javid dan Sunak, Johnson mengatakan kepada awak media Pincher seharusnya dipecat atas insiden yang terjadi pada 2019 tersebut.

"Saya rasa itu (memberikan kepercayaan kepada Pincher) sebuah kesalahan dan saya memohon maaf. Itu adalah sebuah hal yang keliru untuk dilakukan," pungkas Johnson.(France24/OL-5)

Baca Juga

AFP/MOHAMMED ABED

Israel Akhirnya Akui Membunuh 5 Anak Palestina yang Sedang Bermain

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 10:52 WIB
Saat terjadinya serangan, militer Israel sempat mengklaim kelima anak itu tewas akibat terkena roket milik Jihad...
arabnews.com

Rusia Evakuasi 3.000 Rakyatnya di Krimea, Ukraina Bergembira

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 09:44 WIB
Kementerian Pertahanan Rusia menyalahkan penyabotase atas ledakan di gudang militer di Krimea utara. Atas kejadian yang Moskow mengevakuasi...
AFP

Sekjen PBB, Erdogan dan Zelensky Kembali Bahas Pangan

👤Cahya Mulyana 🕔Rabu 17 Agustus 2022, 09:37 WIB
Ketiganya akan mengunjungi pelabuhan Laut Hitam Odesa. Fasilitas itu menjadi pintu ekspor biji-bijian di bawah kesepakatan yang ditengahi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya