Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Irak bertemu dengan penguasa de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, di kerajaan pada Minggu (26/6). Ini sebagai bagian dari upaya Baghdad untuk menengahi antara Riyadh dan Teheran.
Mustafa al-Kadhemi, yang menuju ke Arab Saudi pada Sabtu (25/6), diperkirakan akan mengunjungi Iran yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Riyadh sejak 2016.
Pangeran Mohammed dan Kadhemi membahas, "Hubungan bilateral dan peluang untuk kerja sama bersama," lapor kantor berita resmi Saudi Press Agency.
"Mereka bertukar pandangan tentang sejumlah masalah yang akan berkontribusi untuk mendukung dan memperkuat keamanan dan stabilitas regional," tambahnya.
Baca juga: Warisan nan Kaya Terkubur di Jalur Gaza yang Miskin
Irak selama setahun terakhir menjadi tuan rumah lima putaran pembicaraan antara dua rival regional itu. Sesi terakhir diadakan pada April.
Kadhemi mengatakan pada saat itu dia percaya bahwa rekonsiliasi sudah dekat antara Riyadh dan Teheran. Ini menjadi cerminan lebih lanjut dari pergeseran keberpihakan politik di seluruh wilayah.
Pada Sabtu, sumber kabinet Irak mengatakan bahwa perjalanan Kadhemi ke Arab Saudi dan Iran dalam konteks pembicaraan yang Riyadh dan Teheran baru-baru ini diadakan di Baghdad.
Sumber itu mengatakan pembicaraan itu mewakili peta jalan untuk memperbaiki hubungan dan kembali ke jalur yang benar untuk memperkuat hubungan bilateral antara Arab Saudi dan Iran. Kedua negara mendukung pihak-pihak yang bersaing di zona konflik dalam sekitar wilayah tersebut.
Baca juga: Ada Tanda-Tanda Kesepakatan Normalisasi Hubungan Israel-Saudi?
Muslim Suni Arab Saudi dan Iran yang mayoritas Syiah tidak memiliki hubungan diplomatik selama enam tahun. Ini terjadi sejak pengunjuk rasa Iran menyerang misi diplomatik Saudi di Iran setelah kerajaan itu mengeksekusi ulama Syiah Nimr al-Nimr.
Riyadh menanggapi dengan memutuskan hubungan dengan Teheran. Pada awal Maret, Pangeran Mohammed mengatakan negaranya dan Iran merupakan, "Tetangga selamanya. Lebih baik bagi kita berdua untuk menyelesaikannya dan mencari cara agar kita bisa hidup berdampingan."
Setelah kedatangannya di kerajaan, Kadhemi melakukan ziarah kecil, yang dikenal sebagai umrah, di kota suci Mekah, menurut gambar yang dirilis oleh kantornya. (AFP/OL-14)
PERTEMUAN antara Presiden Donald Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) pekan lalu berlangsung tegang.
ARAB Saudi dilaporkan mulai membangun gerai minuman beralkohol baru di Jeddah dan Dammam untuk melayani kelompok penduduk non-Muslim tertentu.
Jamuan makan malam kenegaraan di East Room Gedung Putih diwarnai momen tak terduga ketika MBS melontarkan candaan terkait taruhan online mengenai pakaiannya.
Menyambut Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden Donald Trump menyebut dirinya sebagai sahabat terbaik yang pernah dimiliki calon raja dan kerajaan.
Kasus pembunuhan Khashoggi menjadi isu besar di masa kepemimpinan pertama Trump dan memicu kecaman global.
PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump tengah mempererat pendekatannya terhadap Arab Saudi dan pemimpin de factonya, Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS).
Memang realisme politik Trump untuk menahan kemerosotan AS merupakan preseden yang mengancam tatanan internasional.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei mengakui ribuan orang tewas dalam aksi protes anti-pemerintah. Ia menuding campur tangan AS dan Donald Trump sebagai pemicu kekerasan.
Presiden Iran Pezeshkian mengeklaim AS & Israel adalah dalang kerusuhan.
Otoritas Iran mengeklaim telah menahan 3.000 orang. Di sisi lain, David Barnea (Mossad) bertemu utusan Donald Trump bahas serangan militer.
Situasi di berbagai kota besar Iran dilaporkan sunyi senyap menyusul tindakan keras mematikan dari otoritas keamanan setempat yang berhasil meredam gelombang protes besar.
Gelombang protes yang mengguncang Iran sejak akhir Desember mencatatkan rekor kelam sebagai kerusuhan paling mematikan dalam sejarah pemerintahan negara tersebut.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved