Selasa 03 Mei 2022, 10:04 WIB

100 Ribu Warga Mariupol Masih Terperangkap Konflik

Cahya Mulyana | Internasional
100 Ribu Warga Mariupol Masih Terperangkap Konflik

AFP/Ed JONES
Warga tiba di pos pemeriksaan pengungsi di Kota Zaporizhzhia, Ukraina setelah meninggalkan Mariupol.

 

UPAYA untuk mengevakuasi warga sipil dari Kota pelabuhan Mariupol, yang hancur di Ukraina, tertunda. Pasalnya, serdadu Rusia tidak mengizinkan evakuasi itu dengan melancarkan tembakan ke pihak yang berniat mengevakuasi 100 ribu warga Mariupol, khususnya di wilah Azovstal.

Seorang pejabat kota di Mariupol mengatakan, sebelumnya, pasukan Rusia pada Minggu (1/5), kembali menembaki pabrik baja Azovstal setelah konvoi bus evakuasi. Sontak 100 ribuan warga sipil masih terperangkap di Mariupol.

Pengepungan kota tersebut, sejak awal perang, telah menjebak warga sipil dengan akses yang langka ke makanan, air, obat-obatan, dan listrik. 

Baca juga: 100 Warga Ukraina di Azvostal Dievakuasi

Mereka masih berada di Mariupol, termasuk sekitar 2.000 pejuang Ukraina di bawah pabrik peninggalan era Uni Soviet itu.

Sekelompok pengungsi pertama dari Mariupol dijadwalkan tiba di Kota Zaporizhzhia yang dikuasai Ukraina, 230 km barat laut Mariupol, Senin (2/5). 

Namun, dewan kota mengatakan bus belum mencapai titik penjemputan yang disepakati, bertentangan dengan laporan sebelumnya bahwa mereka sudah pergi.

Dewan mendesak para pengungsi untuk tetap di tempat. Warga sipil yang dimaksud berasal dari kota itu sendiri, bukan dari pabrik baja Azovstal. 

Rekaman dari dalam pabrik baja menunjukkan anggota resimen Azov membantu warga sipil melewati puing-puing dan naik ke bus. Tapi ratusan tetap terjebak di dalam.

Seorang pengungsi ditemani oleh anak-anak kecil mengatakan para penyintas kehabisan makanan. 

“Anak-anak selalu ingin makan. Anda tahu, orang dewasa bisa menunggu,” katanya.

Evakuasi, jika berhasil, akan mewakili kemajuan langka dalam meringankan biaya manusia dari perang hampir 10 minggu, yang telah menyebabkan penderitaan khusus di Mariupol. 

Pasukan Rusia sekarang menguasai hampir semua kota Laut Azov, menghubungkan wilayah yang dikuasai Rusia ke barat dan timur.

Moskow, pekan lalu, mengatakan mereka telah memutuskan tidak menyerbu pabrik baja dan malah akan memblokadenya. Tapi pengeboman terus berlanjut.

“Kemarin, segera setelah bus meninggalkan Azovstal bersama para pengungsi, penembakan baru segera dimulai,” kata ajudan wali kota Mariupol Petro Andryushchenko kepada televisi Ukraina.

PBB dan Komite Palang Merah Internasional memulai operasi yang dikoordinasikan dengan Ukraina dan Rusia, Sabtu (30/4), untuk mengeluarkan perempuan, anak-anak, dan orang tua dari pabrik baja. 

Tentara Rusia mengatakan 126 orang telah meninggalkan Mariupol dalam konvoi yang aman Sabtu dan Minggu dari pabrik baja dan distrik lain menuju Donetsk yang dikuasai separatis.

Dari jumlah tersebut, 57 memilih untuk tinggal di daerah itu, sementara yang lain telah memutuskan untuk pergi ke bagian yang dikuasai Ukraina, katanya. 

Di masa lalu, para pejabat Ukraina menuduh pasukan Moskow secara paksa memindahkan warga sipil dari daerah yang mereka kuasai ke Rusia, Moskow mengatakan orang-orang ingin pergi ke Rusia.

Upaya sebelumnya untuk membuka koridor aman dari Mariupol dan tempat-tempat lain telah gagal. Orang-orang yang melarikan diri dari daerah yang diduduki Rusia di masa lalu mengatakan kendaraan mereka ditembaki, dan pejabat Ukraina telah berulang kali menuduh pasukan Rusia menembaki rute evakuasi yang disepakati - klaim yang dibantah oleh Moskow.

Seorang karyawan pabrik baja Azovstal yang menghabiskan berminggu-minggu di tempat itu tiba di Donetsk. Ia mengatakan tentang ketakutan yang dia alami di pabrik tersebut.

“Ketika peluru mulai mendarat di Azovstal, saya pikir jantung saya akan berhenti dan saya tidak akan bertahan,” kata Natalia Usmanova.

Anastasiia Dembytska memanfaatkan gencatan senjata singkat untuk meninggalkan Mariupol bersama putri, keponakan, dan anjingnya. Dia mengatakan kepada kantor berita The Associated Press bahwa dia bisa melihat pabrik baja dari jendelanya, ketika dia berani melihat keluar.

"Kami bisa melihat roket terbang dan awan asap di atas pabrik, katanya.

Dia mengatakan dia harus melewati banyak pos pemeriksaan dalam perjalanan ke Zaporizhzhia dan menunggu 18 jam di dekat kota sebelum diizinkan lewat. Seperti banyak penduduk Mariupol, Dembytska dan keluarganya bertahan hidup dengan memasak di atas kompor darurat dan minum air sumur di bawah pengeboman yang hampir terus-menerus.

“Saya takut, lalu saya terbiasa,” kata putrinya yang berusia 14 tahun, Vladyslava. (Aljazeera/OL-1)

Baca Juga

ANTARA/Galih Pradipta

Ramos Horta Perlu Reset Proses Politik Timor Leste

👤Palce Amalo 🕔Jumat 20 Mei 2022, 21:28 WIB
PRESIDEN Timor Leste Ramos Horta dinilai mampu mengakhiri rentetan krisis politik di negara itu yang terjadi sejak...
AFP/Yossi Zeliger.

Badan Keamanan Israel Ungkap Cara Agen Iran Pikat Warganya

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 20 Mei 2022, 21:03 WIB
Menurut Shin Bet, para agen Iran berusaha mengumpulkan informasi tentang orang Israel dan mungkin memikat mereka ke luar negeri dengan...
AFP.

Rabi Steven Burg: Normalisasi Hubungan Saudi-Israel cuma Masalah Waktu

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 20 Mei 2022, 20:50 WIB
Dia mengatakan bahwa menjadi Yahudi dan pro-Israel secara terbuka di kerajaan itu tidak menjadi masalah bagi kelompok...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya